OPINI  

Berakar Dalam Budaya, Iman, dan Literasi Digital

Markus Haluk, Penulis dan Pegiat Literasi. Foto: Istimewa

Oleh Markus Haluk

Penulis dan Pegiat Literasi

PADA Jumat (9/10) Pengurus Ikatan Pelajar Mahasiswa Pemuda Katolik Dekenat Pegunungan Tengah (IPMPKDPT) melaksanakan acara Penerimaan Anggota Baru di Kapela Yesus Pilamo Angkasa, Jayapura, West Papua. Dalam rangkaian acara tersebut diadakah juga diskusi terkait literasi.

Dalam diskusi tersebut penulis diminta memberikan materi bertajuk Berakar Dalam Budaya, Bertumbuh Dalam Iman, Berdaya Melalui Literasi Digital, topik yang sangat penting di tengah kemajuan informasi dan teknologi yang serba modern bagi umat manusia, terutama generasi muda dan kelompok milenial.

Materi tersebut disusun sebagai pengembangan dari catatan penulis sebelumnya berjudul Pentingnya Literasi bagi Generasi Suku Hubula-Wamena demi Hari Ini dan di Masa Depan.

Fokusnya adalah menghubungkan tiga aspek penting yaitu akar budaya, pertumbuhan iman, dan literasi digital, dengan studi kasus nyata di tingkat mahasiswa serta tips dan trik menjaga konsistensi antara akademik dan organisasi.

Pertanyaan Penting

Pertanyaan penting yang perlu direnungkan dan dijawab bersama ialah mengapa literasi mesti berakar dalam budaya, bertumbuh dalam iman, dan berdaya dalam gerakan?

Mengawali tema ini, penulis mengutip pesan Angginak Sepi Wanimbo, salah seorang pengiat literasi di Papua. Kata Sepi, jika generasi muda tidak menempatkan diri di honai, mereka akan kehilangan jati diri sebagai anak asli Papua.

Dalam peradaban dan kehidupan turun-temurun orang Hubula, ada ungkapan, Wene Hesekewaga at kolik welagarek (Sabda hidup bersemi pada tiang hidup di honai).

Honai bagi orang Hubula bukan sekadar rumah. Honai adalah pusat pendidikan: tempat orang tua mengajarkan keterampilan hidup, sejarah marga, nilai moral, dan hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia dan manusia dengan sang Elalin Mage, Tuhan sang Sabda.

Di sana terjadi apa yang disebut “playing and explaining” belajar sambil menjelaskan, bernyanyi, bercerita, dan bekerja bersama. Nilai seperti wenekak umanen at egarek, itikmanen egarekdek, semangat musyawarah dan kebersamaan hidup di dalam honai.

Maka, literasi modern tidak boleh mencabut kita dari honai. Sebaliknya, semangat honai harus diperluas ke ruang digital. Inilah yang dilakukan komunitas seperti Honai Literasi: menjadikan honai sebagai pusat belajar membaca, menulis, berhitung, pendidikan karakter, dan teknologi.

Iman adalah kelanjutan dari akar budaya. Sejarah literasi di Papua tidak lepas dari peran Misi. Pada 25 Oktober 1925, misionaris dan pendeta asal Belanda Dominee Izaak Samuel Kijne (1899–1970) menulis di atas batu di Bukit Aitumieri, Teluk Wondama. Kata Kijne, “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua.” Batu itu menjadi simbol lahirnya generasi terpelajar Papua.

Seratus tahun kemudian, tantangannya berbeda. Kita hidup di era digital. Dosen Filsafat Unwira Kupang dan imam Keuskupan Agung Kupang Romo Patris Neonub, Pr atau akrab dengan sapaan Patris Alegro mengingatkan tiga ciri dunia digital: koneksi tanpa batas, kecepatan instan, dan panggung virtual.

Pastor Neonub mengajak kaum muda Katolik untuk semakin matang dalam iman, kritis dalam berpikir, dan bijaksana dalam menghadapi dunia digital. Hubungan ketiganya dapat digambarkan sederhana. Budaya sama seperti akar: menjawab “siapa saya” dan “dari mana saya berasal.”

