Oleh Agustinus Gereda Tukan
Dosen dan Peneliti ; Tinggal di Merauke, Papua Selatan
ADA sebuah kebiasaan pendidikan yang menarik untuk direnungkan. Di sejumlah sekolah di Merauke dan mungkin juga di tempat lain, kegiatan belajar tambahan bagi anak kelas I–III berlangsung setelah jam pelajaran reguler. Anak-anak belum langsung pulang, tetapi kembali duduk di ruang kelas untuk mengikuti pendampingan, termasuk membaca dan menulis. Kebiasaan ini dapat dipahami karena tidak semua anak berkembang dengan kecepatan yang sama. Sebagian membutuhkan waktu lebih panjang untuk membaca, menulis, berhitung, atau memahami pelajaran tertentu.
Namun, di balik praktik tersebut ada pertanyaan yang layak direnungkan: ketika seorang anak belum menguasai keterampilan dasar setelah mengikuti pembelajaran reguler, sampai di mana tanggung jawab guru di kelas? Pertanyaan ini bukan tuduhan kepada guru, penilaian terhadap sekolah, atau menyalahkan orang tua. Ini adalah pertanyaan pedagogis bagi siapa pun yang sungguh-sungguh peduli terhadap pendidikan anak.
Ketika Les Menjadi Jalan Keluar
Kegiatan tambahan pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Dalam situasi tertentu, les atau bimbingan tambahan dapat menjadi bentuk perhatian bagi anak yang membutuhkan pendampingan khusus.
Persoalan muncul ketika kegiatan tambahan perlahan dipandang sebagai jalan keluar utama bagi anak yang belum menguasai kemampuan yang semestinya dibangun dalam pembelajaran di kelas.
Di sinilah guru perlu berhenti sejenak dan bertanya: Mengapa anak ini belum lancar membaca? Mengapa ia masih kesulitan menulis secara mandiri? Apakah kesulitannya sudah dipahami? Apakah strategi pembelajaran selama ini sesuai dengan kebutuhannya?
Pertanyaan itu penting karena anak yang belum mampu bukan sekadar “anak yang kurang”. Ia mungkin membutuhkan latihan bertahap, pendampingan individual, pengulangan, atau metode yang lebih sederhana.
Karena itu, sebelum mengatakan bahwa anak membutuhkan les, mungkin lebih baik guru bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang belum berhasil saya lakukan untuk membantu anak ini?” Pertanyaan tersebut bukan bentuk kegagalan, melainkan cermin tanggung jawab profesional seorang pendidik.
Anak Bukan Mesin Belajar
Kita sering menganggap semakin lama anak berada di ruang belajar, semakin besar pula kemungkinan ia berhasil. Padahal anak bukan mesin yang dapat terus diisi tanpa batas.
Setelah belajar sejak pagi, anak membutuhkan jeda: makan, istirahat, bermain, bergerak, berbicara dengan teman, dan berinteraksi dengan keluarga. Semua itu bukan gangguan terhadap pendidikan, melainkan bagian dari pertumbuhan anak.
Karena itu, kegiatan belajar tambahan pada siang hari perlu dilihat secara hati-hati. Bukan berarti belajar pada siang hari pasti tidak efektif. Persoalannya ialah ‘kesiapan anak menerima pembelajaran’. Anak mungkin masih duduk di bangku sekolah dan buku masih terbuka di hadapannya, tetapi apakah pikiran dan tubuhnya masih siap belajar?
Ada perbedaan antara anak yang masih berada di ruang kelas dan anak yang masih memiliki energi untuk belajar. Di sinilah kebijaksanaan pedagogis guru dibutuhkan. Pendidikan bukan hanya soal menambah waktu, tetapi juga memilih waktu, metode, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi anak.
Guru Perlu Melihat Anak, Bukan Hanya Hasilnya
Dalam pembelajaran membaca dan menulis, hasil memang penting. Anak diharapkan mampu membaca dengan lancar dan menulis secara mandiri. Tetapi di balik hasil itu ada proses yang tidak boleh diabaikan.
