WAMENA, ODIYAIWUU.com — Dua kelompok massa Jumat (15/5) pagi hingga siang terlibat aksi saling serang dengan senjata tajami berupa busur dan anak panah di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Ketegangan kedua kelompok dikabarkan sudah mulai meningkat sejak Kamis (14/5) malam dan membuat warga sekitar Distrik Wouma memilih mengungsi ke pusat kota Wamena.
Aksi saling serang tersebut tidak hanya menimbulkan kekhawatirang jatuhnya korban jiwa, terhentinya aktivitas ekonomi masyarakat dan pelayanan pembangunan hingga retaknya nilai-nilai solidaritas sosial dan budaya warisan leluhur.
Pengacara muda nasional asal Papua Pegunungan Michael Himan, SH, MH merasa sedih dan prihatin terkait perang sukun yang terjadi Jumat (15/5). Michael juga mempertanyakan, sampai kapan tanah Papua Pegunungan terus dibasahi darah dan air mata akibat perang suku yang terus berulang.
“Sampai kapan nyawa manusia Papua dijadikan alat memenuhi nafsu pribadi? Pertanyaan refletif ini harus kita renungkan bersama, terutama sesama saudara yang terlibat perang suku. Ingat jumlah kita orang asli Papua sedikit. Ingat, jumlah kita sedikit,” ujar Michael Himan melalui keterangan tertulis dari Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Jumat (15/5).
Michael juga mengingatkan pihak-pihak yang terlibat perang suku bahwa satu nyawa manusia Papua sangat berharga dan tidak bisa ditukar dengan uang, jabatan, ataupun kepentingan apapun. Manusia itu ciptaan Tuhan paling mulia dan tak boleh seorang manusia pun berhak menghilangkan ciptaan-Nya atas nama perang suku.
“Para pelaku tindak kekerasan wajib diproses secara hukum bila terbukti terlibat atau menghasut pihak lain melakukan kekerasan. Bila terbukti dijatuhkan hukuman setimpal sesuai perbutanannya. Jangan biarkan pelaku berbuat semaunya hingga sesame saudara yang tak tahu-menahu masalah kehilangan nyawa,” kata Michael.
Michael juga merasa prihatin mengingat konflik perang suku yang berujung saling membunuh selalu menjadi alasan karena menjaga harga diri. Tuntutan “bayar kepala” dalam konflik yang memakan uang hingga miliaran rupiah terkesan menjadikan perang ladang mencari keuntungan bagi banyak pihak.
“Jika pola ini terus dibiarkan, maka rakyat kecil akan terus menjadi korban demi kepentingan segelintir orang. Akibat perang suku yang terus terjadi kapan saja, saat ini Papua Pegunungan bukan malah berpotensi mengalami krisis bahkan kelumpuhan ekonomi tetapi juga situasi kamtibmas tidak kondusif,” kata Michael.
Menurutnya, akibat perang suku anak-anak bisa kehilangan ayah atau saudaranya. Padahal, mereka menjadi jaminan kelangsungan masa depan, terutama pendidikan. Perang juga akan melumpuhkan semua sendi kehidupan, relasi sosial dan budaya yang sudah terawat dengan baik.
“Sekali lagi, saya mohon agar saudaraku sekalian yang terlibat perang suku segera berhenti. Perang suku tidak pernah membawa kebahagiaan, merekatkan relasi sosial budaya antar suku di Papua Pegunungan,” katanya.
Menurut Michael, perang suku malah menambah penderitaan, warga kehilangan kesempatan meraih sukses dalam keluarga. Perang melenyapkan kesempatan gerenasi muda mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan daerah.
“Mari kita saling mendoakan dan mengasihi sebagai sesama anak honai yang hidup damai di atas tanah leluhur kita. Kita rawat persaudaraan dan bergandengan tangan meraih sukses. Ayo, hentikan perang suku. Mari berdamai karena damai itu baik adanya,” ujar Michael. (*)










