JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Wali Kota Jayapura Abisai Rollo mengatakan, pembangunan di wilayah setempat harus tetap menghormati nilai-nilai adat sekaligus menjaga identitas masyarakat asli yang diwariskan secara turun-temurun.
“Sebelum dinamai Jayapura, wilayah ini telah dikenal oleh masyarakat adat sebagai Port Numbay, tanah leluhur yang kaya akan nilai budaya dan kearifan lokal,” ujar Abisai Rollo di sela upacara peringatan HUT ke-116 Kota Jayapura mengutip papua.antaranews.com di Jayapura, Papua, Minggu (8/3).
Menurut Abisai, Port Numbay bukan sekadar wilayah geografis tetapi juga identitas masyarakat asli yang diwariskan secara turun-temurun dengan demikian pembangunan kota harus tetap menghormati nilai-nilai adat.
“Tanah ini mengajarkan kita tentang keseimbangan, kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam,” kata Abisai lebih lanjut.
Abisai menjelaskan, daerah ini pertama kali didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada 7 Maret 1910 dengan nama Hollandia kemudian mengalami perubahan nama menjadi Sukarnopura.
Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1969 resmi bernama Jayapura yang berarti Kota Kemenangan.
“Jayapura bukan sekadar nama melainkan simbol harapan, perjuangan, serta kemenangan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujar Abisai.
Abisai menambahkan, pada usia ke-116 tahun, Kota Jayapura telah berkembang menjadi pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan, dan jasa di kawasan timur Indonesia. Ia menilai kemajuan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Jayapura adalah rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya yang hidup berdampingan. Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan toleransi,” katanya.
Menurutnya, Pemerintah Kota Jayapura akan terus memperkuat pemberdayaan masyarakat asli Papua, penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas. (*)