Guru perlu melihat bagaimana seorang anak sampai pada kesulitan tertentu. Ada anak yang mengenali huruf tetapi belum lancar menggabungkannya. Ada yang dapat membaca tetapi belum memahami makna bacaan. Ada yang dapat menyalin tulisan tetapi belum mampu menulis gagasannya sendiri. Ada pula yang sebenarnya mampu, tetapi kehilangan kepercayaan diri karena merasa tertinggal.
Karena itu, pendampingan bukan sekadar memberikan latihan tambahan. Kadang-kadang anak hanya membutuhkan guru yang duduk di sampingnya dan berkata, “Coba sekali lagi.” Ketika ia salah, guru tidak segera mengatakan, “Kamu belum bisa”, tetapi, “Kita cari cara lain.”
Ketika anak mulai berhasil membaca satu kalimat, penghargaan terhadap kemajuan kecil itu dapat menjadi kekuatan. Hal-hal sederhana semacam ini kadang jauh lebih bermakna daripada sekadar menambah durasi belajar.
Ada pertanyaan yang mungkin terasa lebih tajam: jangan sampai kegiatan tambahan justru membuat anak dan orang tua menanggung konsekuensi dari sesuatu yang belum selesai dalam pembelajaran reguler.
Ini tidak berarti setiap kegiatan tambahan merupakan bentuk komersialisasi pendidikan. Banyak guru memberikan bimbingan tambahan dengan niat baik dan penuh kepedulian. Namun, garis etiknya perlu tetap jelas.
Jika kegiatan tambahan dilakukan karena anak membutuhkan pengayaan, itu satu hal. Tetapi jika anak harus mengikuti kegiatan tambahan agar memperoleh keterampilan dasar yang belum berhasil dibangun dalam pembelajaran reguler, kita perlu kembali melihat persoalan pokoknya.
Apakah yang perlu ditambah sebenarnya waktu belajar anak, atau kualitas pendampingan di dalam kelas? Jawabannya tentu dapat berbeda pada setiap anak. Karena itu, tidak bijaksana membuat kesimpulan yang sama untuk semua.
Guru Tidak Harus Selalu Berhasil
Guru juga manusia. Tidak semua metode berhasil pada setiap anak. Tidak semua pembelajaran berlangsung sesuai rencana. Ada kelas yang besar, kemampuan anak beragam, waktu terbatas, dan persoalan pendidikan memang tidak sederhana.
Karena itu, refleksi ini bukan ajakan untuk menyalahkan guru. Guru yang baik bukan guru yang tidak pernah gagal, melainkan guru yang berani menyadari ketika sesuatu belum berhasil dan mencoba mencari jalan lain.
Ketika seorang anak belum mampu membaca, guru tidak perlu merasa gagal sebagai manusia. Tetapi guru perlu merasa terpanggil untuk mencoba lagi: dengan cara yang berbeda, pendekatan yang lebih personal, atau melibatkan orang tua tanpa menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada mereka.
Sebelum Menambah Jam, Tambahkan Perhatian
Pada akhirnya, persoalan les bukan sekadar boleh atau tidak boleh, melainkan untuk apa dilakukan, siapa yang membutuhkannya, bagaimana pelaksanaannya, dan apakah kepentingan terbaik anak menjadi pertimbangan utama. Anak membutuhkan pendidikan, bukan sekadar tambahan jam belajar. Ia membutuhkan guru yang melihat dirinya sebagai pribadi, bukan hanya sebagai murid yang harus mencapai target. Karena itu, sebelum menambah waktu belajar, mungkin guru perlu menambah sesuatu yang lebih sederhana: perhatian. Sebelum mengatakan, “Anak ini perlu les,” mungkin perlu bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang dialami anak ini?”
Sebab, anak tidak hanya mengingat apa yang diajarkan gurunya, tetapi juga bagaimana gurunya memperlakukannya ketika ia belum mampu. Karena itu, sebelum membuka ruang belajar tambahan, mungkin guru perlu membuka kembali ruang refleksi dalam dirinya sebagai pendidik. Di situlah pendidikan menemukan wajahnya: bukan pada panjangnya waktu belajar atau banyaknya latihan, melainkan kesediaan guru untuk terus mendampingi anak sampai ia menemukan keyakinan dalam dirinya: “Saya belum bisa, tetapi guru saya tidak menyerah kepada saya.”










