Oleh Willem Wandik, S.Sos
Bupati Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan
PADA peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, tema nasional yang diusung yaitu Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur dan tema tingkat kabupaten yaitu Tolikara Tanah Injil-Tanah Damai: Kemerdekaan yang Didengar, Dirasakan, dan Dipertanggungjawabkan kepada Rakyat.
Pertama-tama, marilah kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Bapa, Tuhan Yang Mahakuasa. Hanya karena kasih, kemurahan, dan pemeliharaan-Nya, pada pagi yang penuh berkat ini kita dapat berdiri bersama dalam keadaan damai untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Atas nama Pemerintah Kabupaten Tolikara, saya menyampaikan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 kepada seluruh masyarakat. Kita memberikan penghormatan kepada para pahlawan, para pejuang, para pendiri bangsa, serta semua anak bangsa yang telah berkorban agar hari ini kita dapat hidup dalam satu negara yang merdeka.
Namun pada hari kemerdekaan ini, saya tidak berdiri di hadapan rakyat untuk mengumumkan bahwa pemerintah telah berhasil. Saya berdiri untuk mengajak kita semua bertanya: sudahkah kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh rakyat?
Kemerdekaan di Tengah Gejala Sosial Bangsa
Saudara-saudara sekalian, beberapa hari menjelang 17 Agustus 2026, kita menyaksikan bangsa ini sedang diuji oleh banyak keadaan sekaligus. Di berbagai daerah muncul aspirasi dan demonstrasi.
Di tanah Papua ada perbedaan pandangan politik yang disampaikan di ruang publis dan di daerah lain persoalan pelayanan, anggaran, dan distribusi dana kampung dapat memicu ketegangan. Sementara saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur sedang menghadapi dampak gempa bumi dan membutuhkan solidaritas seluruh anak bangsa.
Pada saat yang sama, media sosial bergerak sangat cepat. Berita yang benar bercampur dengan potongan video tanpa konteks, kemarahan bercampur dengan fakta, kritik bercampur dengan provokasi. Satu kejadian lokal dapat dalam hitungan menit diberi narasi seolah-olah seluruh bangsa sedang kacau. Di sinilah kedewasaan kita sebagai warga negara diuji.
Kita tidak boleh memusuhi kritik. Kita tidak boleh takut kepada perbedaan pendapat. Negara yang kuat bukan negara yang membuat rakyat diam; negara yang kuat adalah negara yang mampu mendengar rakyat, melindungi hak mereka, dan menyelesaikan perbedaan melalui hukum, dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Tetapi kebebasan juga tidak boleh berubah menjadi kebencian. Aspirasi tidak boleh berubah menjadi kekerasan. Perbedaan tidak boleh dipakai untuk membakar fasilitas umum, merusak kehidupan masyarakat, mengadu suku dengan suku, gereja dengan gereja, rakyat dengan aparat, atau kampung dengan kampung.
Di ruang digital pun kita harus bertanggung jawab: jangan menjadi penyebar kabar yang belum benar, jangan menjadi kurir kebencian, dan jangan membiarkan potongan video dari tempat lain membakar rumah kita sendiri. Kemerdekaan memberi kita hak untuk bersuara, tetapi iman dan budaya mengajar kita bagaimana menyampaikan suara itu dengan bermartabat.
Tolikara Diberkati Tuhan
Masyarakat Tolikara yang saya kasihi, kita patut bersyukur. Di tengah berbagai gejala sosial yang kita lihat di banyak tempat, Tuhan memberi kita anugerah untuk memperingati 17 Agustus dalam suasana yang sejuk, aman, dan damai.
Kita tidak mengatakan bahwa Tolikara tidak mempunyai masalah. Kita masih memiliki banyak kekurangan. Tetapi kita bersyukur karena kita memilih untuk menjaga rumah kita bersama.
Tolikara diberkati Tuhan karena Injil telah berakar di tanah ini. Injil bukan hanya sejarah gereja. Injil telah ikut membentuk cara kita memandang manusia, persaudaraan, pengampunan, pendidikan, pelayanan, dan perdamaian.
