Matius Murib Meninggal, Masyarakat Papua Kehilangan Sosok Pejuang HAM Bersahaja

Mantan Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua Matius Murib. Sumber foto: antaranews.com, Rabu, 19 Desember 2018

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Kabar duka dialami pemerintah dan masyarakat tanah Papua serta para pegiat hak-hak asasi manusia (HAM) dan pekerja sosial bumi Cenderawasih dan Indonesia.

Mantan Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua Pendeta Matius Murib, S.Th, Sabtu (25/4) pukul 03.00 WIT menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit (RS) Dian Harapan, Waena, Jayapura, Papua.

“Selamat malam Bapak dan Ibu sekalian. Berita duka, telah berpulang ke rumah Bapa di Surga Bapak Pendeta Matius Murib. Saat ini jenazah Almarhum disemayamkan di Rumah Sakit Dian Harapan Waena, Jayapura,” ujar Direktur PAK-HAM Papua Dr Methodius Kossay, SH, M.Hum, CMP, CT di Jayapura, Papua, Sabtu (25/4).

Methodius, tokoh intelektual muda tanah Papua, juga mengajak umat Kristian dan warga masyarakat memanjatkan doa kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa menerima Almarhum dalam kedamaian abadi dan memberikan kekuatan serta penghiburan bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan.

“Selamat jalan, pejuang kemanusiaan tulen. Jasamu akan selalu kami kenang,” kata Methodius, doktor Ilmu Hukum lulusan Universitas Trisakti Jakarta dan yang kini menjabat Koordinator Penghubung Komisi Yudisial Republik Indonesia Wilayah Papua.

Aktivis dan pejuang HAM Papua Theo Hesegem mengenang Almarhum Pendeta Matius Murib sebagai sosok pendeta dan pekerja sosial bersahaja yang semasa hidup gigih dalam memperjuangkan HAM dan penderitaan masyarakat tanah Papua.

“Semasa hidup Almarhum Pak Matius Murib sungguh menunjukkan diri sebagai salah seorang sosok pekerja sosial kemanusiaan yang gigih memperjuangkan penegakan HAM masyarakat tanah Papua,” ujar pegiat HAM senior tanah Papua Theo Hesegem di Wamena, kota Provinsi Papua Pegunungan, Sabtu (25/4).

Menurut Hesegem, Forum Pemberantasan Miras dan Napza Provinsi Papua Pegunungan, semasa hidup Almarhum Matius Murib juga salah seorang sosok di balik kelahiran PAK-HAM Papua.

Melalui wadah ini Matius Murib dan rekan-rekannya bekerja tanpa henti memperjungkan penegakan HAM warga dan kegelisahan yang diderita warga tanah Papua yang kurang beruntung bahkan menindas di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan.

“Semasa hidup saya mengenal beliau sebagai sosok yang baik hati dan konsisten dalam perjuangannya membela orang kecil. Sejak lama ia terjun dalam penegkan HAM. Ia salah seorang pendiri PAK-HAM,” kata Hesegem.

Hesegem mengakui, selain sebagai pegiat HAM di tanah Papua, Matius Murib juga dikenal sebagai seorang pendeta Gereja Kingmi di Tanah Papua. Ia terlibat aktif mendirikan Gereja Kingmi di Waena.

“Kepedulian dan kegigihannya terjun membela orang kecil dan memperjuangkan HAM di tanah Papua mengikuti jejak sang ayah, Elisa Murib, yang juga seorang penginjil di Kampung Ukaah, Distrik Ukaah, Kabupaten Jayawijaya (kini Kabupaten Yahukimo),” ujar Hesegem.

Begitu pula teladan hidup dan cinta bagi orang-orang Papua dalam meraih kehidupan yang aman dan damai juga terinspirasi dari sosok sang bunda sebagai ibu rumah tangga. Aktivitas Pak Matius dalam memperjuangankan HAM masyarakat terinspirasi dari ayahnya yang juga seorang Kepala Kampung Ukaah, Jayawijaya.

Dalam suatu kesempatan Matius Murib mengajak semua elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersama mewujudkan Papua rumah damai.

“Negara sangat berkuasa untuk memberikan kebijakan Otonomi Khusus Papua sebagai bentuk iktikat baik dari pemerintah dalam upaya memajukan berbagai program pembangunan di daerah ini,” ujar Matius Murib mengutip antaranews.com di Jayapura, Papua, Minggu (8/11 2020).

Murib mengakui, sikap menolak atau menerima pelaksanaan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua tidak banyak berpengaruh. Ia menambahkan, untuk memajukan pembangunan serta menyejahterahkan masyarakat di tanah Papua adalah kewajiban negara atau pemerintah.

Murib mengharapkan berbagai pihak terkait untuk berkomitmen untuk mewujudkan tanah Papua sebagai rumah penuh damai bagi kehidupan semua orang. “Mari kita wujudkan Papua rumah damai,” ujar Murib lebih lanjut.

Lamadi de Lamato mengatakan, sebagai mantan aktivis yang pernah hidup di Papua ia sangat mengenal sosok Almarhum Matius Murib. Namun, Lamadi mengaku, Murib pulang lebih awal menghadap Tuhan. Semoga ia disambut dlm kehidupan surga yang abadi.

“Matius identik dengan motor merah, menggunakan tas belakang yang ia letakkan di punggung jika melintasi jalan-jalan kota Jayapura. Pekerjaannya adalah pejuang HAM. Bayangkan seorang Matius yang bekerja di ‘jantung’ pelanggaran HAM harus bekerja sendiri ‘membereskan’ masalah pelanggaran demi pelanggaran yang ia rekam dalam setiap konflik yang terjadi di Papua,” kata Lamadi.

Sebelum ditanya apakah Murib mampu, ujar Lamadi, bisa dipastikan ia (Murib) tidak akan mampu. Betul, ia pergi (Sabtu, 25/4) hari ini saat banyak sekali postingan pelanggaran HAM dibahas.

“Matius Murib memilih pergi, bukan tidak mampu tapi ia tahu bahwa pelanggaran HAM di Papua mungkin bisa selesai, bukan lewat cara-cara model pembangunan yang sudah using tapi (cara) yang paling baru. Saya tidak tahu, bagaimana cara baru itu,” kata Lamadi.

Akhirnya, kata Lamadu, (Matius Murib) lelaki berkumis dan identik dengan motor merah itu telah pergi untuk selamanya. Selamat jalan, Matius Murib. Tuhan memberkatimu di surga.

“Turut berduka cita. Selamat jalan Bapak Matius Murib. Tuhan menyambutmu di Sorga. Amin,” kata Carolus Bolly, mantan anggota DPRP Papua dan Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Demokrat melalui cuitannya di WA Group The Spirit of Papua (SoP) di Jayapura, Papua, Sabtu (25/4).

Selamat jalan menuju rumah Bapa di Surga, Pa Pendeta Matius Murib. Damailah di sisi-Nya. (*)