MAKASSAR, ODIYAIWUU.com — Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Selvi Gibran Rakabuming Raka, Jumat (10/7 secara resmi membuka acara puncak syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dekranas di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sulawesi Selatan.
Selvi di hadapan lebih dari 3.000 pengurus Dekranas dan Dekranas Daerah (Dekranasda) seluruh Indonesia menekankan pentingnya pergeseran fokus dari kuantitas kegiatan seremonial menuju kualitas pembinaan yang berdampak nyata bagi perajin lokal.
HUT Dekranas bertajuk Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia menjadi momentum krusial bagi kebangkitan sektor kriya nasional. Pembukaan ditandai dengan pemukulan Gendang Pajjajari oleh Selvi Gibran, dilanjutkan prosesi pemotongan tumpeng.
Selain itu, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Bank Indonesia dan Dekranas terkait sinergi program pengembangan sektor kerajinan nasional.
Selvi dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kota Makassar sebagai tuan rumah yang dinamis dan kaya budaya. Menghormati tradisi setempat, Selvi, istri Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka, tampil mengenakan Baju Bodo bernuansa merah muda lengkap dengan hiasan bando khas Bugis-Makassar.
Langkah ini diikuti kompak oleh jajaran pengurus, termasuk Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian dan Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman yang turut mengenakan busana adat setempat.
“Makassar selalu menarik perhatian. Hari ini kita tampil berwarna-warni sesuai ciri khas masyarakat Makassar. Semua tampil cantik dan memukau. Kalau orang Makassar bilang, cantik na ngaseng, kalau orang Bugis bilang, mancentik manengki,” ujar Selvi melalui keterangan tertulis yang diperoleh di Jakarta, Sabtu (11/7).
Selvi juga memberikan catatan bagi arah pergerakan organisasi ke depan. Ia menegaskan, keberhasilan Dekranas tidak boleh lagi diukur dari seberapa banyak program yang digelar namun dari solusi konkret yang dihadirkan untuk menjawab persoalan perajin.
“Tidak hanya kuantitas pembinaan yang dibutuhkan, tetapi kualitas pembinaan yang benar-benar menyasar persoalan para perajin sehingga kita bisa mencarikan solusi yang tepat,” kata Selvi.
Selvi mengingatkan, tantangan pasar global kian kompleks akibat perubahan selera konsumen yang cepat dan pesatnya digitalisasi. Oleh karena itu, produk kerajinan berbasis bahan baku lokal.
Misalnya, keramik serat alam, batu kayu hingga logam harus didorong untuk naik kelas melalui peningkatan standar mutu, kemasan yang memikat serta prinsip ramah lingkungan.
“Dekranas dan Dekranasda tidak boleh hanya menjadi penyelenggara acara. Harus menjadi pendamping, pembina, dan fasilitator yang membantu membuka akses permodalan, pelatihan desain, kemasan, digitalisasi, pemasaran global, manajemen keuangan hingga perizinan ekspor,” katanya.
Selvi juga meminta setiap program pelatihan memiliki target yang terukur dan pendampingan berkelanjutan hingga perajin mampu menembus pasar internasional.
Selvi mengingatkan, setiap program pelatihan memiliki target yang terukur dan pendampingan berkelanjutan hingga perajin mampu menembus pasar internasional. Usai memberikan arahan, Selvi bersama Tri Suswati Tito Karnavian meninjau langsung pameran Stan Kriya dan Wastra di lantai dasar TSM Makassar.
Pameran tersebut menghadirkan 200 stan dari berbagai Dekranasda provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia yang memamerkan produk-produk kerajinan unggulan nusantara sebagai etalase kekayaan budaya bangsa. (*)










