JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Indonesia EBTKE Conference and Exhibition (IndoEBTKE ConEx) ke-12 Tahun 2026, Rabu (2/9) resmi dibuka Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Yuliot Tanjung di Convention Grand Ballroom, JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dalam sambutannya mengatakan, penggunaan energi baru terbarukan (EBT) bisa membuat kelistrikan di pelbagai negara jauh lebih murah bagi masyarakat.
Sejumlah negara diakuinya didominasi sumber energi dari energi baru terbarukan. Misalnya di Amerika Utara, ada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Begitu pula di Prancis juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“Pelbagai program di Tanah Air adalah kemandirian energi, ketahanan energi hingga swasembada energi. Untuk swasembada salah satunya adalah mempercepat penggunaan kendaraan listrik hingga memaksimalkan EBT,” ujar Yuliot.
Yuliot menambahkan, pengembangan energi baru, terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) penting untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional. Swasembada energi dan hilirisasi, perluasan akses dan jangkauan terhadap energi bagi masyarakat dan industri menjadi prioritas utama.
Acara IndoEBTKE ConEx ke-12 Tahun 2026 bertema Indonesia Renewable Energy Acceleration: Executing Strategic Projects, Unlocking Investment, Building Resilience akan berlangsung Rabu-Jumat (2-4/9).
Acara tersebut dihadiri pula sebelas asosiasi yang terkait dengan energi baru terbarukan di antaranya adalah Indonesia Renewable Energy Society atau Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI).
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng yang hadir dalam acara tersebut mengatakan, IndoEBTKE ConEx ke-12 Tahun 2026 menjadi momentum strategis transisi energi nasional.
“IndoEBTKE ConEx ke-12 Tahun 2026 sangat penting dan menjadi momentum sekaligus ruang eksekusi implementasi transisi energi nasional. Forum ini menjadi momentum nasional untuk mempercepat implementasi transisi energi di Indonesia,” ujar Johni Jonatan Numberi kepada wartawan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (2/9).
Ketua Umum METI sekaligus Ketua Panitia IndoEBTKE ConEx Tahun 2026 Norman Ginting mengatakan, banyak proyek energi terbarukan anggota METI kini bergerak menuju konstruksi dan operasi.
“IndoEBTKE ConEx 2026 kami jadikan ruang temu antara pengembang, penyedia teknologi, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut,” ujar Norman Ginting.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menegaskan, Indonesia telah memasuki fase implementasi transisi energi. Capaian bauran EBT per TW II 2026 mencapai 17,3 persen dari target 17-21 persen.
“Komposisi energi primer nasional yakni batubara 34,87 persen, minyak 31,26 persen, EBT 17,30 persen, dan gas 16,57 persen. Program Strategis Nasional yang berjalan, biodiesel B50 diluncurkan pada 9 Juli 2026 dan PLTS 100 GWp diluncurkan pada 25 Agustus 2026,” kata Eniya Listiani Dewi.
Selain itu, lanjut Dewi, PLTS 100 GWp diproyeksikan hemat Rp 73,9 triliun per tahun, menurunkan emisi 140,16 juta ton CO2, menciptakan 5,518 juta lapangan kerja dengan investasi Rp1.140 triliun. Hilirisasi menjadi strategi utama transformasi ekonomi dengan target hingga 2040 yakni investasi USD 618 miliar, PDB USD 235,9 miliar, ekspor USD 857,9 miliar, dan 3,01 juta tenaga kerja.
“Pemerintah juga menargetkan E20 bioetanol sebesar 4 juta kiloliter per tahun dan melanjutkan program Lisdes untuk 77.616 pelanggan serta BPBL untuk 205.968 rumah tangga guna pemerataan akses energi.
Sedangkan Johni Numberi, anggota Pemangku Kepentingan Unsur Akademisi DEN menambahkan, ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi harus diwujudkan untuk mencapai swasembada energi sesuai Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI.
“Unsur Akademisi DEN siap mendukung melalui riset, kajian kebijakan, dan pengembangan SDM agar implementasi transisi energi nasional berjalan cepat dan berkeadilan,” kata Johni Numberi, Guru Besar Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua. (*)










