Oleh Laurens Ikinia
Peneliti Institute of Pacific Studies; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
SETIAP bulan Mei tiba dan Indonesia berseru merayakan Hari Pendidikan Nasional, ingatan saya selalu berkelana jauh ke timur Indonesia. Ke sebuah lembah bernama Baliem. Dari lembah itu sebagai anak ingusan dengan karung lusuh di pundak, mata saya menyasar bibir jalanan, memelototi selokan hingga sudut-sudut pasar.
Dari sana “harta karun” saya kumpulkan. Ada kaleng bekas dan pecahan aluminium bekas. Bagi dunia, itu sampah. Tapi bagi saya, setiap kaleng penyok adalah tiket menuju satu hal yang paling saya dambakan: pendidikan.
Pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, saya berdiri dengan penuh keyakinan di hadapan mahasiswa dan kisah dari Wamena itu meluncur. Sebagai dosen di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, ziarah masa kecil dari Lembah Baliem, membawa saya memahami sungguh arti sebuah perjuangan.
Perjuangan itu bermula belasan tahun silam. Matahari siang di Wamena kerap menjadi saksi bisu ritual masa kecil saya dan adik-adik setia yang menemani. Dua karung besar, seberat 20 kilogram, bisa saya kumpulkan jika sedang mujur. Hasilnya? Rp 5.000.
Uang itu adalah mata uang kemandirian. Separuhnya untuk ditabung membeli buku pelajaran bekas seharga Rp 20.000 —sebuah perjuangan menabung minggu demi minggu yang mengajarkan kami anak-anak arti kesabaran dan prioritas. Separuhnya lagi untuk keperluan mendadak: deterjen ibu atau sekadar ‘pajak’ penenang untuk adik-adik yang selalu merengek minta permen.
Sebagai seorang kakak, membahagiakan adik-adik adalah hukum tak tertulis yang saya pegang teguh. Celengan dari kaleng biskuit pun menjadi bank pertama saya, sebuah monumen mini dari ketekunan yang disimpan dengan aman oleh ibunda kami.
Martha Itlay: Profesor Kehidupan dari Lembah Baliem
Di balik tekad seorang pemulung, sang bunda, Martha Itlay, adalah pendoa yang taat, penyayang, dan sosok pekerja keras tanpa kenal lelah. Ibunda tak pernah mengenyam bangku sekolah, namun ia seorang guru besar, profesor teladan dalam makna tertentu. Tangan sang bunda selalu bekerja dan dari hatinya terdaras doa saban waktu.
Jejaknya menghilang sebelum berkas mentari pagi menyentuh tanah Lembah Baliem yang masih basah. Ia ke kebun meninggalkan gantungan ubi jalar kukus sebagai bekal makan siang anak-anaknya. Kami beruntung karena selalu disiapkan ubi rebus sekadar mengganjal perut. Begitulah kenangan indah kami tentang masa kecil yang penuh cinta dalam kesederhanaan.
Ayah biologis kami absen dari panggung kehidupan kami, meninggalkan ibu sebagai nahkoda tunggal di tengah lautan kesulitan. Namun, rencana Tuhan selalu indah. Daud Itlay, kakak dari ibu muncul sebagai malaikat penyelamat. Ia seorang guru pendidikan agama Katolik di SD YPPK Santo Yusuf Wamena.
Daud Itlay —paman kami— membuka pintu rumah dan hatinya, mengangkat saya dan kelima saudara kandung sebagai anak sendiri. Dari paman kami, saya pertama kali belajar bahwa pendidikan adalah sebuah keniscayaan dan panggilan mulia.
“Mama tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Tapi mama percaya, jika kamu belajar dan berdoa, Tuhan akan membukakan jalan.” Itulah nasihat ibunda kami yang sering ia utarakan menjadi mantra hidup. Di tengah cemoohan dan pandangan merendahkan yang kerap kami terima, doa dan kerja keras adalah dua sisi mata uang yang sama.
Jika Hari Pendidikan Nasional adalah tentang merayakan intelektualitas, maka bagi saya, perayaan itu tak lengkap tanpa spiritualitas. Sekolah Minggu dan Persekutuan Doa anak muda bukanlah negotiable, melainkan wajib. Ibunda kami adalah lambang dari sebuah sistem pendidikan paling fundamental: keluarga. Beliau mungkin buta huruf, tetapi beliau adalah profesor terhebat dalam mata kuliah kehidupan, iman, dan ketangguhan.
