OPINI  

Meresapi Spiritualitas Fransiskus Asisi

Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, Imam Diosesan Keuskupan Jayapura dan alumnus Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol. Foto: Istimewa

Oleh Yance Dou

Imam Diosesan Keuskupan Jayapura

DI BAWAH naungan Sabda yang menjelma, langkah-langkah telanjang menyusuri lorong zaman. Tiada bekal emas, perak, maupun tembaga terselip di balik ikat pinggang yang usang; hanya ada hati yang pasrah penuh dan kepasrahan yang utuh.

Engkau diutus bukan untuk menimbun harta dunia, melainkan membawa kabar Kerajaan Surga yang telah amat dekat di ambang jiwa. Menyembuhkan yang terluka, membangkitkan harapan yang mati, serta menahirkan yang kusta.

Sebab apa yang telah engkau terima dengan cuma-cuma dari Kasih Ilahi, hendaklah engkau bagikan pula dengan cuma-cuma tanpa mengharap imbalan. Tidak perlu dua helai baju, tidak perlu kasut atau tongkat penyangga; karena ruang penerimaan akan terbuka bagi siapa yang membawa damai.

Ketika kaki melangkah memasuki batas kota atau sunyinya desa, hendaklah salam kedamaian mendahului setiap sapaan.Jika damai itu disambut, ia akan hinggap dan bersemi di atas rumah itu; namun jika ditolak, salam itu takkan hilang, melainkan kembali menjadi keheningan yang memeluk jiwamu sendiri.

Hakikat Ekaristi dan Persekutuan

Di dalam ruang perayaan yang kudus, Ekaristi bukanlah ajang pameran kesibukan lahiriah atau kemewahan rohani. Fransiskus mengajarkan kerendahan di hadapan Altar Kasih: cukup satu Misa yang dirayakan bersama dengan penuh khidmat.

Jiwa yang haus tidak perlu menyibukkan diri dalam keramaian ritual yang berlebihan, sebab fokus sejati hanyalah pada perhatian kasih yang tulus.

Tuhan Yesus Kristus memenuhi setiap hati yang layak bagi-Nya, baik mereka yang hadir di sekeliling altar maupun mereka yang terhalang dan berada jauh. Persekutuan insani yang sejati lahir ketika manusia melepaskan keinginan untuk mendominasi, meruntuhkan keakuan, dan melebur dalam kebersamaan persaudaraan. Di dalam ketenangan Ekaristi, tiada ruang bagi persaingan, hanya ada ruang bagi kepenuhan yang hadir dari segenap isi bumi.

Kemiskinan Sejati dan Kerendahan Hati

Meyakini kemiskinan bukan sekadar tidak memiliki harta material, melainkan pengosongan diri dari keangkuhan jiwa. Sebab apalah artinya memiliki kefanaan dunia ini, jika pada akhirnya hari dan saat yang tak terduga akan tiba menjemput kehidupan?

Tidak ada satu pun hal baik dari diri kita yang pantas dimegahkan, sebab segala kebaikan, perkataan, dan perbuatan indah adalah milik Allah yang dikerjakan melalui kita. Hendaklah saudara-saudara tidak bermegah diri, tidak berpuas diri, dan tidak meninggikan batin.

Satu-satunya hal yang benar-benar milik kita hanyalah cacat-cela dan dosa-dosa kita sendiri. Dengan mengikuti kerendahan dan kemiskinan Tuhan kita Yesus Kristus, cukuplah bagi kita makanan dan pakaian untuk menopang peziarahan ini. Melangkah tanpa beban kepekaan kepemilikan adalah kemerdekaan jiwa yang paling murni.

Kontemplasi Dalam Dunia dan Ketaatan Gereja

Di tempat pertapaan yang sunyi, kehidupan bakti dijalankan seperti tarian antara Marta dan Maria. Ada yang berperan menjaga rumah jiwa sebagai “ibu” yang mengayomi, dan ada yang duduk hening sebagai “anak” yang mendengarkan Sabda.

Dalam bilik-bilik kecil tempat berdoa dan tidur, keheningan dirawat dengan setia. Saat matahari terbenam hingga fajar menyingsing, doa-doa ibadat harian membumbung tinggi melintasi kegelapan, mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya di atas segala hal.

Namun, kontemplasi sejati tidak pernah memisahkan jiwa dari Tubuh Mistik-Nya. Dalam ketaatan yang tanpa kompromi, Fransiskus memeluk Gereja dengan kerendahan hati yang teguh.

Menghormati para pelayan Tuhan, menundukkan diri pada tata cara dan ajaran Katolik, serta menjaga persaudaraan agar tidak menyimpang.

Sebab pengalaman akan Allah, Kristus, Ekaristi, dan Gereja adalah satu jalinan utuh yang tak terpisahkan —sebuah kesaksian nyata bahwa engkau, wahai kerendahan, adalah jalan menuju Cinta Yang Sejati.

Ingatlah, wahai jiwa, betapa agung kedudukan yang telah dikurniakan Allah kepadamu. Engkau diciptakan dan dibentuk menyerupai Putra-Nya yang terkasih menurut badan serta selaras dengan keserupaannya menurut roh.

Namun, betapa seringnya kita lupa bahwa segala ciptaan di bawah kolong langit ini begitu setia taat pada kodratnya dan memuliakan Sang Pencipta. Janganlah kita menyombongkan kepandaian, hikmat, atau luasnya pengetahuan yang kita miliki; sebab kebanggaan sejati seorang manusia bukanlah terletak pada kehebatannya, melainkan pada kerendahan hatinya di hadapan Allah.

Melalui perenungan akan Kisah Sengsara, kita diajak menyelami betapa dekatnya Allah dalam setiap pergumulan dan penderitaan hidup kita. Santo Fransiskus mengajar kita untuk senantiasa menyapa-Nya sebagai “Bapa yang Kudus”—sebuah ungkapan yang menyatukan rasa keagungan dan keakraban.

Dalam setiap langkah kehidupan, baik dalam suka maupun duka, penderitaan yang kita tanggung bersama Kristus menjadi jalan penyucian dan pembebasan. Mari kita bersama-sama mempersembahkan puji-pujian dan rasa syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, Tritunggal yang Maha Kudus, Pencipta alam semesta.

Panggilan hidup kita yang utama adalah melakukan pertobatan yang nyata setiap hari, menghasilkan buah-buah kasih dan kebaikan selama waktu yang dipercayakan kepada kita di dunia ini masih ada.

Keheningan Hati

Di hadapan Allah Yang Maha Tinggi dan Penuh Kemuliaan, dengan rendah hati kita memohon: “Terangilah kegelapan hati kami, berilah kami iman yang benar, pengharapan yang teguh, serta kasih yang sempurna”.

Semoga Dia menganugerahkan kepekaan perasaan dan budi yang cerah, agar kita dimampukan untuk senantiasa melangkah dalam kehendak-Nya yang kudus dan tidak pernah menyesatkan.

Bertobat melalui Perjumpaan dengan yang Lemah dan Terpinggirkan. Pertobatan sejati bermula ketika kita berani keluar dari kenyamanan diri dan menyapa mereka yang menderita atau terasingkan.

Sesuatu yang dahulu terasa pahit dan memuakkan, ketika disentuh dengan kasih Allah, berubah menjadi kemanisan yang menyejukkan jiwa dan badan. Dalam setiap ruang gerak hidup, mari kita memandang orang lain —bahkan yang paling lemah sekalipun— dengan rasa hormat, pengampunan, dan cinta yang tulus sebagai saudara di dalam Kristus.