Oleh Simon Tabuni
Mahasiswa Program Doktor Uppsala University, Swedia
SELAMA tiga bulan mengikuti kelas teacher training di Uppsala University, Swedia ada pengalaman reflektif penulis sebagai mahasiswa. Pengajar memainkan peran penting dalam dunia pendidikan, terutama dalam mempersiapkan generasi yang akan menentukan masa depan bangsa.
Di Indonesia, pengajar (guru) bahkan kerap dilabeli sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, pelita dalam kegelapan, penyejuk dalam kehausan sekaligus teladan dalam membangun moralitas dan intelektualitas.
Namun, dunia berubah. Cara manusia memperoleh pengetahuan juga berubah. Sebelum internet berkembang seperti sekarang, pengajar merupakan salah satu sumber utama pengetahuan bagi siswa. Proses pembelajaran cenderung berlangsung satu arah.
Guru menyampaikan materi melalui ceramah, dikte, atau tulisan di papan tulis, sementara siswa mendengarkan, mencatat, dan menghafalnya. Penilaian pun lebih banyak digunakan untuk mengukur seberapa banyak materi yang dapat diingat siswa bukan seberapa banyak yang dipahami.
Terkait hal demikian, penulis tidak mengatakan bahwa sistem tersebut buruk. Sistem itu merupakan bagian dari kebutuhan dan konteks zamannya. Persoalannya adalah apakah pendekatan yang sama masih cukup untuk menjawab kebutuhan pendidikan hari ini?
Kita hidup di era internet dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Pengetahuan tidak lagi hanya berada di ruang kelas atau di tangan seorang pengajar.
Karena itu, tantangan pendidikan saat ini bukan pula sekadar bagaimana menyampaikan sebanyak mungkin informasi kepada siswa, tetapi bagaimana membantu mereka memahami informasi, berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan secara tepat.
Dengan kata lain, pengajar perlu mencari pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan zaman sekaligus dengan kebutuhan dan kondisi sosial peserta didik.
Perkembangan teknologi dan media sosial turut mengubah cara siswa berinteraksi dengan informasi. Mereka terbiasa menerima informasi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang sangat cepat. Kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi proses pembelajaran di kelas.
Di sisi lain, dunia sosial dan dunia kerja juga semakin menuntut kemampuan untuk berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Jadi cara mengajar meski disesuaikan dengan kondisi siswa menerima dan menyerap informasi yang disampaikan pengajar.
Pertanyaannya kemudian ialah bagaimana menciptakan aktivitas belajar yang membuat siswa tetap terlibat sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi masa depan?
Dalam teacher training yang saya ikuti selama tiga bulan di Uppsala University, Swedia, penulis diperkenalkan pada sejumlah pendekatan yang dapat digunakan untuk membuat pembelajaran lebih efektif seperti ‘4 C’s of Effective Classroom Teaching’ oleh Kathryn A Sutherland.
Salah satunya adalah pembelajaran yang menempatkan siswa bukan sekadar sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai bagian aktif dari proses pembelajaran. Ada beberapa hal penting yang menurut penulis relevan untuk diterapkan dalam konteks pendidikan saat ini.
Membangun Koneksi dengan Siswa
Pembelajaran yang efektif dimulai dari hubungan antara pengajar dan siswa. Pengajar perlu memberikan perhatian kepada siswa dan menciptakan ruang kelas yang inklusif.
Ketika siswa merasa didengarkan, dihargai, dan diterima keberadaannya, akan tumbuh rasa percaya. Dari rasa percaya tersebut, siswa lebih mungkin mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.
Ini mungkin terlihat sederhana. Namun, kelas bukan hanya tempat untuk menyampaikan materi. Kelas juga merupakan ruang sosial tempat siswa membangun kepercayaan diri untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan belajar dari orang lain.
Oleh karena itu, mengetahui latar belakang siswa sejak awal merupakan hal yang krusial bagi pengejar. Pengenalan siswa jangan dilihat sebagai formalitas belaka.
Mengajar dengan Jelas dan Terarah
Pengajar juga perlu berhati-hati dalam menentukan materi yang diberikan kepada siswa. Tidak semua topik harus disampaikan secara luas. Dalam banyak situasi, lebih baik membahas satu topik secara mendalam agar siswa benar-benar memahami persoalan daripada menyampaikan banyak topik tetapi hanya menghasilkan pemahaman yang dangkal.
Metode pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuan pembelajaran adalah agar siswa mampu menganalisis sebuah persoalan, misalnya, maka metode pembelajaran tidak cukup hanya dengan ceramah dan menghafal.
Dari sisi teknis, pengajar juga perlu mengorganisasi pembelajaran dengan baik dan menyampaikan materi secara jelas. Siswa perlu mengetahui apa yang sedang mereka pelajari, mengapa mereka mempelajarinya, dan apa yang diharapkan dapat mereka lakukan setelah proses pembelajaran selesai.
