JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Dr Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr meluncurkan HONAI di Gedung Graha Sara Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Tanah Papua, Kamis (10/9).
HONAI berarti Hadir bagi mereka yang menderita, Openness/keterbukaan bagi semua pihak, Nilai kehidupan dan martabat manusia sebagai dasar perjuangan, Advokasi terhadap kebenaran, keadilan dan kemanusiaan, dan Integritas dalam menjalankan perjuangan bersama.
Peluncuran HONAI menjadi momentum penting bagi gereja dan berbagai pihak untuk membangun langkah bersama dalam menghadapi persoalan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian di tanah Papua.
“HONAI tidak boleh dipahami hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi harus menjadi ruang kehidupan dan jalan bersama untuk memperjuangkan martabat manusia, terutama bagi mereka yang sedang mengalami penderitaan. Bagi Papua, honai adalah tempat kehidupan,” ujar Uskup Matopai dalam sambutannya.
Menurut Uskup Matopai, dalam kehidupan masyarakat Papua honai merupakan ruang untuk berkumpul, berbagi kebijaksanaan, membicarakan berbagai persoalan dan mencari jalan keluar bersama. Filosofi tersebut, perlu dihidupkan dalam HONAI sebagai wadah bersama untuk melihat, mendengarkan dan merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“HONAI harus hadir bagi mereka yang menderita. HONAI juga harus berpihak pada kehidupan dan masyarakat yang mengalami penderitaan dan diharapkan agar ada untuk mereka yang menderita,” kata Mgr Matopai, Uskup putra asli Papua.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa HONAI harus memiliki orientasi kemanusiaan yang nyata. Berbagai persoalan seperti krisis kemanusiaan, pengungsian, persoalan hak asasi manusia, konflik, ketidakadilan, persoalan ekologis serta penderitaan masyarakat tidak boleh dibiarkan tanpa perhatian.
“Kehadiran gereja dalam situasi seperti itu bukan sekadar berbicara, tetapi juga mendengarkan penderitaan, menyatakan kebenaran, membangun persaudaraan dan memperjuangkan martabat manusia. Gereja tidak boleh diam,” ujar Mgr Matopai, Uskup kelahiran kelahiran 1 Januari 1961 di Kampung Uwebutu, pinggiran Danau Taage, Paniai, Keuskupan Timika.
Uskup Matopai menambahkan, dalam situasi krisis multidimensi yang dihadapi tanah Papua dibutuhkan keberanian gereja untuk hadir dan bersuara. Gereja tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan masyarakat. Gereja dipanggil untuk menjaga kehidupan, memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta merawat persaudaraan di tengah berbagai perbedaan dan konflik.
“Oleh karena itu HONAI diharapkan menjadi ruang terbuka bagi semua pihak untuk bertemu, berdialog dan mencari jalan bersama. Ruang tersebut harus mampu mempertemukan berbagai pihak tanpa membedakan latar belakang, sehingga perjuangan untuk membangun tanah Papua sebagai tanah damai dapat dilakukan secara bersama. Jangan juga ada Yudas dalam honai ini,” katanya.
Dalam membangun perjalanan bersama tersebut, Uskup Jayapura juga menitip pesan tentang pentingnya ketulusan, kesetiaan dan integritas. Jangan juga ada Yudas dalam honai ini. Pesan tersebut penting agar HONAI tidak kehilangan tujuan utamanya karena kepentingan pribadi, kelompok maupun kepentingan lain yang dapat merusak semangat kemanusiaan.
“HONAI harus tetap menjadi ruang yang dipercaya, terbuka dan berorientasi pada kepentingan manusia yang mengalami penderitaan. Dengan demikian, kebersamaan yang dibangun melalui bukan hanya kebersamaan secara kelembagaan, tetapi juga membutuhkan kejujuran, tanggung jawab, keberanian dan komitmen terhadap kebenaran. Jalan bersama untuk martabat manusia,” ujar Uskup Matopai.
Uskup Matopai menempatkan HONAI dalam kerangka perjuangan yang lebih luas, yakni membangun kehidupan yang bermartabat di tanah Papua. Dengan HONAI ini, semua orang berjalan bersama untuk martabat manusia di tanah Papua.
HONAI diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan atau simbol kebersamaan gereja, tetapi menjadi ruang nyata untuk mendengar suara masyarakat, terutama mereka yang menderita, menyuarakan kebenaran, memperjuangkan keadilan, merawat perdamaian, menjaga kehidupan serta membela martabat setiap manusia.
Peluncuran HONAI yang ditandai dengan pemukulan tifa oleh Uskup Matopai sekaligus simbol dimulainya perjalanan tersebut. Tifa tidak hanya menandai sebuah acara, tetapi menjadi tanda panggilan untuk berjalan bersama, membangun persaudaraan dan menghadirkan gereja yang sungguh hadir di tengah kehidupan masyarakat tanah Papua.
“HONAI bukan sekadar rumah atau tempat berkumpul. HONAI adalah jalan bersama untuk martabat manusia di bumi Cenderawasih,” ujar Uskup Matopai. (laporan Elias Awekidabi Gobay untuk Odiyaiwuu.com)










