Oleh Agustinus Gereda Tukan
Dosen dan Peneliti; Tinggal di Merauke, Papua Selatan
PUNCAK musim kemarau di Papua Selatan kini menjadi alarm darurat seiring lonjakan ribuan titik panas (hotspot) di Kabupaten Merauke. Diperparah angin kencang dan cuaca ekstrem, sabana serta hutan di tanah Anim Ha berada dalam kerentanan tinggi terhadap kebakaran lahan. Dampaknya pun langsung menghantam ruang hidup warga: dari ancaman ekosistem hingga krisis kemanusiaan berupa air sumur yang menyusut drastis. Kondisi ini kian mengkhawatirkan karena prediksi kemarau panjang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2027.
Situasi kritis ini menuntut kesadaran kolektif kita sebagai penjaga tanah leluhur untuk menghentikan kebiasaan membakar lahan tanpa tanggung jawab. Ketika alam mulai kehabisan napas dan air sumur mengering, bumi Papua Selatan sedang memanggil kepedulian kita. Merawat lingkungan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan panggilan moral yang mendesak demi menyelamatkan masa depan kehidupan di “rumah bersama” ini.
Krisis Lingkungan dan Tanggung Jawab Manusia
Di balik lonjakan titik panas yang kian mengkhawatirkan, akar persoalannya kerap kali kembali pada kebiasaan lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan: membuka lahan atau membersihkan pekarangan dengan cara membakar tanpa kendali. Praktik instan ini sering kali dilepas begitu saja tanpa pengawasan yang memadai, padahal di tengah tiupan angin kemarau yang kering, satu percikan kecil api dapat dengan mudah berubah menjadi bencana besar yang melahap hektaran lahan dan mengancam keanekaragaman hayati kita.
Situasi ini membuktikan bahwa alam kita memiliki batas daya dukung (carrying capacity) yang tidak boleh terus-menerus dieksploitasi secara sewenang-wenang. Ketika tanah dipaksa menanggung beban akibat pembakaran liar dan pemanasan global, ekosistem di sekitar kita mulai ambruk—mulai dari rusaknya habitat flora-fauna hingga hilangnya sumber-sumber air vital. Ramalan cuaca yang memperpanjang masa kemarau hingga Februari 2027 seharusnya menjadi alarm keras bagi kita untuk menghentikan cara-cara lama yang merusak lingkungan.
Bumi Papua Selatan sedang memberi tahu kita bahwa memperlakukan alam secara sembarangan sama saja dengan menggali lubang bagi kelangsungan hidup anak cucu kita sendiri. Tanggung jawab moral kini ada di tangan kita untuk mengubah cara pandang: bahwa tanah, hutan, dan air bukan sekadar komoditas untuk dieksploitasi, melainkan titipan suci yang menuntut kepedulian nyata, disiplin diri, dan tindakan bijak dalam setiap jengkal pemanfaatan ruang hidup.
Perspektif Laudato Si’: Seruan Merawat Rumah Bersama
Di tengah kepungan asap, keringnya sumur-sumur warga, dan ancaman kemarau panjang, ensiklik Laudato Si’ (2015) yang digagas oleh Paus Fransiskus hadir sebagai oase refleksi yang sangat relevan bagi kita di Papua Selatan. Dalam dokumen pencerahan ini, Paus memperkenalkan konsep ‘ekologi integral’—sebuah pandangan mendalam bahwa segala sesuatu di bumi ini saling terhubung secara utuh. Masalah alam tidak berdiri sendiri, melainkan berkelindan erat dengan tatanan sosial, budaya, dan kehidupan manusia.
Melalui kacamata ekologi integral, kerusakan lingkungan dan krisis sosial adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Ketika hutan dibakar dan sumber air disedot habis tanpa kendali, yang menderita bukan hanya tanah atau pepohonan, melainkan juga masa depan anak-anak kita, kesehatan warga, dan ketahanan hidup masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya langsung pada alam. Merusak alam berarti merusak fondasi kehidupan sosial yang menopang eksistensi kita bersama di bumi Anim Ha.
Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi ini adalah “rumah bersama” (common home) yang bukan milik mutlak generasi hari ini, melainkan sebuah titipan suci untuk dirawat demi generasi kini dan masa depan. Karena itu, tindakan membakar lahan demi keuntungan sesaat, atau mengabaikan dampak ekologis demi kepentingan jangka pendek, pada hakikatnya adalah bentuk pengabaian yang kejam terhadap sesama manusia, terutama mereka yang paling rentan dan miskin di pelosok-pelosok kampung.
Panggilan Laudato Si’ ini menantang nurani kita untuk melakukan pertobatan ekologis. Merawat bumi Papua Selatan bukan sekadar program pelestarian lingkungan yang kaku, melainkan wujud nyata cinta kasih, keadilan antargenerasi, dan tanggung jawab moral kita sebagai manusia yang mendiami satu rumah ciptaan yang sama.
Langkah Edukatif dan Aksi Nyata Warga Merauke
Menghadapi ancaman kemarau panjang itu, refleksi teologis harus segera diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis di tingkat akar rumput. Masyarakat Merauke diajak untuk secara tegas menghentikan kebiasaan membersihkan pekarangan atau membuka kebun dengan cara membakar sembarangan. Di saat yang sama, krisis air sumur yang mulai melanda menuntut kita untuk cerdas beradaptasi: mulai dari membiasakan diri menghemat penggunaan air bersih hingga membangun instalasi sederhana untuk memanen air hujan sebagai cadangan di musim kering.
Upaya mitigasi ini tentu tidak akan berjalan optimal tanpa menghidupkan kembali kearifan lokal serta memperkuat solidaritas komunitas. Tradisi leluhur orang Marind dan masyarakat adat di Papua Selatan yang sejak dulu menjunjung tinggi harmoni dengan alam mengajarkan kita bahwa tanah dan hutan memiliki “hak” untuk dijaga, bukan dieksploitasi secara membabi buta. Melalui pengawasan warga yang aktif di tingkat kampung (seperti membentuk kelompok siaga api swadaya atau saling mengingatkan antarwarga) potensi perluasan titik panas dapat dicegah sejak dini.
Namun, perlindungan bumi Anim Ha ini adalah kerja bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas pihak secara nyata. Pemerintah daerah, aparat keamanan, para tokoh adat, pemuka agama, hingga kaum muda harus duduk bersama merajut sinergi, bukan sekadar memadamkan api saat bencana datang, tetapi konsisten mengedukasi warga. Merawat Merauke dari ancaman krisis ekologis adalah tanggung jawab kolektif kita hari ini, demi memastikan anak cucu kita esok hari masih bisa menghirup udara segar dan menikmati air bersih di tanah leluhur mereka.
Pada akhirnya, menjaga hutan, lahan, dan sumber air di Merauke bukanlah sekadar urusan teknis menghadapi musim kemarau, melainkan wujud nyata cinta kasih yang tulus kepada tanah leluhur dan sesama. Setiap jengkal tanah Anim Ha yang kita selamatkan dari jilatan api dan setiap tetes air yang kita hemat adalah bentuk penghormatan kita pada kehidupan.
Kesadaran ekologis yang agung ini tidak perlu dimulai dari hal-hal yang rumit atau menunggu kebijakan besar dari jauh. Ia harus dimulai dari rumah kita masing-masing: dari pekarangan kecil yang dibersihkan tanpa api, dari keran air yang ditutup dengan bijak, serta dari kepedulian untuk saling mengingatkan antartetangga demi merawat masa depan Papua Selatan tetap hijau dan lestari.










