JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Sejumlah akademisi dan tokoh nasional serta daerah, Rabu (6/4) akan tampil sebagai pembicara dalam acara bedah buku seminar biografi tokoh Papua Tom Beanal di Jakarta.
Menurut rencana bedah buku sekaligus seminar tiga seri buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua, menghadirkan para pembicara sekaligus pembahas dari berbagai kalangan, termasuk penulis buku.
Mereka adalah dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta Dr Budi Hernawan; Ketua Asosiasi Antropologi Indonesia sekaligus Universitas Indonesia Dr Suraya Afiff serta tokoh masyarakat Papua sekaligus Wakil Ketua I DPD RI Yorrys Raweyai.
Selain itu, Inayah Wulandari Wahid, aktivis dan pemerhati sekaligus putri Presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur); pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukun Indonesia (YLBHI) Emanuel Gobay SH, MH; dan tokoh muda Papua sekaligus ketua tim penulisan buku Markus Haluk.
“Ketiga seri buku Thom Beanal menghimpun kesaksian para penulis dengan beragam latar belakang dan disiplin ilmu. Ada sekitar 47 penulis,” ujar Markus Haluk di Jayapura, Papua, Minggu (3/5).
Menurut Markus, dalam seri buku itu tidak hanya menyajikan testimoni (kesaksian) orang dekat Thom Beanal, tetapi juga menghadirkan karya dan pemikiran Thom di bidang lingkungan, masyarakat adat, organisasi, sejarah-politik, dan hak asasi manusia (HAM).
“Sesudah kami luncurkan di Jayapura akhir Februari, kini berniat mendiskusikan buku ini dengan sejumlah komunitas di Jakarta. Melalui sosok Thom Beanal, kami ingin mendiskusikan bagaimana bisa belajar dari seorang Thom dan melakukan refleksi kritis dan dialektis dalam memahami situasi Papua saat ini,” Markus.
Markus menjelaskan, seri pertama merupakan sebuah persembahan dan apresiasi yang ia tulis. Sedangkan seri edua memuat kesaksian keluarga, baik anak-anak, istri, dan keluarga dekat serta pandangan mereka terhadap Gereja dan Bangsa Papua.
Lalu, seri ketiga berisi kesaksian untuk Torey Negel Amungme-Papua, yang di dalamnya memuat catatan 47 orang penulis dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu serta bidang pengabdian dan pekerjaan.
“Buku ini disusun untuk mengenang dan mendokumentasikan karya serta perjalanan hidup Bapa Thomas Beanal atau Thom Beanal, seorang tokoh penting bagi gereja, adat, dan bangsa Papua. Ia dikenal sebagai gembala atau pastor awam, pemimpin adat, aktivis LSM, advokat HAM, pemimpin bangsa Papua, dan Komisaris PT Freeport Indonesia tahun 2000–2018,” ujar Markus.
Markus menambahkan, proses penulisan buku dimulai dengan pembentukan tim kerja pada 6 April 2024 di Jayapura. Setelah hampir satu tahun, katanya, naskah yang dibutuhkan berhasil dikumpulkan. “Memasuki akhir tahun 2025, naskah mulai dicetak dan hasilnya sudah berada di tangan para pembaca,” katanya.
Thom Beanal lahir 11 Juli 1947 di Tsinga, kaki Gunung Nemangkawi, Mimika, Papua Tengah. Ia menikah dengan Bertha Kum dan dikaruniai lima orang anak serta empat belas orang cucu. Torey Negel/Menagawan Thomas Beanal (Thom Beanal) meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura pada 29 Mei 2023 pukul 14.05 waktu Singapura dalam usia 76 tahun.
Pada 3 Juni 2023, jenazahnya dimakamkan di Mile 32, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika. Publik di tanah Papua dan berbagai kalangan merasa kehilangan atas kepergiannya. Ungkapan duka mengalir dari berbagai penjuru.
Sebagai wujud belasungkawa, rakyat Papua di Mimika mendirikan tenda duka di beberapa lokasi. Saat jenazah tiba dari Singapura melalui Manado, mereka menyambutnya dengan haru di tengah hujan —pertanda bahwa alam semesta di tanah Papua turut berduka atas kepergian pemimpin bangsa ini.
Semasa hidup, Thom aktif sebagai guru dan pastor awam di lingkungan gereja Katolik tanah Papua. Ia juga terlibat dalam pendirian Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (Lemasa) dan Dewan Adat Papua (DAD). Ia turut mendirikan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang lingkungan hidup, hak asasi manusia (HAM), dan politik.
Puncak kiprahnya, ia dipercaya sebagai pemimpin bangsa Papua untuk memimpin 100 orang wakil rakyat Papua dalam pertemuan dengan Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie pada Februari 1999. Selanjutnya, melalui Kongres Papua II, ia terpilih sebagai Wakil Ketua Dewan Presidium Dewan Papua.
Thom Beanal adalah sosok pemimpin yang berintegritas dan demokratis. Dalam menjalankan tugas pengabdiannya, ia setia dan sungguh-sungguh melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Ia tidak pernah memilah-milah tugas dan pekerjaan. Apa pun yang diamanatkan oleh pemimpin gereja maupun oleh rakyat bangsa Papua melalui sebuah forum, ia laksanakan dengan penuh tanggung jawab. Ia selalu disiplin dalam hal waktu dan dalam melaksanakan keputusan.
Thom Beanal juga seorang bapa yang rendah hati. Ia duduk dan mendengar suara serta keputusan rakyat. Ia selalu membuka ruang untuk menerima berbagai masukan dan saran. Sikap tenang dan mendengar merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dan kehidupan Thom. Pandangan dan pemikirannya, baik melalui tulisan maupun ucapan langsung, kerap keluar dari mulutnya penuh metafora.
Ia tidak menyodorkan jawaban atau tanggapan yang siap saji, melainkan menyampaikannya dalam bahasa kiasan sehingga para pembaca dan pendengar dapat berpikir dan bekerja untuk menemukan sendiri jawabannya. Para pembaca akan menemukan pemikiran orisinal Thom Beanal dalam tiga seri buku ini, khususnya dalam seri kedua.
“Buku ini kami luncurkan bertepatan dengan peringatan 27 tahun Thom Beanal dalam memimpin Tim 100 utusan bangsa Papua bertemu Presiden BJ Habibie di Istana Negara Jakarta, pada 26 Februari 1999. Dua puluh tujuh tahun silam, Thom menjadi Musa bagi Bangsa Papua, menyampaikan harapan rakyat Papua kepada Presiden di Istana Negara Jakarta,” katanya.
Menurut Markus, melalui penulisan buku ini, generasi sekarang dan yang akan datang dapat mengenang serta menghormati segala jerih payah dan perjuangan yang telah menegakkan harga diri dan integritas bangsa Papua. (*)