Dari Peringkat Terakhir ke Panggung Kepemimpinan
Ironisnya, di bangku sekolah formal, saya bukanlah murid teladan. Di SD YPPK Santo Stefanus Wouma-Wamena, saya adalah anak paling nakal, bahkan pernah berantem dengan guru. Prestasi kelas tanggal. Saya selalu meraih peringkat paling terakhir di kelas. Saya naik kelas mungkin hanya karena belas kasihan wali kelas.
Titik balik itu terjadi ketika beranjak ke SMP YPPK Santo Thomas Wamena. Di sana, performa akademik saya perlahan membaik. Saya mulai berlangganan tetap dengan peringkat empat besar. Transformasi sejati terjadi di SMA Santo Thomas Wamena, di mana panggung kepemimpinan dan kepercayaan diri mulai terbentuk.
Saya sibuk terlibat dalam OSIS dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai lomba Biologi, Kimia, dan Matematika. Inilah fase penting yang mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar nilai di atas kertas. Ia juga proses pembentukan karakter dan mental.
Di luar jam sekolah, saya menjalani pendidikan kehidupan yang sesungguhnya. Sepulang sekolah, saya dan adik serta teman-teman menjadi kuli bangunan, memanggul batu dan pasir untuk meringankan beban biaya studi.
Di sela-sela pelayanan gereja, membantu ibu berkebun dan mencari kayu bakar, saya mencuri-curi waktu untuk belajar bahasa Inggris secara otodidak. Dengan waktu tidur hanya 4-5 jam sehari, saya digambarkan oleh keluarga sebagai anak yang super sibuk yang memegang prinsip solid: saat belajar, saya tidak bisa diganggu.
Hampir setiap tengah malam, ibu, sang malaikat pelindung, akan selalu mengingatkan saya untuk istirahat. Sering kali saya tertidur di kursi atau meja belajar karena terlalu payah.
Masa remaja yang berat itu kini saya maknai sebagai accelerated learning program dari Tuhan. Inilah hakikat pendidikan yang sesungguhnya: kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan bangkit dalam kondisi paling sulit sekalipun.
Mengetuk Pintu Langit di Negeri Māori
Selepas SMA tahun 2014, perjalanan pendidikan saya berlanjut ke jenjang tinggi. Keputusan nekad membawa saya mencari jalan menuju tangga untuk mengetuk pintu langit. Pada Agustus 2016, pintu itu terbuka lewat Beasiswa Siswa Unggul Papua dari Pemerintah Provinsi Papua.
Cita-cita yang tak berani saya impikan menjadi nyata: terbang ke Selandia Baru, negeri di ujung dunia, untuk meraih gelar Diploma, Sarjana, dan Magister. Enam setengah tahun berada di tengah budaya Māori bukan hanya menyerap ilmu akademis, tetapi juga pelajaran berharga tentang kemanusiaan, ketahanan, dan identitas sebagai bagian dari bangsa pribumi.
Di New Zealand, saya memaknai pendidikan sebagai jembatan untuk menyuarakan kebenaran. Saya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Palmerston North. Di luar itu, aktif menjadi kontributor berita dari tanah Papua ke dunia melalui media seperti Asia Pacific Report dan Radio New Zealand International, dan beberapa media lainnya.
Sebuah penghargaan internasional, Story Board Award dari Asia Pacific Media Network, saya raih sebagai buah dedikasi mengadvokasi isu-isu kontemporer. Bagi saya, menulis bukan sekadar merangkai kata. Ia juga bahasa cinta yang lahir dari pendidikan untuk membangun jembatan pemahaman.
Dosen “Teman Belajar” dan Lima Pilar Pertumbuhan
Kini, sebagai pengajar di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, saya berdiri di garis depan perayaan Hari Pendidikan Nasional yang sesungguhnya.
Transformasi dari seorang pemulung dan kuli bangunan menjadi pendidik adalah anugerah yang saya jalani bukan sekadar profesi, melainkan ekstensi dari perjalanan spiritual dan intelektual. Saya menyebut perjalanan saya di UKI sebagai lima pilar pertumbuhan.
