JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Tokoh masyarakat tanah Papua mengapresiasi langkah Gubernur Papua Pegunungan Dr John Tabo, MBA mengeluarkan himbauan resmi kepada warga mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker pelindung menyusul kabut asap yang melanda wilayah tersebut, terutama kota Wamena dalam dua hari belakangan.
“Saya menyampaikan apresiasi atas himbauan tersebut. Namun, perlu tindakan nyata untuk mengantisipasi timbulnya kemungkinan terburuk dengan menyiagakan Rumah Sakit Umum Daerah Wamena dan Puskesmas di seluruh distrik untuk menangani kondisi darurat demi kesehatan masyarakat,” ujar Paskalis Kossay di Jayapura, Papua, Minggu (11/10).
Selain itu, langkah penting lainnya yaitu melakukan pembagian masker gratis kepada masyarakat, pengendalian operasi harga pasar agar tetap normal selama kabut asap masih pekat terutama di kota Wamena.
Kabupaten Jayawijaya terutama Kota Wamena lebih dari dua hari ini belakangan dilanda kabut asap pekat. Buntutnya, mengganggu warga menunaikan aktivitas perkantoran pemerintah bahkan warga masyarakat. Produktivitas warga kerja berpotensi menurun.
Parahnya, jalur penerbangan dari Jayapura, Papua menuju Wamena, Papua Pegunungan terhenti total akibat jarak pandang turun drastis mencapai satu kilometer.
Pasokan sembilan bahan pokok (sembako) dan alat bangunan yang selama ini mengandalkan jalur udara terputus. Kondisi mengenaskan tersebut berdampak perputaran harga barang di Wamena yang meningkat dan mempengaruhi kenaikan inflasi daerah.
Dampak lain yang lebih parah lagi adalah pencemaran polusi udara yang menyebabkan munculnya gangguan pada kesehatan warga terpapar penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, dan pneumonia.
Kabut asap yang menyelimuti Kota Wamena belakangan diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena mencatat jarak pandang di Wamena pada Jumat (9/10) menurun hingga 1 kilometer akibat kondisi tersebut.
Kepala BMKG Wamena Ricky Roger Holle menjelaskan, jarak pandang pada 7–8 Oktober 2026 masih berkisar 2–10 kilometer, kemudian menurun menjadi 1–5 kilometer pada 9 Oktober 2026. Penurunan jarak pandang ini perlu diwaspadai karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan keselamatan penerbangan.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pada 10 Oktober 2026, sebaran asap terdeteksi di Papua Selatan dan Papua Pegunungan, dengan indikasi pergerakan ke arah barat laut hingga timur laut.
Analisis tersebut diperkuat data titik panas pada Jumat (9/10) yang mencatat 1.399 titik panas di Papua Selatan, sedangkan tidak terdeteksi titik panas di Papua Pegunungan pada periode yang sama.
“Dari hasil analisis citra satelit, sebaran titik panas, dan penurunan jarak pandang, kabut asap yang mencapai Papua Pegunungan terindikasi merupakan asap kiriman dari Papua Selatan,” kata Ricky Roger Holle di Wamena, Jayawijaya, Sabtu (10/10).
BMKG juga memperkirakan sebaran asap berpotensi berdampak pada wilayah lain di Papua Pegunungan, termasuk Oksibil dan sekitarnya, bergantung pada pergerakan angin. Karena itu, pemantauan terhadap arah angin, sebaran asap, jarak pandang, dan kualitas udara perlu terus dilakukan.
“Pada kesempatan ini kami mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak kabut asap, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan,” ujar Ricky Roger Holle. (*)










