Revitalisasi Situs Moan Subu Sadipun: Menjaga Jejak Leluhur, Merawat Identitas Budaya Keluarga Besar

Keluarga sedang mempersiapkan prosesi adat situs batu menhir yang menyimpan jejak perjalanan sejarah Keluarga Besar Sadipun di Iligetang, Sikka, Flores, Sabtu (18/7/2026). Foto: Istimewa

MAUMERE, ODIYAIWUU.com — Di sebuah kawasan bernama Iligetang, Kecamatan Alok Timur, Sikka berdiri situs batu menhir. Situs itu merekam jejak sejarah ziarah keluarga besar Sadipun di Pulau Flores.

Batu tersebut bukan sekadar peninggalan megalitik. Ia simbol kepemimpinan Kapitan Moan Subu Sadipun yang memimpin pada kurun waktu 1904–1924. Bagi keluarga besar Sadipun, situs ini bukan sekadar penanda asal-usul, struktur sosial, hubungan kekerabatan, hak atas tanah hingga nilai-nilai kepemimpinan warisan lintas generasi.

Batu menhir itu sekaligus ruang simbolik yang menghubungkan kehidupan masyarakat dengan para leluhur. Namun, seiring waktu yang terus bergerak situs tersebut nyaris kehilangan fungsinya.

Berdasarkan catatan keluarga, sejak 1979 situs bersejarah itu tidak pernah dilakukan perawatan fisik maupun penyelenggaraan ritual adat di lokasi tersebut.

Selama 47 tahun, batu menhir dibiarkan absen pemeliharaan hingga mengalami pergeseran. Sebagian sisi mulai miring bahkan tumbang. Lingkungan di sekitarnya juga tak terawat.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan memudarnya memori kolektif generasi muda terhadap identitas budaya dan warisan leluhur, terutama di tengah derasnya arus modernitas.

Kesadaran menghidupkan kembali situs bersejarah tersebut lahir dari generasi muda dan cucu/cucu mantu dari Kapitan Moan Subu Sadipun. Revitalisasi tidak muncul spontan. Ia melewati proses panjang yang dibangun atas dasar solidaritas keluarga.

Tokoh pertama yang menjadi penggerak adalah Petrus Rosli, cucu kandung Kapitan Moan Subu Sadipun, putra dari Ana Anesa dan Yohanes Robertus Jopi. Rosli menjadi inisiator utama membangun kesadaran keluarga besar serta menyatukan visi memulai melakukan revitalisasi.

Di bidang teknis, perencanaan dan pelaksanaan lapangan dikoordinasikan oleh Letisius Esau, cucu mantu Kapitan Moan Subu Sadipun. Ia mengatur seluruh kebutuhan logistik, pembagian tugas, hingga memastikan setiap tahapan fisik berlangsung secara terstruktur dan efektif.

Sementara itu, dimensi adat dan spiritual dipercayakan kepada Daniel David, budayawan Sikka sebagai penyelaras adat sekaligus konseptor filosofis.

David memastikan setiap tahapan ritual tetap berlandaskan nilai-nilai budaya asli Sikka, menjaga kesakralan prosesi serta menginterpretasikan makna filosofis warisan leluhur.

Ketiga inisiator kemudian melakukan pendekatan kepada Ronan Sadipun, tetua adat yang dituakan dalam silsilah Keluarga Besar Sadipun. Melalui serangkaian musyawarah yang melibatkan para cucu dan cece Kapitan Moan Subu Sadipun, keluarga akhirnya mencapai mufakat merawat kembali situs sekaligus menghidupkan kembali ritual adat yang jedah nyaris setengah abad.

Menempatkan Adat Sebagai Panglima

Dalam tradisi masyarakat Sikka, revitalisasi situs adat tidak sekadar dimaknai sebagai pekerjaan fisik. Setiap tahapan harus memperoleh restu leluhur melalui tata cara adat yang telah diwariskan turun-temurun. Karena itu, struktur kepemimpinan ritual pun ditetapkan secara khusus.

