TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Direktur Amungsa Foundation dr Enny Kenangalem, M.Biomed, Minggu (12/4) resmi resmi terpilih sebagai Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Mimika periode 2026–2029.
Enny, dokter perempuan pertama dari Suku Yali dan master Biomedik jebolan Universitas Indonesia (UI), terpilih dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IDI yang digelar di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Pemilihan ini menjadi momentum penting bagi organisasi profesi dokter di Mimika untuk memperkuat peran dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya menjangkau wilayah pedalaman dan pesisir.
Muscab tersebut juga dirangkaikan dengan kegiatan simposium Mimika Medical Update (MMU) 2026 yang mengusung tema Advancing Healthcare in Papua sebagai wadah peningkatan kapasitas dan wawasan tenaga medis di tengah perkembangan teknologi kesehatan.
Dalam forum tersebut, dr Enny menggantikan dr Leonard Pardede, Sp.OG(K) yang telah menjabat selama periode 2022–2025.
Ketua IDI Wilayah Papua dr Nickanor KR Wonatorey, Sp.U dalam sambutan tertulisnya menyampaikan apresiasi kepada kepengurusan sebelumnya.
dr Nickanor Wonatorey juga menegaskan Muscab bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga sarana evaluasi dan refleksi organisasi.
“IDI harus tetap hadir sebagai organisasi profesi yang kuat, solid, dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, terutama di Papua yang memiliki tantangan geografis dan akses layanan yang kompleks,” ujar dr Wonatorey.
Sementara itu dr Enny Kenangalem menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin IDI Mimika hingga tiga tahun ke depan.
Dalam visi kepemimpinannya, ia menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni peningkatan kesejahteraan anggota, keterbukaan pelayanan serta penguatan sinergi lintas sektor.
“Kita ingin ada link yang kuat dari tingkat pelayanan primer hingga ke tingkat rujukan. Secara khusus, perhatian juga diberikan kepada dokter muda dan sejawat yang bertugas di wilayah pedalaman,” ujarnya.
Dr Enny juga menegaskan pentingnya pemerataan akses terhadap fasilitas dan informasi medis, agar dokter yang bertugas di wilayah terpencil tetap mendapatkan dukungan yang memadai dan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu kedokteran.
“Rekan-rekan di pesisir maupun pegunungan harus mendapatkan jaminan fasilitas dan tetap up-to-date. Tidak boleh ada sekat antara junior dan senior. Kita satu keluarga dalam satu profesi,” kata dr Enny lebih lanjut.
Dengan kepemimpinan baru ini, diharapkan IDI Mimika semakin berperan aktif dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan di Kabupaten Mimika. (*)