Karena itulah sejak kami menerima amanat pemerintahan pada tahun 2025, arah pembangunan Kabupaten Tolikara tidak kami pisahkan dari identitas rohani dan budaya masyarakat.
Dalam RPJMD Kabupaten Tolikara Tahun 2025-2029, visi kita adalah Terwujudnya Tolikara yang Religius, Berbudaya, Mandiri, Adil dan Sejahtera. Misi pertama kita adalah mengembangkan Tolikara sebagai Pusat Kerohanian dan Pusat Kebudayaan. Bahkan arah kebijakan daerah menempatkan deklarasi Tolikara sebagai Pusat Pengabaran Injil dan Tanah Perdamaian sebagai salah satu fondasi pembangunan.
Bagi saya, inilah makna Tolikara sebagai Tanah Injil, Tanah Kristus yang memelihara damai. Sebutan itu tidak boleh berhenti pada spanduk, pidato, atau acara gerejawi. Tanah Injil harus terlihat buahnya dan kasih lebih kuat daripada kebencian.
Pengampunan lebih kuat daripada dendam; musyawarah lebih kuat daripada kekerasan; kejujuran lebih kuat daripada korupsi; kerja lebih kuat daripada kemalasan; dan pelayanan lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Firman Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Karena itu, menjaga damai bukan pekerjaan aparat saja. Menjaga damai adalah panggilan gereja, panggilan adat, panggilan pemerintah, panggilan pemuda, panggilan perempuan, panggilan setiap keluarga, dan panggilan setiap orang yang mengaku mengasihi Tolikara.
Tuhan telah memelihara Tolikara sampai hari ini. Maka kewajiban kita adalah merawat damai itu dengan iman yang hidup, budaya yang mengakar, dan pemerintahan yang mau mendengar.
Damai Adalah Fondasi Pembangunan
Saudara-saudara, jalan dapat dibangun dengan anggaran. Gedung dapat dibangun dengan kontrak. Tetapi kepercayaan tidak dapat dibeli. Kepercayaan dibangun dengan kejujuran, kehadiran, pelayanan, dan kesediaan untuk mendengar. Demikian pula damai. Damai adalah infrastruktur sosial paling mahal, karena ia dibangun dari generasi ke generasi.
Tanpa damai, sekolah tidak berjalan baik. Puskesmas tidak melayani dengan tenang. Guru dan tenaga kesehatan enggan bertugas. Pesawat sulit melayani. Pasar sepi. Investor tidak datang. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan. Sebaliknya, ketika kampung aman, gereja bersatu, adat dihormati, pemerintah hadir, dan aparat bekerja secara humanis, pembangunan mempunyai tanah yang kokoh untuk bertumbuh.
Kita tentu masih menemukan kekurangan di Tolikara: akses antarwilayah yang sulit, pelayanan pendidikan dan kesehatan yang belum sama mutunya, kebutuhan transportasi udara perintis, listrik, air bersih, ekonomi kampung, lapangan kerja generasi muda, serta pelayanan pemerintahan yang harus lebih cepat, transparan, dan dekat dengan masyarakat. Kita tidak akan menutupi kekurangan-kekurangan itu dengan pidato.
Pilihan kita bukan mengeluh tanpa bekerja. Pilihan kita juga bukan menutup telinga terhadap keluhan rakyat. Pilihan kita adalah bekerja sambil mendengar; memperbaiki sambil dikoreksi; dan menyelesaikan masalah bersama gereja, adat, perempuan, pemuda, intelektual, TNI, Polri, DPRK, dan seluruh masyarakat.
Kami percaya keharmonisan pemerintah dengan tokoh gereja dan tokoh adat bukan sekadar kebutuhan seremonial. Itu adalah fondasi bernegara di Tolikara. Gereja menjaga suara moral. Adat menjaga identitas, tanah, dan kebijaksanaan masyarakat. Pemerintah mengelola amanat publik. Ketiganya harus saling mengingatkan dan saling menghormati.
Hari Rakyat Mengoreksi Negara
Hadirin sekalian, saya ingin mengatakan dengan jelas: perayaan 17 Agustus tidak boleh hanya menjadi panggung untuk pemerintah mengumumkan keberhasilannya sendiri. Hari kemerdekaan harus menjadi hari ketika negara berani bercermin di depan rakyat.
