OPINI  

Jejak sang Penginjil, Kisah Pelayanan Pendeta Meniak Lambe

Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, Putra Guru dan Penginjil di Lapago. Foto: Istimewa

Oleh Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA

Putra Guru dan Penginjil di Lapago

ADA masa ketika Distrik Soba, Ninia, Haluwon, Lolat, dan Kwikma di Yahukimo, Papua Pegunungan, belum seperti yang kita kenal sekarang. Jalan belum terbuka. Kendaraan belum menjangkau banyak tempat.

Perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain harus ditempuh dengan berjalan kaki, melewati gunung, lembah, sungai, hutan, hujan, dingin, dan berbagai keterbatasan. Ia bertaruh tenaga dan waktu demi jemaat.

Pada masa seperti itulah seorang hamba Tuhan datang membawa Injil di wilayah Toli yang belakangan menjadi Kabupaten Tolikara. Namanya Pendeta Meniak Lambe. Ia bukan datang membawa kekayaan. Ia juga tidak datang mencari jabatan atau penghormatan.

Pendeta Meniak Lambe berjalan dari kampung ke kampung membawa satu berita: Injil Yesus Kristus. Soba ia datangi. Ninia ia layani. Haluwon ia injak dengan kakinya. Lolat ia jangkau. Kwikma pun menjadi bagian dari perjalanan pelayanannya.

Di tempat-tempat itu ia memberitakan Firman Tuhan, berdoa bersama masyarakat, membimbing orang mengenal Kristus, dan menanam benih iman dalam kehidupan generasi yang ditemuinya.

Tahun demi tahun berlalu. Anak-anak rohani yang dahulu dibimbing tumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan. Generasi baru lahir. Pendidikan berkembang. Gereja bertumbuh.

Dari daerah-daerah yang dahulu dijangkau melalui perjalanan kaki itu kemudian lahir orang-orang yang mengambil tanggung jawab besar dalam gereja, masyarakat, dan pemerintahan.

Ada yang menjadi tokoh masyarakat. Ada yang menjadi pemimpin gereja. Ada yang menjadi anggota DPR. Ada yang menjadi Bupati. Bahkan ada yang kemudian dipercaya menjadi Gubernur.

Alasan Bersyukur

Ketika melihat semua itu, seorang penginjil tua tentu mempunyai alasan untuk bersyukur. Bukan karena semua keberhasilan tersebut menjadi miliknya, melainkan karena ia dapat menyaksikan sendiri bagaimana Tuhan menumbuhkan benih yang dahulu ditanam melalui pelayanan Injil.

Pendeta Meniak Lambe masih hidup dan masih berada di tengah anak-anak rohaninya. Dalam usia dan perjalanan pelayanan yang panjang, hamba Tuhan ini masih dipercaya menjalankan tanggung jawab sebagai penasihat Klasis Kanggi.

Dalam gaya tutur seorang bapak kepada anak-anaknya, ia menitip pesan sebagai berikut. “Anak, kamu harus tahu e…. Soba, Ninia, Haluwon, Lolat dan Kwikma —tempat-tempat itu Bapa sudah jalan kaki masuk. Bapa sudah injak kaki di sana dan melayani Tuhan di sana.”

Ia melanjutkan, “dulu Bapa datang membawa Injil. Bapa melayani dan menanam Firman Tuhan. Dari pelayanan itu lahir anak-anak rohani. Sekarang Bapa masih hidup dan Bapa melihat sendiri buahnya.”

Ia menambahjutkan, “anak-anak yang dahulu lahir dan bertumbuh dari pelayanan Injil itu, sekarang ada yang menjadi Bupati, ada yang menjadi Gubernur, ada yang menjadi anggota DPR, dan ada yang menjadi pemimpin di berbagai tempat. ”Pendeta Meniak Lambe mengatakan, ”jadi kamu anak-anak harus tahu e. Jangan lupa dari mana kita mulai. Jangan lupa orang-orang yang dahulu berjalan membawa Injil. Jangan lupa perjuangan orang tua dan hamba-hamba Tuhan yang membuka jalan pelayanan.”

Katanya, “apa yang Bapa tanam dahulu, Tuhan yang kasih bertumbuh. Sekarang Bapa masih hidup. Bapa masih ada bersama kamu. Bapa juga masih dipercaya menjadi Penasihat Klasis Kanggi. Karena itu, selama Bapa masih ada, dengar baik-baik pesan Bapa: jaga Injil, jaga gereja, jaga persatuan, dan lanjutkan pelayanan ini kepada generasi berikutnya.”

Ia menambahkan, “kamu boleh menjadi Bupati. Kamu boleh menjadi Gubernur. Kamu boleh menjadi anggota DPR dan menjadi orang besar. Tetapi jangan pernah lupa Tuhan, jangan lupa Injil, dan jangan lupa tempat dari mana Tuhan membesarkan kamu.”

Injil, Keteladanan, dan Jejak Pelayanan

Inilah suara seorang penginjil perintis. Seorang hamba Tuhan mungkin tidak memiliki gedung yang besar untuk diwariskan. Ia mungkin tidak meninggalkan kekayaan kepada anak-anak rohaninya. Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang nilainya jauh melampaui semuanya: iman, Injil, keteladanan, dan jejak pelayanan.

Kaki yang dahulu berjalan melewati gunung dan lembah mungkin kini tidak lagi sekuat dahulu. Namun jejak kaki itu tidak hilang. Jejak itu hidup dalam gereja-gereja yang bertumbuh. Jejak itu hidup dalam keluarga-keluarga yang mengenal Tuhan.

Jejak itu hidup dalam anak-anak yang memperoleh pendidikan. Jejak itu juga hidup dalam generasi yang sekarang dipercaya menjadi pemimpin masyarakat, gereja, daerah, bahkan memegang tanggung jawab pemerintahan yang besar.

Karena sesungguhnya keberhasilan seorang penginjil tidak hanya terlihat dari berapa banyak tempat yang pernah ia datangi, tetapi dari berapa banyak kehidupan yang berubah dan berapa banyak generasi yang kemudian meneruskan terang yang pernah ia bawa.

Soba, Ninia, Haluwon, Lolat, dan Kwikma bukan sekadar nama tempat dalam perjalanan seorang hamba Tuhan bernama Pendeta Meniak Lambe. Tempat-tempat itu menjadi saksi bahwa pernah ada seorang hamba Tuhan yang berjalan, berdoa, berkhotbah, melayani, dan menanam.

Hari ini kita melihat buahnya. Karena itu, kepada generasi yang sekarang telah menjadi orang-orang besar, pesan seorang bapak rohani tetap relevan: Jangan hanya bangga pada jabatan yang telah dicapai. Ingatlah juga kaki-kaki yang dahulu berjalan membuka jalan sehingga generasi hari ini dapat berdiri lebih tinggi.

Hormatilah para perintis. Jagalah iman. Peliharalah persatuan. Layani masyarakat. Dan teruskan Injil kepada generasi berikutnya. Sebab apa yang ditanam dengan air mata dalam pelayanan, dapat Tuhan tumbuhkan menjadi berkat bagi banyak generasi. “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.” (1 Korintus 3:6).

Kaki Pendeta Meniak Lambe, penginjil perintis pernah berjalan jauh membawa Injil. Hari ini, matanya masih diberi kesempatan melihat sebagian dari buah pelayanan itu. Penginjil boleh menua, tetapi benih Injil yang ditanamnya terus bertumbuh dari generasi ke generasi.