JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Sanctus Thomas Aquinas periode 2026–2028, Minggu (20/9) resmi dilantik di Jakarta.
Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat diawali ibadat pemberkatan, penyematan gordon serta pemailan jas almamater hingga penutupan sidang pleno pelantikan.
Kader PMKRI Cabang Yogyakarta Yohanes Tola resmi menjabat sebagai Ketua Presidium/Mandataris MPA XXXIII/Formatur Tunggal PP PMKRI periode 2026–2028.
Ketua Panitia Pelaksana Ludgerius M Tumanggor mengawali rangkaian laporan kegiatan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan agenda pelantikan. Dalam laporannya, Ludgerius mengapresiasi kerja keras seluruh panitia, dukungan alumni serta pihak-pihak yang berkontribusi hingga acara pelantikan berjalan lancar dan akuntabel.
Ludgerius juga menguraikan alasan mendasar di balik pemilihan sub-tema pelantikan, Ite, Inflammate Omnia (Pergilah dan Kobarkanlah Semuanya). Tema ini bukan sekadar slogan akademis atau hiasan spanduk.
“Tema ini adalah panggilan keras bagi seluruh kader PMKRI di seluruh pelosok Nusantara untuk keluar dari zona nyaman, turun ke tengah masyarakat, dan menyalakan api perjuangan, keadilan serta kebenaran di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini,” kata Ludgerius.
Anggota Dewan Pertimbangan PP PMKRI Sebastian Salang, memberikan catatan kritis mengenai dinamika gerakan mahasiswa dan perhimpunan saat ini. Sebastian menyoroti ancaman pragmatisme yang kian merayapi dunia gerakan kepemudaan.
“Perhimpunan ini lahir dari idealisme dan independensi yang murni. PMKRI tidak boleh tergoda oleh nilai-nilai pragmatis atau terseret dalam arus kepentingan politik praktis jangka pendek yang merusak watak kritis mahasiswa. Independensi adalah marwah dan harga diri PMKRI. Jika independensi itu tanggal, maka PMKRI kehilangan roh perjuangannya,” ujar Sebastian.
Prosesi pengukuhan kepengurusan semakin sakral melalui doa dan berkat pelantikan yang dipimpin RmFerdinandus Effendi Kusuma Sunur, SJ. Dalam doa dan tumpangan tangannya di hadapan para pengurus, Romo Ferdinandus menitipkan pesan kenabian agar jajaran pengurus baru konsisten menjalankan fungsi keadilan.
“Semoga Roh Kudus memampukan mereka untuk mempromosikan perdamaian dan keadilan, berani bersikap melawan penguasa yang zalim serta konsisten membela rakyat kecil. Biarlah hidup mereka mencerminkan pengikut-pengikut Kristus yang memperjuangkan kedamaian dan keadilan dalam Kristus,” ujar Romo Ferdinandus.
Sedangkan Yohanes Tola menegaskan arah perjuangan politik perhimpunan untuk mengawal keadilan sosial dan perbaikan fungsi negara.
Tiga persoalan utama yang disoroti meliputi penempatan personel Polri pada birokrasi sipil, anjloknya Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2025 ke skor 34/100 serta ancaman exclusion error pada penyaluran bantuan sosial berbasis data desil.
Menurut Tola, menjawab tantangan tersebut ada tiga agenda utama kepengurusan yaitu transformasi organisasi melalui pembenahan tata kelola internal, aktivasi dan ekspansi cabang di berbagai daerah, dan gerakan sosial berbasis riset dan Ajaran Sosial Gereja (ASG). (*)