Ronan Sadipun dipercaya sebagai pemimpin utama ritual adat. Ia didampingi Gregorius Abelmus Jaro Sadipun sebagai pemimpin prosesi pendamping. Sedangkan Hans Sadipun menjalankan tugas sebagai nodin hoit-piong tewok, pembawa sekaligus penyaji sesajen.

Pembagian peran tersebut menjadi bagian penting agar seluruh prosesi berjalan sesuai hukum adat yang berlaku. Revitalisasi dilakukan melalui tahapan yang tersusun sistematis, memadukan pekerjaan fisik dengan ritual adat.

Tahap pertama diawali dengan nodin hoit bako wua ta’a, penyajian sirih pinang dan rokok sebagai permohonan izin kepada leluhur sebelum kawasan situs dibersihkan.

Setelah izin adat dipanjatkan, keluarga besar melakukan gotong royong membersihkan kawasan situs. Semak belukar disingkirkan, lingkungan ditata kembali, dan kawasan batu menhir dipersiapkan menjadi ruang ritual yang layak serta sakral.

Selanjutnya dilakukan kembali nodin hoit bako wua ta’a sebagai pemberitahuan resmi kepada leluhur mengenai waktu pelaksanaan ritual puncak. Puncak revitalisasi berlangsung pada Sabtu (18/7 2026) melalui pelaksanaan ritual watu wua ai tali, sebuah prosesi adat yang sarat makna filosofis.

Ritual diawali dengan penyajian sirih pinang dan rokok untuk memohon restu kepada leluhur agar posisi batu dapat dikembalikan seperti semula, yakni batu yang miring diluruskan dan batu yang tumbang ditegakkan kembali, neni not helu watu wua ai tali.

Tahapan berikutnya adalah pembersihan batu, hui hok watu wua ai tali menggunakan air bersih yang telah disiapkan di dalam bambu (togan). Prosesi kemudian dilanjutkan dengan mein watu wua ai tali, penyegaran batu menggunakan darah babi sebagai simbol pemulihan kekuatan dan kehidupan.

Ritual berikutnya adalah penyajian makanan dan minuman adat, piong tewok menggunakan peralatan tradisional, seperti maja (bilang), tempurung (korak), anyaman (wajak), sendok batok kelapa (huru korak), gelas moke, wadah air dari batok kelapa (luli tua wair), bambu buluh (wiro) serta tusuk lidi (ka’ge).

Hidangan yang dipersembahkan meliputi nasi (ara/daha), kuah daging babi (lurun gete), hati babi (wawi waten), campuran darah, jeroan dan kelapa setengah tua (kuhak), santan moke (tua dogon), paru-paru mentah berbentuk sate (bokak da’an), moke (tua) serta air (wair).

Prosesi dilanjutkan dengan bliran blatan-saket wawi arun, penyegaran menggunakan percikan air kelapa sekaligus menggantung rahang babi sebagai simbol pemulihan keseimbangan, kedamaian, dan berkat.

Rangkaian ritual ditutup melalui demu Lero Wulan, mendupai Matahari dan Bulan sebagai penanda bahwa seluruh prosesi telah selesai.

Pada tahap ini seluruh sisa makanan maupun peralatan yang tidak digunakan lagi dibakar sebagai bagian dari penyucian sekaligus simbol harmonisasi dengan alam semesta.

Merawat Sejarah untuk Generasi Mendatang

Revitalisasi Situs Batu Menhir Kapitan Moan Subu Sadipun yang dilaksanakan pada 18 Juli 2026 berlangsung dengan khidmat dan memenuhi seluruh kaidah hukum adat yang berlaku di Maumere.

Lebih dari sekadar memperbaiki sebuah batu yang telah lama terbengkalai, revitalisasi ini menjadi ikhtiar menghidupkan kembali memori kolektif, memperkuat identitas budaya serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus Keluarga Besar Sadipun.

Di tengah perubahan zaman, langkah tersebut menjadi penegasan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga dirawat, dipelihara, dan diwariskan sebagai bagian penting dari jati diri masyarakat Sikka. (*)