Fajar dari Nusa Para Lamafa
Di tanah hijau yang mempesona
di antara hembusan angin lewotana, leu awuq (kampung halaman) Lepanbatan
seorang putra sulung Warat dilahirkan ke dunia
Laksana bisikan lembut Roh Kudus, suara ilahi bergema di relung kalbu:
“Inilah anak yang Ku-kasihi, namailah dia Willem.”
Hati sang ibunda tersentuh sinar surgawi, menyimpan rahasia itu dalam diam:
“Akan menjadi apakah gerangan anak ini kelak?”
Ketika air mata haru membasahi pipinya, sang ayah menatap penuh cinta
Suka cita membuncah, tak tertampung oleh dada
terpanjatlah pujian dan syukur ke hadirat Sang Pencipta
Asam membubung tinggi menyentuh langit lepanbatan, nusa paus
ujung asapnya menunjuk ke arah timur Leragera, tempat fajar perdana menyingsing
Bumi bertengadah, dan Sang Pemilik awan berfirman:
“Anak ini akan membawa terang di ufuk timur.”
Panggilan Kedinaan Fransiskan
Dalam naungan kasih ibunda dan hikmat sang ayah, bocah itu bertumbuh
Langkah-langkah kecilnya berbisik mantap:
“Ibu, Ayah, aku harus ke gereja, aku harus menimba ilmu.”
Dari lepanbatan, nusa para lamafa (juru tikam), ia menapak jenjang pengetahuan
namun sabda di dalam dada terus bergelora: “Aku harus ke Seminari!”
Bukan harta yang ia cari, bukan takhta yang ia dapati
Ia memilih jalan kedinaan, jalan kecil Sang Santo Fransiskus dari Asisi
Ketika dunia menyodorkan aneka warna dan pesona
ia menutup telinga dan mendedikasikan hatinya
Ia jatuh cinta pada jubah cokelat —pakaian berwarna tanah
lambang kesederhanaan, cinta bagi sesama, dan belas kasih bagi semesta
Mazmur Syukur 40 Tahun di Atas Tanah Papua
Dalam lorong-lorong waktu, ia setia menjawab wasiat San Damiano
Dianyamnya ajaran Kristus bagai menenun sebuah noken kehidupan
Ia tidak memilih kenikmatan fana
melainkan jalan kesucian yang siap merangkul derita dan pengorbanan
Tekadnya makin bulat saat fajar Papua menyapa dadanya
Di Moanemani, Dogiyai, cahaya Ilahi menembus sukmanya
sebagaimana Rasul Paulus disapa terang di jalan Damsyik
Dari kejauhan, terpesona kami melihat langkah sang rasul muda berjubah warna tanah
di Gereja Santa Maria Immaculata Moanemani
Suaranya menggelegar penuh kuasa Ilahi
menembus awan kelam dan memulihkan jiwa-jiwa yang dahaga
Ia hadir sebagai gembala yang bersahaja
Sebagaimana Yesus mengasihi Zakeus, demikianlah Kristus merangkul kesederhanaannya
Lembata menenun panggilannya, Papua menjadi ladang pengutusannya
Mari kita alungkan kidung pujian dan nyanyikan Mazmur bagi Tuhan!
Dari Timika, Agats, Merauke hingga Jayapura
empat puluh tahun sudah ia melangkah sebagai Rasul Kedinaan Fransiskan
Di puncak pesta Yubileum ini, mewakili insan dan bumi Papua
tiada kado terindah selain ungkapan syukur yang mendalam
Bersama saudaramu, Papua M Dou, kami saling berjabat tangan dan menyapa hangat:
“Kipo Moti Wauwa, Pater Willem!”
Biar doa-doa kami membumbung melewati pintu fajar
diiringi tarian dan nyanyian Gowai, Tupe, dan Ugaa
Bersama leluhur, masyarakat, dan alam Papua yang senantiasa memelukmu, kami mengucapkan: Selamat Pesta 40 Tahun Hidup Membiara sebagai Fransiskan di tanah Papua, Pater Willem Warat Bungan, OFM
Semoga Sang Pemilik Cahaya senantiasa menyertai setiap langkah pelayananmu
Jayapura, 21 September 2026
Karya Yance Douw
(Mengenang Peringatan 40 Tahun Imamat Pater Willem Warat Bungan, OFM, Senin, 21 September 2026)
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