Pertama, kecerdasan spiritual. Kampus ini adalah biara modern bagi saya. Interaksi dengan rekan dosen, mahasiswa brilian hingga petugas kebersihan dan satpam, saya rasakan sebagai sentuhan dan anugerah Tuhan yang nyata, menggemakan ajaran sang bunda tentang kehadiran Ilahi dalam diri setiap insan.
Kedua, kecerdasan intelektual. Ruang kelas adalah laboratorium dua arah. Mahasiswa yang kritis dan cerdas memaksa saya untuk terus mengasah pisau analisis, mendorong saya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Mereka adalah cermin yang memantulkan potensi yang harus saya kejar.
Ketiga, kecerdasan emosional. Keberagaman karakter mahasiswa dari seluruh Indonesia adalah sekolah empati tingkat tinggi. Di sini saya belajar menguasai diri dan merespons dengan bijak, mengubah emosi remaja yang dulu meledak-ledak menjadi ketenangan seorang sahabat dan mentor.
Keempat, kecerdasan sosial. Sebagai dosen muda Papua, saya menjadi wajah baru dari narasi Papua yang sering kali tertutupi oleh luka, duka, dan kisah buruk lainnya. Eksposur media memberi saya platform untuk bercerita, bukan hanya tentang diri sendiri. Lebih dari itu adalah tentang potensi anak-anak Papua lain yang sedang berjuang di balik gunung, di seberang pulau, dan di pedalaman yang jauh dan berat.
Kelima, kecerdasan finansial. Hidup di Jakarta dengan honor dosen muda adalah pendidikan finansial yang keras. Saya belajar mengelola sumber daya dengan prinsip yang jauh lebih kompleks daripada menabung di celengan kaleng. Ini adalah pelajaran tentang kemandirian tingkat lanjut.
“Saya lebih suka menyebut diri saya ‘teman belajar’ mahasiswa. Setiap mahasiswa punya keunggulan yang mungkin tak saya miliki. Proses ini adalah simbiosis mutualisme.” Itu keyakinan yang selalu saya tekankan.
Kisah saya bukanlah sekadar cerita from zero to hero. Perjalanan menuju hero sendiri masih sangat panjang. Namun, di setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional, saya diingatkan bahwa perjalanan ini adalah sebuah bukti. Bukti bahwa iman yang dijalani dalam kerja keras —ora et labora— dapat mengubah orbit kehidupan seseorang.
Dari Lembah Baliem di pegunungan Papua yang hijau ke kampus di jantung Metropolitan, saya membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah latar belakang, bukan penjara. Tuhan, dalam rencana-Nya yang besar, memakai kaleng-kaleng bekas, ubi kukus, doa seorang ibu buta huruf, dan kebaikan seorang paman untuk menyiapkan saya menjadi “mitra kerja Tuhan”.
UKI adalah alat yang Tuhan pakai. Dari latar belakang serba terbatas, saya diizinkan menjadi perpanjangan tangan-Nya. Saya percaya, setiap orang membawa rencana besar-Nya. Kita hanya perlu berdoa, berjuang, dan tak pernah berhenti mengumpulkan ‘kaleng-kaleng’ peluang kita, sekecil apa pun itu.”
Pesan saya di Hari Pendidikan Nasional ini menggema dari masa kecil saya di Wamena: dalam setiap kesederhanaan bahkan dalam kaleng bekas sekalipun, tersembunyi benih kebesaran dan emas sesungguhnya.
Bagi adik-adik saya di seluruh Indonesia, yang berasal dari broken home, keluarga papa, dan pelosok terpencil, jangan sekali-kali putus asa. Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Ia hadir dalam banyak rupa. Tidak harus selalu di dalam kelas megah.
Ia bisa hadir di pasar, di kebun, di bawah terik matahari sebagai kuli, dan dalam doa ibu yang tak pernah putus. Harapan dan masa depan yang cerah menanti mereka yang mau tetap berjuang sambil berdoa. Inilah esensi kemerdekaan sejati dalam pendidikan: saat setiap anak bangsa, dari lembah mana pun ia berasal, percaya bahwa dirinya layak dan mampu untuk mengetuk pintu langit.
Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026!










