Puisi: Cinta yang Agung dan Semalam Karya Kahlil Gibran

Kahlil Gibran. Foto: Istimewa

Cinta: Kesatuan

 

Suatu hari engkau bertanya kepadaku,

Manakah yang lebih penting bagimu

Hidupku atau hidupmu?

 

Aku berkata, hidupku

Lalu engkau pergi tinggalkan aku

 

Tanpa kau tahu

Engkaulah sejatinya hidupku itu

 

Jatuh Cinta Padamu

 

Jatuh cinta padamu

Memesonanya kamu

Menyungging senyummu

Menghiasi raut wajahmu

 

Mendiamkan detak jantungku

Mataku jadi pencuri senyummu

Yang menghantam jantungku

Bingung tak menentu

 

Dengan kehadiranmu

Mungkinkah menerimaku

Kutakut kehilanganmu

Bila kau tahu perasaanku

Yang jatuh cinta padamu

 

Cinta yang Agung

 

Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih

menunggunya dengan setia

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata ‘Aku turut berbahagia untukmu’

 

Apabila cinta tidak berhasil

Bebaskan dirimu

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas lagi

Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya

Tapi ketika cinta itu mati kamu tidak perlu mati bersamanya

Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh

 

Wanita Sempurna

 

Aku akan tetap

Di sekitarmu dan dekat

Kamu tidak perlu takut

Kamu dibuat khusus

Oleh Mahakuasa untuk keberuntunganku

 

Aku akan menyentuh tubuhmu

Sebagai seseorang yang mencinta

Menginformasikan angin

Dan membuatmu menyerah

Dengan mantra sihir

Aku akan muncul di pagi hari

Dalam suara ayam yang menyambutmu

 

Ketika kamu pergi untuk berjalan-jalan pagi

Dan mendengar panggilanku

Kamu tidak bisa merangkul

Karena aku tidak punya wajah

Aku ada di mana-mana

Dan masih kamu menemukanku ada di mana-mana

 

Kamu seorang wanita sempurna

Dan baik hati

Aku akan merangkulmu dengan cinta

Pegang aku dalam iman dan percaya

 

Enyahlah dari Bumi

 

Kemurkaan telah enyah dari bumi dan dengan anggun dan agung bumi itu berjalan

Bumi membangun istana-istana dan mendirikan menara-menara dan kuil-kuil

 

Dan bumi menenun legenda-legenda, doktrin-doktrin, dan hukum-hukum

Lalu bumi pun terselimuti haluan yang letih oleh kerja, impian-impian dan fantasi-fantasinya

Dan mata bumi kemudian diperdaya oleh kelaparan dalam istirahat abadi

 

Dan bumi memanggil,

“Aku adalah rahim dan pusara, dan aku akan tetap menjadi rahim dari pusara sampai planet-planet tidak ada lagi dan mentari berubah menjadi abu.”

 

Anak-Anakmu

 

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan

Yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

 

Meskipun mereka ada bersamamu

Tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu tapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

 

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok

Yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

 

Engkau bisa menjadi seperti mereka tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

 

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian

Dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya

Sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

 

Jadikanlahh tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang

Maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan

 

Anakmu Bukanlah Milikmu

 

Anakmu bukanlah milikmu

Mereka adalah putra putri sang Hidup

yang rindu akan dirinya sendiri

 

Mereka lahir lewat engkau

Tetapi bukan dari engkau

Mereka ada padamu tetapi bukanlah milikmu

 

Berikanlah mereka kasih sayangmu

Namun jangan sodorkan pemikiranmu

Sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri

 

Patut kau berikan rumah bagi raganya

Namun tidak bagi jiwanya

Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan

Yang tiada dapat kau kunjungi

Sekalipun dalam mimpimu

 

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka

Namun jangan membuat mereka menyerupaimu

Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur

Ataupun tenggelam ke masa lampau

 

Engkaulah busur asal anakmu

Anak panah hidup melesat pergi

 

Sang pemanah membidik sasaran keabadian

 

Semalam

 

Semalam aku sendirian di dunia ini, kekasih;

dan kesendirianku sebengis kematian­

Semalam diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara,

Di dalam fikiran malam.