Memberikan ruang untuk refleksi
Belajar tidak berhenti ketika pengajar selesai menjelaskan materi. Siswa membutuhkan waktu untuk mengonsolidasikan pengetahuan baru melalui refleksi, baik secara individu maupun melalui diskusi kelompok.
Melalui proses tersebut, siswa dapat melihat kembali sejauh mana mereka memahami materi dan membandingkan pemahamannya dengan pemahaman siswa lain. Pengajar di perguruan tinggi di Swedia selalu memberikan waktu refleksi 15 menit dalam sejam terkait hal ini.
Miller (1956) mengungkapkan bahwa memori otak manusia hanya mampu memproses sebagian kecil informasi ketika bekerja. Oleh sebab itu menurut Sweller (1988) pengajar mesti menyadari hal ini dan selalu memberikan ruang untuk istirahat pendek bagi siswa.
Pengajar perlu mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilakukan. Masukan dari rekan pengajar dapat menjadi bagian penting dalam memperbaiki metode dan kualitas pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran bukan hanya proses siswa belajar dari guru. Guru pun perlu terus belajar dari proses mengajarnya.
Dari Pengajar sebagai Pusat Pengetahuan Menjadi Mentor
Dari ketiga faktor tersebut, terdapat satu hal yang menurut penulis sangat penting untuk pendidikan masa kini: menciptakan ruang bagi siswa untuk berkolaborasi.
Ketika pengajar terlalu dominan dalam menyampaikan pelajaran, siswa secara tidak langsung dapat menjadi pasif. Mereka lebih banyak mendengar daripada berpikir, lebih banyak mencatat daripada berdiskusi.
Karena itu, peran pengajar perlu berkembang. Pengajar tidak harus selalu menjadi pusat dari setiap aktivitas pembelajaran. Dalam situasi tertentu, pengajar justru perlu mengambil peran sebagai mentor yang bekerja bersama siswa untuk menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kritis.
Tugas pengajar bukan hanya memberikan jawaban, tetapi juga membantu siswa menemukan cara untuk berpikir. Siswa perlu didorong untuk menyampaikan pendapat, membangun argumentasi, menganalisis bukti, memecahkan masalah, dan melihat sebuah persoalan dari berbagai perspektif.
Dalam proses tersebut, pengajar dapat lebih banyak mendengar dan mengamati bagaimana siswa berkomunikasi serta bekerja sama. Pengajar dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana untuk memperdalam diskusi, mendorong kepercayaan diri siswa, atau membantu mereka mengembangkan argumen.
Aktivitas pembelajaran dapat berupa diskusi mengenai isu kontroversial, pemecahan masalah, penilaian terhadap sebuah bukti, hingga analisis terhadap suatu argumentasi. Dalam model seperti ini, siswa tidak hanya belajar apa yang harus dipikirkan, tetapi juga belajar bagaimana berpikir.
Belajar Tidak Harus Selalu di Dalam Kelas
Pembelajaran juga tidak harus selalu berlangsung secara tradisional di dalam ruang kelas. Aktivitas di luar kelas dapat menjadi bagian penting dari proses belajar. Kunjungan ke situs tertentu, kerja lapangan, pengamatan lingkungan, maupun aktivitas pembelajaran di ruang terbuka dapat memberikan pengalaman yang berbeda kepada siswa.
Pendekatan ini sejalan dengan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Ketika siswa tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat, menyentuh, merasakan, mengamati, dan berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran, mereka mendapatkan pengalaman yang lebih konkret.
Pengalaman tersebut kemudian dapat menjadi bahan untuk refleksi dan diskusi. Di sinilah pembelajaran menjadi lebih dari sekadar proses memindahkan informasi dari kepala pengajar ke kepala siswa. Pembelajaran menjadi sebuah pengalaman.
Menjawab Tantangan Pendidikan Masa Kini
Dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan dari perubahan zaman. Kehadiran internet dan AI membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Namun, kemudahan mendapatkan informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami, menilai, atau menggunakan informasi tersebut dengan baik.
Karena itu, tantangan pengajar hari ini bukan hanya bagaimana menyampaikan materi sebanyak mungkin. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa berpikir, bertanya, berkolaborasi, berefleksi, dan belajar dari pengalaman.
Pengajar tetap memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Namun, perannya perlu terus berkembang. Dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator. Dari pusat pengetahuan menjadi mentor. Dari orang yang paling banyak berbicara menjadi orang yang mampu menciptakan ruang agar siswa berani berbicara.
Pada akhirnya, pengajaran yang efektif bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan oleh pengajar, tetapi tentang seberapa jauh siswa terlibat, memahami, dan mampu menggunakan pengetahuan yang mereka peroleh.
Sebab, pendidikan yang relevan dengan zaman bukan hanya mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan.