Iman sama seperti batang: menjawab “untuk apa saya hidup?” dan “untuk siapa saya berjuang?” Begitu pula literasi digital ibarat daun dan buah: menjawab “bagaimana saya berkarya dan bersuara di zaman ini?”

Kegagalan dan Kesuksesan

Pengalaman umum menunjukkan, selama berada di bangku kuliah para mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk tanah Papua pernah mengalami kegagalan dalam studi. Sebagian juga sukses meraih gelar akademiknya.

Kadang mahasiswa yang gagal akibat terlalu aktif di organisasi intra maupun ekstra universiter namun kandas atau tumbang dalam kegiatan akademik. Seorang mahasiswa aktif di organisasi kemahasiswaan. Ia hampir setiap hari rapat, kegiatan, dan kumpul komunitas.

Saat memasuki semester ketiga, ia tidak sanggup lagi mengikuti proses perkuliahan. Tumpukan bacaan tidak selesai, tugas menumpuk, IPK turun hingga 1,8. Ia masuk daftar peringatan akademik.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam hal kegagalan mahasiswa bukan karena malas, tetapi karena tidak ada prioritas dan manajemen waktu. Literasi dasar yang lemah membuat mahasiswa bersangkutan semakin tertinggal ketika bacaan akademik menumpuk.

Dalam banyak hal kegagalan juga dilatari mahasiswa gagap dalam literasi digital dan nyaris dikeluarkan. Seorang mahasiswa dari pedalaman, anak pertama yang kuliah. Ia baru punya laptop dan smartphone.

Ia tidak tahu cara mencari jurnal, tidak bisa membedakan informasi valid dan hoaks, dan akhirnya copy-paste tulisan dari internet. Ia hampir dikeluarkan karena melakukan plagiarisme.

Pelajaran penting ialah literasi digital bukan sekadar “bisa pakai telepon genggam atau handphone”. Literasi digital adalah kemampuan menyaring, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

Dalam kasus berbeda, budaya kumpul tanpa tujuan yang produktif mendukung kuliah seorang mahasiswa selalu dominan. Banyak mahasiswa, termasuk mahasiswa Papua di perantauan terjebak pola “terbawa budaya daerah asal, suka berkumpul dengan teman sedaerah tanpa tujuan yang jelas.”

Waktu habis untuk nongkrong, sementara target akademik semakin kabur. Dari sini juga ada pelajaran penting dan berharga bahwa kolektivitas adalah kekuatan. Tetapi jika kolektivitas tidak diarahkan pada pertumbuhan, ia menjadi jebakan kenyamanan.

Keberhasilan

Keberhasilan juga selalu menjadi bagian tak terpisakan dari seseorang yang tengah menempuh studi di perguruan tinggi. Seseorang anak dari desa terpencil bisa meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,6 di akhir semester tertentu, misalnya.

Seorang mahasiswi dari Wamena, misalnya, masuk dengan kemampuan bahasa Inggris lemah dan komputer gagap. Ia punya dua kebiasaan. Pertama, belajar bareng senior seminggu tiga jam.

Kedua, mencatat penggunaan waktu harian dan memisahkan waktu belajar, organisasi, dan doa. Ia lulus dengan IPK 3,6 dan mendapat beasiswa. Kuncinya, komunitas belajar, kesadaran waktu, dan disiplin rohani.

Literasi digital juga terkait budaya. Seorang mahasiswa Hubula membuat blog dan podcast tentang budaya Papua. Ia mewawancarai para tetua, merekam cerita rakyat, dan membagikannya lewat media sosial.

Proyeknya mendapat penghargaan kampus dan bekerja sama dengan perpustakaan desa. Di sini, ada poin penting bahwa seorang mahasiswa bangga pada budaya, menguasai keterampilan digital, dan iman yang mendorong karya dan karsa.

Seorang mahasiswa yang notabene aktivis organisasi juga akan unggul. Seorang pengurus IPMPKDPT menjaga IPK di atas 3,5. Rahasianya sederhana: ia menjadikan organisasi sebagai wadah melatih diri dan saling belajar bersama rekan-rekan mahasiswa lain.

Sebagai penanggung jawab dokumentasi, ia belajar mendeley, google scholar, dan manajemen referensi. Ilmu itu ia pakai untuk tugas kuliah, lalu ia ajarkan ke junior. Kuncinya, ia mentransfer keterampilan, semangat melayani, dan penggunaan alat yang tepat.

