DAERAH  

Ketua VFWPA Job Dalesa Saksikan Pernyataan Niat Rekonsiliasi dan Penyatuan Kembali ULMWP

Ketua Vanuatu Free West Papua Association (VFWPA) Job Dalesa saat menyaksikan langsung Pernyataan Niat tentang Rekonsiliasi dan Penyatuan Kembali ULMWP di Port Vila, Republik Vanuatu, Sabtu (22/8). Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Ketua Vanuatu Free West Papua Association (VFWPA) Job Dalesa, Sabtu (22/8) menyaksikan langsung Pernyataan Niat tentang Rekonsiliasi dan Penyatuan Kembali United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di Port Vila, Republik Vanuatu.

Presiden Eksekutif ULMWP Menase Tabuni, Rabu (27/8) menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh atas penandatanganan pernyataan niat terkait rekonsiliasi dan penyatuan kembali ULMWP antara Octovianus Mote dan Benny Wenda.

“Kesepakatan ini merupakan langkah strategis untuk mengokohkan kembali ULMWP sebagai wadah representasi persatuan nasional bangsa Papua yang telah diakui Melanesian Spearhead Group, MSG,” ujar Tabuni melalui keterangan tertulis Sekretaris Eksekutif ULMWP Markus Haluk di Jayapura, Papua, Kamis (27/8).

Menurut Tabuni, proses mediasi yang berlangsung sukses difasilitasi Hon Ralph Regenvanu serta Utusan Khusus Pemerintah Vanuatu untuk Dekolonisasi PBB Hon Joe Natuman.

Kesepakatan tersebut bertujuan memperkuat perjuangan bangsa Papua dalam mewujudkan hak penentuan nasib sendiri menuju kemerdekaan dan kedaulatan politik.

“Dari Jayapura, West Papua, saya Menase Tabuni menyampaikan apresiasi atas kesepakatan rekonsiliasi dan menyerukan persatuan menjelang November 2026. Kami menyambut baik dan mengapresiasi kerja keras semua pihak, terutama Pemerintah Vanuatu melalui Menteri Ralph Regenvanu Hon Joe Natuman dan Tuan Jop Dalesa selaku Ketua VFWPA yang telah memfasilitasi proses ini,” kata Tabuni.

Tabuni menegaskan, rekonsiliasi dan persatuan adalah fondasi utama bagi perjuangan ULMWP di tingkat nasional (West Papua), Indonesia, regional, dan internasional.

Oleh karena itu, ia mengajak seluruh komponen, faksi, dan pendukung ULMWP untuk memberikan dukungan, menyatukan langkah serta para pihak terkait supaya hadir dalam rencana rekonsiliasi dan persatuan yang akan diselenggarakan di Port Vila pada November 2026 mendatang.

Sementara itu Octovianus Mote menyampaikan, kita adalah satu bangsa, satu perjuangan. Mote mengajak para pihak untuk datang ke Port Vila pada November 2026 untuk duduk bersama dan menyelesaikan perbedaan demi mempercepat kemerdekaan bangsa Papua.

“Kami berharap agar semua pihak dapat mendekati proses rekonsiliasi ini dengan itikad baik, kerendahan hati, saling menghormati, dan komitmen bersama untuk menjaga keselamatan perjuangan, persatuan serta mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan politik Bangsa Papua,” kata Mote dari Port Vila, Kamis (27/8).

Pernyataan niat tentang rekonsiliasi dan penyatuan kembali ULMWP dilakukan menyusul pertemuan yang diselenggarakan Menteri Adaptasi Perubahan Iklim, Energi, Lingkungan Hidup, Meteorologi Geo-Hazard dan Manajemen Bencana Republik Vanuatu Ralph Regenvanu serta Utusan Khusus untuk Dekolonisasi dan Delimitasi Batas Maritim Joe Natuman di Port Vila, Sabtu (22/8).

Dalam pertemuan tersebut para perwakilan dan pendukung ULMWP bertemu membahas pentingnya rekonsiliasi dan penyatuan kembali serta tindakan bersama dalam memajukan aspirasi masyarakat West Papua.

Sejauh ini masih ada perbedaan antara faksi ULMWP Octavianus Mote dan Benny Wenda sehingga menyadari perlunya mempertahankan dan memperkuat perjuangan masyarakat West Papua melalui kerja sama dan saling menghormati.

Karena itu, para pihak yang hadir menyatakan komitmen mereka terhadap proses rekonsiliasi dan penyatuan kembali secara damai. Para pihak sepakat untuk berpartisipasi dalam upacara rekonsiliasi di Port Vila, Vanuatu pada November 2026 sebagai tonggak penting menuju pemulihan persatuan dan mendorong keterlibatan yang konstruktif di antara semua pihak yang berkepentingan.

Pertemuan tersebut juga mengakui dan mendukung kerja komite rekonsiliasi yang telah dibentuk di West Papua, yang terus menjalin keterlibatan erat dengan gereja-gereja, para pemimpin adat, komunitas, dan masyarakat West Papua.

Sehubungan dengan hal tersebut, disepakati bahwa jalur rekonsiliasi (reconciliation pathway) yang terstruktur akan dijalankan mulai tanggal tersebut dan berpuncak pada pertemuan rekonsiliasi yang diusulkan pada November 2026.

Pertemuan tersebut mengakui bahwa Berghof Foundation, Pacific Conference of Churches, Malvatumauri National Council of Chiefs, dan Vanuatu National Council of Women akan memberikan fasilitasi teknis dalam proses tersebut.

Pemerintah Republik Vanuatu menyatakan kesediaannya untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi proses ini sebagai kontribusi penting dalam memperkuat suara masyarakat West Papua yang bersatu mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan martabat, hak, kesejahteraan, dan hak asasi manusia masyarakat Melanesia di West Papua.

Pemerintah juga mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk menjalani proses rekonsiliasi dengan semangat itikad baik, kerendahan hati, saling menghormati, dan komitmen bersama terhadap masa depan masyarakat West Papua.

Para peserta menegaskan kembali keyakinan mereka bahwa rekonsiliasi dan penyatuan kembali merupakan landasan penting bagi advokasi yang efektif dan keterlibatan bersama dalam berbagai persoalan yang berdampak pada West Papua di tingkat nasional, regional maupun internasional.

Pernyataan niat tersebut disaksikan Job Dalesa bersama dengan anggota ULMWP dan para pejabat senior yang hadir. Para peserta antara lain anggota Parlemen Ralph Regenvanu, utusan khusus Joe Natuman serta perwakilan ULMWP Benny Wenda dan Octavianus Mote. (*)