BANDUNG, ODIYAIWUU.com — Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Republik Indonesia Prof Dr Ir Johni Jonatan Numberi, M.Eng, IPM, ASEAN Eng, Senin (31/8) tampil sebagai pembicara dalam Roadshow Sosialisasi Global Transport, Training and Trading Indonesia (GTI) di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.
“Kebijakan energi nasional sesuai dengan Asta Cita kedua Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden tentang swasembada energi dan Asta Cita kelima tentang hilirisasi industri dalam negeri dan hilirisasi industri di daerah penghasil menuju Indonesia Emas 2045,” ujar ujar Johni kepada awak media di Bandung, Jawa Barat, Minggu (31/8).
Menurut Johni, Asta Cita kedua adalah memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Poin-poin utama dalam misi kedua Asta Cita sebagai berikut.
Pertama, pertahanan dan keamanan yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara untuk menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. Kedua, swasembada pangan, energi, dan air yaitu mendorong kemandirian nasional agar tidak bergantung pada negara lain dalam hal ketersediaan kebutuhan pokok pangan, pasokan energi, serta pengelolaan air.
Ketiga, pengembangan ekonomi berkelanjutan yaitu mengembangkan sektor ekonomi kreatif, ekonomi hijau (green economy), dan ekonomi biru (blue economy) sebagai pilar kemandirian bangsa.
Sedangkan Asta Cita kelima adalah melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Beberapa poin penting meliputi penghentian ekspor bahan mentah di mana Indonesia berfokus mengolah hasil bumi secara mandiri di dalam negeri sebelum dijual.
Berikut, peningkatan nilai tambah yakni mengolah bahan baku seperti mineral dan produk alam lainnya agar memberikan keuntungan ekonomi yang lebih besar bagi negara.Industrialisasi nasional. Kemudian, membangun kemandirian industri lokal yang kuat dan berdaya saing global.
“Asta Cita pemerintah di bidang energi menjadi landasan implementasi kebijakan energi nasional untuk mewujudkan swasembada energi, hilirisasi, dan ketahanan energi nasional. Melalui Asta Cita kedua, pemerintah menegaskan pentingnya kemandirian bangsa melalui swasembada energi sebagai bagian dari penguatan ekonomi hijau dan ekonomi biru,” katanya.
Sementara itu, Asta Cita kelima menekankan percepatan hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya energi di dalam negeri. Selaras dengan visi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI memprioritaskan agenda ‘swasembada energi dan hilirisasi’.
Agena tersebut dilakukan melalui peningkatan penyediaan energi, perluasan akses dan jangkauan layanan energi, percepatan transisi energi, serta penguatan hilirisasi sektor migas, minerba, dan bioenergi. Arah kebijakan ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan daya saing industri menuju Indonesia Emas 2045.
Dari sisi grand strategi, lanjut Johni, dahulu arahnya memaksimalkan energi terbarukan, meminimalkan penggunaan bensin, mengoptimalkan gas, dan menempatkan nuklir sebagai opsi terakhir.
Saat ini, arahnya memaksimalkan energi baru dan terbarukan, meminimalkan energi fosil secara keseluruhan, mengoptimalkan gas sebagai energi transisi serta memposisikan nuklir untuk menyeimbangkan dan mencapai target dekarbonisasi.
Johni menjelaskan, arah kebijakan tersebut diterjemahkan menjadi tiga sasaran besar. Pertama, mewujudkan ketahanan energi yang tahan, dengan tetap menjaga keamanan pasokan dan keterjangkauan harga energi.
Kedua, pemenuhan kebutuhan energi yang rasional untuk mencapai target human development index dan pertumbuhan ekonomi tinggi sebagai negara maju, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Ketiga, terwujudnya dekarbonisasi dan transisi energi untuk mencapai peak emission pada tahun 2035 dan net zero emission pada tahun 2060.
Untuk mencapai tiga sasaran tersebut, lanjut Johni, terdapat sepuluh strategi kebijakan. Di antaranya adalah mengendalikan pertumbuhan penduduk untuk meminimumkan konsumsi energi jangka panjang, menurunkan intensitas energi agar pertumbuhan ekonomi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi energi.
Kemudian, melakukan konservasi dan efisiensi energi baik di sisi pemanfaat maupun pemasok, serta memaksimalkan elektrifikasi di semua sektor pengguna dengan mengalihkan pasokan energi final non-listrik ke listrik, atau yang biasa disebut electrify everything.
“Strategi lainnya adalah mendorong deployment sistem dan teknologi energi yang rendah intensitas dan rendah emisi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri untuk meminimumkan impor, memperkuat diversifikasi sumber energi, serta memastikan penyediaan energi yang optimal dari sisi keamanan pasokan, keekonomian, dan emisi karbon. Energi bukan hanya cukup, tetapi harus bersih, efisien, dan terjangkau,” katanya.
Strategi utama transisi energi Indonesia menyeimbangkan empat tujuan utama, yaitu ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan keberlanjutan (sustainability).
“Strategi ini bertumpu pada dua pilar utama yaitu memaksimalkan pemanfaatan energi terbarukan dan solusi rendah karbon, sekaligus mengoptimalkan serta meminimalkan emisi dari penggunaan bahan bakar fosil.
Kemudian, pilar kedua yakni instrumen operasional utama mencakup program efisiensi energi secara agresif, elektrifikasi, sistem energi cerdas (smart systems) serta penerapan teknologi CCS/CCUS yang sangat penting untuk sektor-sektor yang sulit atau mahal untuk dikurangi emisinya (hard-to-abate sectors).
Johni Numberi, Guru Besar Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, dalam kesempatan tersebut juga membedah kebijakan energi nasional dan meninggung nuklir terutama soal fakta, manfaat, risiko, masa depan Perusahaan Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Indonesia.
Johni berbagi gagasan mengenai arah kebijakan energi nasional, khususnya dalam konteks program energi nuklir perlu dilihat secara objektif sebagai salah satu opsi strategis dalam bauran energi nasional.
“Energi nuklir memiliki karakteristik sebagai sumber energi rendah karbon yang mampu menyediakan pasokan listrik dalam jumlah besar secara stabil dan berkelanjutan,” kata Johni lebih lanjut.
Banyak negara maju maupun negara berkembang diakui Johni memanfaatkan PLTN untuk menjaga ketahanan energi, meningkatkan keandalan pasokan listrik, dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Fakta ini menunjukkan, energi nuklir bukan lagi sekadar alternatif, melainkan salah satu instrumen strategis dalam pembangunan berkelanjutan. (*)










