OPINI  

Tungku Api, Kohesi Sosial, dan Strategi Coping

I Musa, Guru, SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh I Musa

Guru SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah

TUNGKU api kehidupan dalam masyarakat Papua tidak hanya berbicara tentang api, makanan, dan tempat berkumpul keluarga. Tungku merupakan ruang sosial tempat kehidupan dirawat melalui perjumpaan.

Di sekitar tungku, orang duduk bersama, masak, makan bersama, berbicara, mendengar cerita, menyampaikan pengalaman, membicarakan persoalan, dan mencari jalan keluar.

Relasi sosial tumbuh dari kebiasaan sederhana tersebut. Anak belajar dari orang tua, saudara saling mengenal keadaan antara satu dengan lain, dan keluarga menemukan ruang untuk memperkuat hubungan, memperkuat persatuan, persaudaraan, dan menuju pada kehidupan bersama.

Dalam kehidupan masyarakat yang terus berhadapan dengan perubahan sosial, tekanan ekonomi, konflik, kekerasan sistemik, kehilangan hal hidup/ruang hidup, ketidakpastian, ketidakadilan, dan berbagai persoalan kehidupan, ruang perjumpaan seperti tungku mempunyai arti penting dan mendalam maknanya.

Tungku menjadi tempat manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani. Akan tetapi juga memperoleh dukungan sosial, rasa diterima, rasa dihargai, rasa  dihormati, rasa memiliki, dan kekuatan untuk menghadapi kehidupan.

Di sinilah tungku api kehidupan dapat dibaca sebagai ruang sosial yang hidup. Bukan, sekadar benda budaya atau simbol tradisi. Kohesi sosial dan strategi coping memperluas cara kita memahami makna tungku api kehidupan.

Kohesi sosial menunjuk pada kekuatan yang membuat manusia tetap terhubung, saling percaya, merasa menjadi bagian dari kelompok dalam kehidupannya, dan bersedia membantu dalam kehidupan bersama.

Sedangkan, strategi coping merupakan cara manusia menghadapi tekanan, mengelola persoalan, mencari dukungan, menemukan makna, mengelolah kemampuan untuk melanjutkan kehidupan.

Dalam masyarakat Papua, coping tidak selalu bersifat individual, tetapi hidup bersama dalam suatu kelompok. Beban seseorang dapat menjadi perhatian keluarga, kerabat, marga atau dalam komunitas.

Persoalan dibicarakan bersama, makanan dibagi bersama, saling dukung yang diberikan, dan keputusan dicari melalui relasi sosial. Tungku menjadi salah satu ruang tempat proses tersebut berproses dan berlangsung.

Tungku api yang menyala dapat menjadi gambaran tentang kehidupan yang terus dijaga dan diolah, sedangkan manusia yang duduk mengelilinginya memperlihatkan bahwa kehidupan membutuhkan relasi.

Dengan demikian, tungku api kehidupan, kohesi sosial, dan strategi coping berada dalam perjumpaan melahirkan relasi, relasi membangun kepercayaan, kepercayaan memperkuat solidaritas, dan solidaritas membantu manusia menghadapi tekanan kehidupan.

Tungku sebagai Ruang Relasi

Tungku api merupakan ruang perjumpaan yang mempertemukan manusia dalam hubungan yang dekat. Orang tidak hanya datang untuk memasak atau makan. Mereka hadir sebagai anggota keluarga, kerabat, dan komunitas.

Percakapan yang berlangsung di sekitar tungku api memungkinkan setiap orang mengetahui keadaan orang lain. Apa yang dialami seorang anak dapat diketahui orang tua.

Persoalan keluarga dapat dibicarakan bersama. Pengalaman hidup dapat diwariskan melalui kisah dan cerita. Relasi seperti ini mempunyai makna dan nilai sosiologis.

Hubungan sosial tidak hanya lahir melalui lembaga formal, tetapi juga melalui kebiasaan sehari-hari. Duduk bersama, makan bersama, berbicara, dan mendengar merupakan tindakan sederhana yang secara perlahan membangun kedekatan atau kohesi sosial.

Tungku api menjadi ruang yang memungkinkan hubungan tersebut terus dipelihara, dijaga, dan diolah. Di tengah kehidupan modern yang semakin individual, hedonisme, dan konsumerisme.

Dalam situasi seperti itu  tungku api menjadi semakin penting. Manusia dapat hidup dalam rumah yang sama tetapi kehilangan komunikasi dan menghilangnya solidaritas.