Kalau masih ada anak yang kesulitan bersekolah, itu koreksi bagi kita. Kalau masih ada mama yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, itu koreksi bagi kita. Kalau ada kampung yang belum menikmati pelayanan dasar secara layak, itu koreksi bagi kita.
Kalau masyarakat kesulitan menjual hasil kebun, pemuda sulit memperoleh kesempatan kerja, biaya transportasi terlalu berat, atau pelayanan kantor membuat rakyat merasa dipersulit, itu semua adalah pekerjaan rumah pemerintah. Biarlah rakyat yang menjadi hakim atas kerja kami. Jangan ada klaim keberhasilan apabila rakyat sendiri belum merasakan perubahan.
Saya sebagai Bupati Tolikara, bukanlah pemilik kekuasaan. Saya hanyalah pemegang amanat. Jabatan Bupati tidak berarti apa-apa apabila rakyat tidak merasakan kehadiran pemerintah. Pemerintah juga bukan pemilik Tolikara.
Dalam demokrasi, kedaulatan berada di tangan rakyat; dalam kehidupan adat, masyarakat menjaga tanah, sejarah, dan martabatnya; dan dalam iman, kita percaya seluruh kehidupan ini adalah titipan Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.
Karena itu saya mengajak mulai dari Kepala Kampung, Kepala Distrik, Kepala Dinas, seluruh ASN, DPR Kabupaten, TNI, Polri, wakil Pemerintah Pusat, sampai kepada kami Bupati dan Wakil Bupati: relakan diri kita dikoreksi oleh rakyat. Jangan cepat marah ketika dikritik. Jangan merasa jabatan membuat kita selalu benar. Kritik yang jujur adalah alarm agar pemerintah tidak tertidur.
Pada saat yang sama, saya mengajak masyarakat: sampaikan koreksi dengan keberanian, tetapi juga dengan kebenaran. Bedakan kritik dengan fitnah. Bedakan aspirasi dengan provokasi. Bedakan perjuangan untuk keadilan dengan tindakan yang justru merugikan rakyat sendiri. Kita boleh berbeda keras dalam pikiran, tetapi kita tidak boleh kehilangan persaudaraan sebagai satu keluarga besar Tolikara.
Memaknai Indonesia dari Tolikara
Tema nasional HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia adalah Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Dari Tolikara, kita ingin memberi makna yang sangat konkret terhadap tiga kata itu.
Berdaulat berarti rakyat tidak merasa asing di negerinya sendiri. Suaranya didengar, hak adatnya dihormati, tanahnya tidak diperlakukan seolah-olah kosong, dan setiap kebijakan hadir melalui dialog yang bermartabat.
Adil berarti pembangunan tidak berhenti di kota. Anak di kampung jauh mempunyai hak yang sama untuk belajar. Mama di pegunungan mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan. distrik yang sulit dijangkau mempunyai hak yang sama terhadap infrastruktur, komunikasi, transportasi, dan pelayanan pemerintahan.
Makmur berarti kemerdekaan masuk ke dalam dapur keluarga. Hasil kebun mempunyai pasar. Petani dan mama-mama memperoleh harga yang layak. Pemuda mempunyai pendidikan, keterampilan, dan pekerjaan.
Anak-anak tumbuh sehat. Pelayanan kesehatan dapat dijangkau. Ekonomi kampung bergerak. Dan rakyat tidak hanya melihat pembangunan, tetapi menjadi pemilik manfaat pembangunan.
Itulah pekerjaan besar yang belum selesai. Karena itu pada 17 Agustus ini, kita tidak ingin membuat janji yang berlebihan. Kita ingin memperbarui cara bekerja: lebih hadir, lebih terbuka, lebih disiplin, lebih adil, lebih dekat kepada kampung, dan lebih setia pada amanat RPJMD Tolikara 2025-2029.
