MAUMERE, ODIYAIWUU.com — Gio, putra almarhum drh Alfonsius Albinus Mehan melihat langsung keluarga besar menangisi peti jenazah sang ayah saat tiba di rumah duka di Wailiti, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (12/9) sekitar pukul 15.48 WITA.
Gio, bocah yang baru berusia 5 tahun tampak kebingungan dan belum benar-benar tahu dan paham apa yang terjadi pada sang ayah. Beberapa kali keluarga almarhum drh Alfonsius Mehan memanggil “Gio…Gio…Gio”, putra Alfonsius.
Namun, sang anak menatap satu persatu keluarga sang ayah dengan wajah menahan sedih. Maria Sukartiam, ibu kandung drh Alfonsius berusaha menggendong cucunya yang baru saja ditinggalkan ayah untuk selama-lamanya itu.
Sementara itu, istri almarhum drh Alfonsius Mehan sempat pingsan saat peti jenazah dibawa masuk kedalam rumah. Saat masuk ke rumah duka, air mata Henderikus Evenitus, saudara sulung almarhum Alfonsius pecah dan memeluk peti jenazah sang adik.
Bupati Kabupaten Sikka Juventus Prima Yoris Kago menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Gubernur dan Kapolda NTT yang telah membantu kelancaran proses pemulangan jenazah Alfonsius dari Bandara Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores ke Maumere, kota Kabupaten Sikka.
Pesawat Casa millik Polda NTT yang membawa jenazah Alfonsius di Bandara Lorens Say Maumere Sabtu (12/9) siang. Jenazah Alfonsius dibawa ke rumah duka dan tiba di rumah orangtuanya di Wailiti, Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Sikka, Sabtu (12/9) sekitar pukul 15.48 WITA.
Iring-iringan mobil jenazah dari Bandara Lorens Say tidak bisa masuk hingga ke halaman rumah duka. Peti jenazah akhirnya dipikul beberapa anggota Sat Pol PP Sikka menuju rumah duka yang jaraknya kurang lebih 200 meter dari Trans Utara Flores.
Istri dan anak serta keluarga almarhum drh Alfonsius Albinus Mehan yang ikut dalam iring-iringan peti jenazah terus menerus menangis.
Saat masuk ke rumah duka, air mata Henderikus Evenitus, saudara sulung almarhum drh Alfonsius Mehan pecah dan memeluk peti jenazah. Tangis dan air mata sang ayah dan semua keluarga yang menunggu kedatangan jenazah drh Alfonsius Mehan juga pecah.
“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sikka kami mengucapkan turut berdukacita atas kepergian drh Alvan, semoga semua keluarga diberi kekuatan dan ketabahan,” ujar Bupati Juventus mengutip flores.tribunnews.com di Maumere, Sikka, Flores, NTT, Sabtu (12/9).
Juventus juga menyampaikan limpah terimakasih kepada Gubernur NTT Melkiades Laka Lena melalui Kadis Nakertrans yang bersama dengan aparat dan keluarga dengan pesawat Casa sampai Maumere dari Labuan Bajo.
Menurut Juventus, saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka masih menunggu informasi dari pihak keluarga mengenai jadwal pemakaman drh Alfonsius.
“Kami sudah berkoordinasi nanti upacara pemakaman kita dapat informasi dari keluarga sehingga prosesi dan upacara pemakaman akan kita siapkan dan kita juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi,” kata Juventus.
Media ini sebelumnya memberitakan, setelah dua hari disemayamkan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dua jenazah korban penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata Drh Alfonsius Albinus Mehan dan Aprida Rapi dipulangkan ke kampung halamannya pada Jumat (11/9).
Alfonsius dipulangkan ke Maumere, Sikka, Flores, NTT. Sementara Aprida dipulangkan ke Toraja Sulawesi Selatan. Pemulangan kedua jenazah diantar langsung ratusan pelayat di Bandara Wamena. Keduanya diterbangkan dari Wamena tujuan Jayapura menggunakan pesawat Cargo Trigana Air PK YSN.
Setelah tiba di Bandara Sentani, Jayapura, kedua jenazah lanjut diterbangkan ke daerah asal menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Dua jenazah korban penembakan Jumat (11/9) siang sudah dipulangkan ke daerah asal.
“Satu jenazah dipulangkan ke Maumere, sedangkan satunya dipulangkan ke Toraja, Sulawesi Selatan,” ujar Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat Operasi Damai Cartenz Kombes Pol Yusuf Sutejo di Jayapura, Papua, Jumat (11/9).
Jenazah Aprida dijadwalkan tiba di Toraja pada Jumat malam. Sementara jenazah Alfonsius dijadwalkan tiba di Bandara Udara Frans Seda, Maumere, Flores, Sabtu (12/9) pagi.
Sementara untuk menjamin keamanan warga, Satgas Operasi Damai Cartenz sudah menambah pasukan ke Jayawijaya. Sebanyak 50 personil dikirim dari Timika ke Jayawijaya pada Kamis (10/9). “Sudah kita dorong kurang lebih 50 personil dari Timika ke Jayawijaya untuk membantu pengamanan,” kata Yusuf.
Penambahan personel tersebut dilakukan untuk mendukung upaya kepolisian dalam mengungkap kasus dan mengejar pihak yang diduga sebagai pelaku penembakan.
Yusuf juga meminta masyarakat yang memiliki informasi terkait keberadaan maupun identitas terduga pelaku agar menyampaikannya kepada aparat kepolisian.
“Manakala ada masyarakat yang punya informasi terkait dengan hal tersebut, bisa disampaikan ke aparat Kepolisian dan kita jamin kerahasiaan dari pemberi informasi ini, agar kasus ini dapat segera kita ungkap dan kita tangkap para pelaku,” katanya.
Alfonsius, Aprida Rapi, dan Willi Mboeuk, pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Rabu (9/9) sekitar 15.53 WIT.
Insiden tersebut terjadi saat rombongan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya yang berjumlah sebelas orang dalam perjalanan kembali ke Wamena usai meninjau kegiatan cetak sawah di Distrik Muliama.
drh Alfonsius Albinus Mehan —akrab disapa Alfan— lahir di Maumere, Sikka, Flores. NTT. Dokter penganut Katolik berusia 35 tahun ini berasal dari Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Sikka, NTT.
Ia lulusan SMPK ViFi Maumere dan Alumni SMAK Frateran Maumere Angkatan ke-4). Ia lulusan Fakultas Kedokteran Hewan. Jabatan terakhir dokter hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Ia menikah dengan gadis pilihan dari suku Batak, Sumatera dan dikaruniai 1 orang anak.
Selama hampir 9 tahun mengabdi di tanah Papua drh Alfonsius dikenal sebagai aparatur sipil negara (ASN) yang berintegritas tinggi, rendah hati, dan memiliki dedikasi tanpa batas terhadap tugas pelayanan publik.
Teman seangkatannya menyebut kalau korban sangat baik, murah senyum, tidak pernah marah dan suka membantu. Sedangkan menurut gurunya di SMAK Frateran Maumere, ia sosok rajin dan displin serta ikut aturan sekolah.
Hingga detik-detik terakhir sebelum gugur, beliau masih aktif menanyakan kondisi korban gempa di Flores dan berupaya mengumpulkan bantuan, menunjukkan empati yang melampaui batas tugas formal. (*)