Prinsip dan Tips Organisasi

Hemat penulis, prinsip yang mesti dipahami sebagai berikut. Pertama, akar menentukan arah, cabang mencapai tujuan. Budaya dan iman menentukan mengapa kita belajar. Literasi digital dan teknik belajar menentukan bagaimana kita mencapai tujuan.

Dalam praksis bisa dilakukan dengan menyisihkan 30 menit seminggu untuk berdiskusi dengan tetua atau tokoh komunitas tentang satu nilai tradisi dan kaitannya dengan pengetahuan modern. Tulis tujuan belajar. Tanyakan, misalnya, apakah tujuan ini melayani misi saya sebagai orang Hubula dan Katolik.

Kedua, ubah kolektivitas menjadi kekuatan belajar praktik. Dalam pertemuan IPMPKDPT, sisihkan 30 menit untuk bedah buku atau berbagi catatan. Bentuk kelompok belajar 2–4 orang, fokus pada satu kesulitan akademik per minggu. Jadikan pekerjaan organisasi sebagai tempat belajar: urus acara → belajar manajemen proyek; urus publikasi → belajar desain dan media sosial.

Ketiga, iman sebagai filter ruang digital. Praktik sederhananya, gunakan tiga pertanyaan untuk setiap informasi: (i) apakah sumbernya terpercaya?; (ii) apakah sesuai nilai iman? dan (iii) apakah membangun komunitas?

Ikuti dan sebarkan konten iman yang mencerahkan. Lakukan digital fasting: setengah hari dalam seminggu tanpa media sosial, untuk doa, baca buku, atau bicara dengan keluarga.

Keempat, time blocking praktik. Bagi hari menjadi blok: belajar mendalam (2–3 jam, handphone dinonaktifkan, silent), organisasi (1–2 jam), rohani dan istirahat (minimal 1 jam).

Aturan: saat belajar, jangan urus organisasi; saat organisasi, jangan scroll medsos. Buat daftar tugas malam untuk besok. Manfaatkan waktu sela: 15 menit sebelum kelas untuk mengulang catatan; saat antre untuk membalas email organisasi.

Kelima, cari teman seperjalanan. Cari satu partner belajar yang bisa diajak saling memeriksa progres. Hubungan harus “bertumbuh bersama”, bukan sekadar menghabiskan waktu. Jika tidak ada, carilah senior atau mentor untuk bimbingan rutin.

Keenam. kuasai empat keterampilan literasi digital dasar. Pencarian literatur akademik: google scholar, Perpustakaan Nasional, DOAJ, ResearchGate. Manajemen referensi: mendeley atau zotero. Keamanan informasi: lindungi email dan nomor HP, waspada phishing, gunakan periksa data. Kreasi konten: canva, editing video sederhana, podcast untuk organisasi dan pelestarian budaya.

Tumbuhkan Harapan

Bagi para mahasiswa yang terhimpun dalam wadah IPMPKDPT Dekanat Pegunungan Tengah, penulis mengajak kita semua menumbuhkan dan menggerakkkan terus semangat dan harapan, asa melalui buku dan ilmu pengetahuan.

Penulis juga menyampaikan kepada para junior dan senior wadah ini, mulai dari Jayapura, kita tumbuhkan asa melalui buku, ilmu pengetahuan, dan alat-alat digital —tetapi kaki tetap berpijak di tanah leluhur, dan hati tetap menyala dalam iman Katolik.

Rekomendasi aksi dalam honai digital yaitu setiap semester, adakan lokakarya yang menggabungkan pembelajaran budaya dan keterampilan digital. Misalnya, membuat podcast wawancara tetua adat, menulis cerita rakyat di blog.

Bahkan membuat konten media sosial tentang kegiatan orang muda Katolik (OMK). Data anggota berdasarkan jurusan, angkatan, dan keterampilan dan gunakan sebagai arsip akademik untuk piring belajar.

Kelompok manajemen waktu: senior mendampingi junior. Misalnya, sebulan sekali merefleksikan keseimbangan akademik dan organisasi. Integrasi rohani dan belajar: dalam setiap pertemuan, sisihkan 15 menit untuk menghubungkan Injil atau renungan dengan satu tantangan belajar.