Pesan Kepada Generasi Muda dan Masyarakat
Kepada anak-anak muda Tolikara, saya titipkan masa depan daerah ini. Gunakan telepon genggam dan media sosial untuk belajar, membangun jaringan, mempromosikan budaya, hasil kebun, pariwisata, pendidikan, dan karya kreatif. Jangan serahkan pikiran kalian kepada algoritma yang hanya memberi kemarahan. Periksa sebelum membagikan. Dengarkan sebelum menghakimi. Berdebatlah dengan data dan martabat.
Kalian boleh kritis kepada Bupati. Kalian boleh kritis kepada pemerintah. Bahkan kalian harus kritis. Tetapi jadilah generasi yang mampu menawarkan jalan keluar. Kemerdekaan membutuhkan pemuda yang berani bertanya sekaligus berani bekerja; berani menolak ketidakadilan sekaligus berani menjaga damai.
Kepada para hamba Tuhan, teruslah doakan pemerintah, tetapi jangan berhenti mengingatkan kami. Kepada para kepala suku dan tokoh adat, jagalah persatuan dan hak masyarakat.
Kepada aparat keamanan, jadilah pelindung yang dekat dengan rakyat dan mengutamakan pendekatan persuasif serta humanis. Kepada ASN dan seluruh pelayan publik, layani masyarakat tanpa membeda-bedakan.
Kepada seluruh rakyat Tolikara, mari kita jaga rumah kita. Jangan biarkan kepentingan sesaat merusak persaudaraan yang diwariskan leluhur dan dipulihkan oleh Injil.
Kita ingin ketika orang melihat Tolikara, mereka melihat satu kesaksian: bahwa Tanah Injil mampu menjadi Tanah Damai; bahwa masyarakat adat, gereja, negara, dan generasi muda dapat hidup bersama dengan saling menghormati.
Kemerdekaan Adalah Tanggung Jawab
Saudara-saudara yang saya kasihi, 17 Agustus mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak diberikan dengan mudah. Karena itu kemerdekaan juga tidak boleh diisi dengan kesombongan kekuasaan. Ia harus diisi dengan pelayanan, keadilan, keberanian mengoreksi diri, kerja keras, dan kesediaan merawat persaudaraan.
Hari ini kita juga menyampaikan doa dan solidaritas kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi bencana, kesulitan, konflik sosial, dan berbagai pergumulan di tanah Papua dan seluruh Indonesia.
Kita berdoa agar Tuhan memulihkan yang terluka, menguatkan keluarga yang berduka, memberi hikmat kepada para pemimpin, dan menjaga tanah Papua serta Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam damai.
Marilah kita pulang dari upacara ini bukan hanya membawa semangat merah putih, tetapi membawa tanggung jawab: kepala kampung kembali melayani kampungnya dan kepala distrik hadir di tengah masyarakat.
Kepala dinas memperbaiki pelayanan; guru kembali mendidik dengan hati; tenaga kesehatan melayani dengan kasih; aparat menjaga rakyat dengan bermartabat; gereja menjaga suara moral; adat menjaga persaudaraan; dan pemerintah membuka diri terhadap koreksi.
Tolikara akan maju bukan karena satu orang Bupati. Tolikara akan maju apabila seluruh rakyat merasa memiliki, seluruh pemimpin mau melayani, dan Tuhan tetap menjadi pusat kehidupan kita.
Mari kita jaga Tolikara sebagai Tanah Injil-Tanah Damai. Tanah Kristus yang memelihara damai. Tanah di mana iman tidak memisahkan kita dari kehidupan bernegara, tetapi justru mengajar kita untuk berlaku adil, mengasihi sesama, menghormati martabat manusia, dan bekerja bagi kesejahteraan bersama.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Tolikara Religius, Berbudaya, Mandiri, Adil, dan Sejahtera! Tolikara Tanah Injil – Tanah Damai! Tuhan memberkati Kabupaten Tolikara. Tuhan memberkati Tanah Papua. Tuhan memberkati Negara Kesatuan Republik Indonesia. Shalom. Wa… Wa… Wa… Yaki… Yaki… Yaki… Jou Suba.
Disarikan dari Sambutan Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Karubaga, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Senin, 17 Agustus 2026