Anggota keluarga dapat berada berdekatan, tetapi tidak sungguh-sungguh berjumpa. Tungku api mengingatkan bahwa kehidupan keluarga membutuhkan ruang untuk bertemu. Perjumpaan tersebut menjadi dasar bagi tumbuhnya kohesi sosial.

Kohesi Sosial dan Kebersamaan

Kohesi sosial berarti kekuatan yang membuat anggota masyarakat tetap terhubung dan merasa menjadi bagian dari kehidupan bersama. Kohesi tidak muncul secara tiba-tiba begitu saja tanpa sebab akibat.

Ia dibangun melalui kepercayaan, komunikasi, rasa memiliki, solidaritas, dan pengalaman hidup bersama. Tungku menjadi salah satu ruang tempat unsur-unsur tersebut tumbuh dan berkembang.

Ketika keluarga terbiasa duduk bersama, hubungan sosial menjadi lebih kuat. Ketika orang saling mendengar dan menghargai, maka kepercayaan bertumbuh subur serta berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika makanan dibagikan, rasa memiliki diperkuat. Ketika persoalan dibicarakan bersama, muncul kesadaran bahwa kehidupan tidak dijalani seorang diri. Kebiasaan sederhana tersebut mempunyai dampak besar terhadap ketahanan sosial.

Kohesi sosial menjadi sangat penting ketika masyarakat menghadapi persoalan. Komunitas yang memiliki hubungan kuat lebih mampu memberikan dukungan kepada anggota lainnya.

Seseorang yang mengalami kesulitan dapat mencari tempat untuk berbicara dan mendapatkan pertolongan sebagai makhluk sosial. Dalam konteks ini, tungku api bukan hanya ruang kebersamaan dan persatuan saja, tetapi juga ruang yang memproduksi dan memelihara solidaritas sosial.

Coping sebagai Cara Bertahan

Setiap manusia menghadapi tekanan. Ada tekanan ekonomi, persoalan keluarga, konflik, kekerasan sistemik, kehilangan hal hidup (etnosida, ekosida, spiritsida, epistemesida, urbasida, dan genosida), kegagalan, perubahan lingkungan sosial, dan berbagai bentuk ketidakpastian serta ketidakadilan. Manusia membutuhkan cara untuk menghadapi tekanan tersebut. Cara tersebut disebut strategi coping.

Coping dapat dilakukan dengan menyelesaikan persoalan secara langsung, mengatur emosi, mencari dukungan, berbicara dengan orang yang dipercaya, berdoa, bekerja, atau mengambil keputusan tertentu.

Coping tidak selalu berarti masalah langsung selesai. Kadang kalah, coping berarti menemukan kekuatan agar seseorang mampu melewati masa sulit tanpa kehilangan harapan dan tujuan hidup.

Dalam konteks masyarakat Papua, strategi coping dapat berlangsung melalui hubungan sosial. Seseorang dapat datang kepada keluarga ketika menghadapi masalah.

Ia dapat berbicara kepada orang tua, saudara, kerabat, atau anggota komunitas. Tungku menjadi ruang yang memungkinkan dukungan tersebut hadir secara alami. Orang yang sedang mengalami tekanan menemukan bahwa dirinya masih mempunyai tempat untuk kembali.

Dari Beban Pribadi Menuju Beban Bersama

Salah satu kekuatan tungku api. Tungku api ini terletak pada kemampuannya mengubah pengalaman personal. menjadi percakapan bersama atau ruang perjumpaan.

Masalah yang awalnya dipendam seseorang dapat dibicarakan dengan orang lain. Kesedihan dapat dibagikan. Kekhawatiran dapat didengar. Persoalan dapat dicari jalan keluar bersama.

Di sini terjadi perubahan penting dari coping personal menuju coping kolektif. Individu tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang memikul beban sendiri. Sebagai makhluk sosial yang ada dalam keluarga atau komunitas ikut mengambil bagian.

Bentuknya, tidak selalu besar. Kehadiran seseorang, sepiring makanan, nasihat, bantuan tenaga, atau kesediaan mendengarkan dapat menjadi sumber kekuatan. Tungku api dengan demikian menjadi ruang pemulihan hubungan.

Manusia memperoleh kembali rasa bahwa dirinya tidak sendirian. Dirinya adalah makhluk sosial. Inilah kekuatan sosial yang sering tidak terlihat, tetapi sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Jadi, kembali ke tungku api!