TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Dalam menunaikan tugas jurnalistik wartawan atau jurnalis tidak cukup hanya cepat dalam menyajikan berita atau jam tayang di tengah derasnya arus informasi digital.
Namun, lebuh dari itu dalam menjalankan tugas jurnalistik atau pewartawan akurasi, keberimbangan (cover both sides), verifikasi fakta, dan etika jurnalistik tetap menjadi pijakan atay dasar sebelum menyajikan sebuah informasi ke masyarakat atau publik.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Mimika Santy Sondang saat membuka Workshop (Lokakarya) Hubungan Media, Standardisasi Profesi dan Verifikasi Kompetensi Jurnalis Digital di Ballroom Hotel Horison Diana, Timika, kota Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, Selasa (15/9).
Workshop yang menghadirkan Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan Dewan Pers Abdul Manan selaku narasumber diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mimika bertajuk Pers Profesional, Informasi Berkualitas untuk Mimika yang Lebih Maju.
Kurang lebih seratus peserta ambil bagian dalam workshop, baik kalangan wartawan, pengelola media, organisasi profesi jurnalistik, dan sejumlah pihak terkait lainnya.
Bupati Kabupaten Mimika Johannes Rettob dalam sambutannya yang disampaikan Santy Sondang mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.
Menurut John Rettob, melalui platform media digital, sebuah informasi dapat menyebar dalam hitungan detik dan menjadi konsumsi publik. Meski demikian, kecepatan tayang sebuah berita tidak boleh menabaikan akurasi atau ketepatan informasi yang disajikan.
“Kecepatan dalam menyampaikan berita tidak boleh mengabaikan ketepatan informasi, keberimbangan, verifikasi fakta dan etika jurnalistik,” ujar Santy Sondang.
Santy mencontohkan, ketika jurnalis memperoleh pernyataan dari seorang pimpinan atau narasumber yang menyebut pihak lain, informasi tersebut perlu dikonfirmasi kepada pihak lain yang disebut (cover both sides) dalam media sebelum berita ditayangkan.
“Kalau mendapatkan atau sedang mewawancarai seorang pimpinan kemudian ada kalimat-kalimat yang perlu diverifikasi, itu harus diverifikasi ulang. Jangan hanya bersumber dari satu orang, tetapi bisa diverifikasi atau dikonfirmasi ulang kepada pihak yang dikatakan oleh pimpinan tadi,” ujarnya.
Menurut Santy, verifikasi menjadi semakin penting di tengah derasnya informasi digital yang rentan memunculkan kesalahan informasi maupun misinformasi dan mispersepsi. Karena itu, wartawan atau jurnalis dituntut mampu memilah informasi sebelum menyampaikannya kepada publik.
Ketua Panitia Martha Paulina Kemong mengatakan, workshop tersebut digelar untuk meningkatkan kompetensi jurnalis sekaligus mendorong penerapan standar profesi dan etika jurnalistik dalam setiap pemberitaan.
“Tujuan kegiatan ini antara lain meningkatkan kompetensi jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistik, mendorong penerapan standar profesi dan etika jurnalistik, serta meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya verifikasi dan validasi informasi di era digital,” ujar Martha.
Selain kemampuan verifikasi, Pemkab Mimika juga menekankan pentingnya standardisasi profesi dan verifikasi kompetensi jurnalis. Langkah tersebut penting guna memastikan jurnalis memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai standar jurnalistik maupun tuntutan profesinya.
“Jurnalis yang kompeten akan mampu menyajikan berita secara lebih akurat, berimbang, mendalam dan bertanggung jawab,” kata Santy lebih lanjut.
Pemkab Mimika berharap media massa dapat menjadi mitra strategis dalam mengawal pembangunan daerah. Media tidak hanya menyampaikan program pemerintah namun mengangkat potensi daerah dan keberagaman budaya serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kritik yang konstruktif.
“Hubungan pemerintah daerah dan media massa merupakan hubungan kemitraan yang harus dibangun atas dasar profesionalisme, keterbukaan, komunikasi yang baik dan saling menghormati,” ujar Santy.
Santy juga berharap agar workshop tersebut tidak berhenti pada pemahaman teori jurnalisme tetapi diterapkan dalam pekerjaan pawar jurnalis sehari-hari.
“Pembangunan daerah tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan sumber daya alam, tetapi juga membutuhkan informasi yang benar, komunikasi yang sehat serta partisipasi masyarakat yang didukung oleh media yang profesional,” kata Santy. (*)










