OPINI  

Saling Mengasihi Sebab Kita Semua Bersalah

Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr, Imam Keuskupan Jayapura; Alumnus Magister Teologi Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol. Foto: Istimewa

Oleh Yance Dou

Imam Keuskupan Jayapura; Alumnus Magister Teologi Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol

DI HADAPAN cermin kehidupan, kita sering kali sibuk mencari debu di wajah orang lain, sementara mata kita sendiri tertutup oleh bongkahan gelap yang tak tersadari. Jarum petunjuk yang kita tuduhkan dengan mudahnya merobek hati sesama.

Seolah diri kita adalah hakim paling suci. Padahal, kita semua melangkah di atas tanah yang sama —tanah yang dipenuhi remah-remah kesilapan dan riwayat dosa yang tersembunyi dari pandangan dunia.

Langkah ini telah terlalu jauh tersesat dalam keangkuhan. Kita mahir menghakimi serpihan kayu di mata saudara kita. Namun menutup rapat nurani dari balok besar yang menyumbat jiwa sendiri.

Berapa kali kita pura-pura menjadi penuntun jalan, padahal hati kita sendiri buta dan tertatih meraba dalam kegelapan? Berapa banyak luka yang kita goreskan atas nama pembenaran diri yang semu?

Saatnya kita berhenti menjatuhkan sesama dan mulai bertelut di hadapan Tuhan. Kerendahan hati adalah jalan yang baik. Pertobatan sejati tidak dimulai dari keinginan mengubah orang lain, melainkan dari keberanian menatap ke dalam kedalaman diri sendiri.

Menyadari bahwa dosa pribadi jauh lebih besar dan nyata daripada kesalahan kecil sesama yang selalu kita perbesar. Melatih sisiplin diri: seperti seorang atlet yang menguasai tubuhnya demi mahkota yang takkan layu, kita dipanggil untuk mengendalikan kecenderungan liar dalam diri dengan bantuan kuasa Ilahi.

Membuka mata hati: membiarkan Roh Kudus membersihkan lensa jiwa agar kita dapat melihat diri dengan jujur, tanpa topeng kesucian palsu. Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi hakim bagi dunia.

Dia memanggil kita menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk bergandengan, saling merangkul, menopang yang lemah dan berjalan bersama menuju keselamatan. Kasih-Nya adalah perisai bagi mereka yang mau merendahkan hati dan belajar hidup tanpa cela.

Mari tanggalkan batu tuduhan dari genggaman kita. Rebahkah keangkuhan itu di bawah salib-Nya, akui setiap kesilapan dengan air mata penyesalan. Mulailah mengasihi dengan murni—sebab kita semua adalah jiwa-jiwa rapuh yang sama-sama merindukan pengampunan.

Selama ini, jari dan lidah kita begitu mudah melemparkan kutuk. Ketika layar kabar di genggaman memamerkan kerakusan korupsi, amarah pembunuhan, dan luka bumi yang digunduli jiwa kita spontan menyulut dendam.

Tanpa sadar, dengan mengutuk orang jahat, kita justru sedang membiarkan kegelapan yang sama bersarang di dalam dada. Kita merasa paling benar, bersembunyi di balik kesombongan pengetahuan, lalu memvonis sesama secepat kilat.

Bukankah rantai kejahatan tak akan pernah putus jika kita membalasnya dengan kebencian yang serupa? Kini saatnya kita terbangun dari kepalsuan itu. Sabda yang hidup mengetuk pintu hati kita yang paling dalam: mendoakan mereka yang mencaci.

Pun memohonkan berkat bagi yang mengutuk dan mengulurkan pengampunan tanpa syarat. Bukan karena kita lemah, melainkan karena kasih adalah satu-satunya daya yang sanggup merobohkan tembok dendam.

Ketika kita berani mendoakan jiwa-jiwa yang tersesat, kita tidak hanya membuka jalan pertobatan bagi mereka. Di saat bersamaan, kita juga membebaskan diri kita dari cengkeraman rasa benci.

Mari melangkah keluar dari kegelapan masa lalu dan menyambut fajar kehidupan baru. Biarkan kebebasan yang dikaruniakan Tuhan menjadi sarana untuk merawat persaudaraan, melayani sesama dengan ketulusan, dan merenda harmoni bumi tempat kita berpijak.

Jangan biarkan kesombongan menguasai nurani, melainkan biarkan kerendahan hati membimbing setiap tindakan. Serahkan hatimu untuk diselidiki Sang Pencipta, biarkan Dia membersihkan segala jalan yang serong.

Mari kita semua berjalan dengan tegak mengamalkan kasih. Sungguh, berkat, damai, dan sukacita yang sejati telah menanti di setiap langkah pelayananmu yang baru. (*)