Hari ini­ aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari.

Dan, ia berlangsung dalam seminit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan­ sekucup ciuman

 

Ku Ingin Tahu Siapa

 

Dia yang memikat hati

Entah bagaimana caranya

Aku bisa tergoda

 

Ku curi-curi waktuku

Tuk mengusik hatinya

Banyak cara kucoba

Demi untuk mendapatkan hatinya

 

Mungkin kau tahu

Tuk mendapatkannya

Tuhan tolonglah aku

Ingin kumenangkan hatinya tuk miliki

 

Jika mungkin kutahu apa yang bisa menaklukannya

Belah dadaku tuk buktikan cintaku

Mungkin engkau tahu aku cinta dia

Ingin ku menangkan hatinya tuk kumiliki

 

Rahasia Biruku

 

Biru­

Aku ingat saat dirimu menatap mataku dengan lembut

Dan berkata bahwa cintamu merupakan mahakarya indah penuh makna

Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata

Hanya bisa dirasakan dengan hati yang terdalam

 

Biru­

Ternyata dirimulah yang bisa membuatku kembali membuka hati

Yang tertutup rapat oleh serpihan luka yang lama terpendam

Membuatku dapat melupakan semua keraguan jiwa

dan lebih merasakan hangatnya cinta­

 

Biru­

Kau mampu memberiku warna yang berbeda di setiap sisi lemahku­

Membuatku tertawa, tersenyum, dan lebih semangat menjalani hari-hariku bersamamu

Kau juga memberiku rasa tenang, damai, dan juga cinta disampingmu

Dengan segala kekuranganku

 

Kau memang spesial di hatiku­

Kau juga inspirasi di setiap langkah-langkahku­

 

Biru­

Kau sungguh membuatku bersyukur karena memilikimu,

Memberi sejuta rasa untuk menghargai cinta dan indahnya kehidupan­

Karya Kahlil Gibran

Kahlil Gibran lahir 6 Januari 1883 di Bsharri, Lebanon, bagian dari Suriah dan Kekaisaran Ottoman. Kahlil Gibran dikenal sebagai seorang novelis, penyair, serta seniman dunia. Nama Kahlil Gibran dikenal juga di dunia Arab sebagai Gibran Khalil Gibran.

Kahlil Gibran adalah anak bungsu pasangan suami-istri (pasutri) Khalil Sa’d Jubran dan Kamila Jubran. Khalil Sa’d Jubran seorang pemungut bea (pajak). Nasib tragis Khalil Sa’d Jubran berujung di bui akibat menggelapkan pajak.

Sedang sang bunda, Kamila Jubran, adalah putri seorang pendeta di Gereja Kristen Maronit. Pada 1885, Gibran pergi ke ke Amerika Serikat bersama ibu dan saudara-saudaranya.

Di negeri Pam Sam, Kahlil Gibran beserta keluarga tinggal di Boston, Massachusetts, tempat di mana komunitas Suriah dan Lebanon menetap. Di Amerika Serikat ia belajar bahasa Inggris dan seni. Sang bunda bekerja sebagai penjahit demi menghidupi keluarga.

Pada usia 15 tahun, sang bunda mengirimnya ke Beirut, Lebanon di Sekolah Maronit. Usai merampungkan sekolah Gibran kembali ke Boston tahun 1902. Sayang ibunya meninggal akibat menderita tuberkulosis dan kanker.

Usaha menjahit sang bunda kemudian dilanjutkan Marianna guna bertahan hidup. Tahun 1904, Kahlil Gibran mulai menerbitkan artikel di sebuah surat kabar berbahasa Arab. Gibran meninggal dunia pada 10 April 1931 di Kota New York. Ia menutup mata selamanya akibat sirosis hati.