Oleh Yustinus Prastowo
Awam Biasa
PENYAIR Inggris, George Eliot menulis “tuduhan sering kali merupakan ketidaktahuan yang berteriak paling keras.” Kita adalah generasi yang disangkal Gereja empat abad lalu.
Di Campo de’ Fiori, Roma, berdiri tegak sebuah tragedi, sebuah patung abad ke-19 yang menatap tajam ke arah Vatikan dari balik tudung biarawannya. Di kakinya tertulis: “Untuk Bruno, dari generasi yang ia ramalkan, di sini, tempat api unggun berkobar.”
Patung Girdano Bruno adalah penanda, titik di mana peradaban berhenti sejenak mengambil jeda reflektif tentang sejarah yang berdiri di atas pedang dan jasad, ambisi dan kejayaan, tetapi juga penghakiman dan pengorbanan.
Masyarakat abad ke-21 adalah pentolan tragedi, genersi yang hampir batal, yang dibela dengan darah, diasuh di bawah tuduhan dan penghakiman. Generasi ini berdiri tegak sebagai bukti bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya.
Giordano Bruno oleh kebanyakan penulis adalah orang yang terlampau maju untuk zamannya. Memang, soal apakah Bruno benar atau bersalah hingga kini masih jadi perdebatan. Sains dan teologinya dianggap buruk, kosmologinya terlampau mistis.
Ia dianggap menolak matematika dan eksperimen, dan hanya bertumpu pada keyakinannya sendiri pada simbol, geometri suci, dan segala hal yang begitu saja dianggap benar. Ia lebih dicap sebagai seorang mistik daripada saintis karena mengacaukan sains dan teologi.
Tapi, lepas dari kontroversi yang menyertainya, apa yang pasti adalah bahwa dia dibunuh dengan dibakar hidup-hidup, sementara alasan vonis mati itu tetap tertutup rapat dalam hening yang dijaga dan diam yang munafik.
Pada tanggal 17 Februari yang baru saja kita lewati, 400 tahun lalu, Gereja membakar hidup-hidup seorang manusia yang lahir dari rahimnya sendiri atas nama otoritas dan ketertiban.
Tiga abad tertutup hening, nama Giordano Bruno, seorang kosmolog, filosof, dan bekas biarawan Dominikan, hilang dari sejarah. Tapi kemudian, kisah itu memberontak keras.
Pada abad ke-19 berdirilah sebuah monumen penting, peringatan yang dibangun atas kesadaran bahwa tuduhan dan tragedi hampir selalu lahir kembar. Monumen itu adalah tanda kesalahan yang diakui, penyesalan dan yang lebih dalam komitmen untuk mengambil pelajaran.
Dari kisah Giordano Bruno, kita belajar satu hal: Gereja paling terluka bukan oleh kritik, melainkan oleh ketakutan. Dan ketakutan adalah bukti kurangnya iman sebagaimana Yesus menegor para murid setelah Ia meredakan taufan sebab mereka ditelan ketakutan dan lupa bahwa Ia ada bersama mereka.
Dalam malam paling kelam ketakutan itulah, kita butuh cahaya. Gosip dan tuduhan perlu diangkat ke taraf diskusi yang terhormat, serius, dan bermartabat sebelum tuduhan yang diberi makan oleh rumor berubah menjadi tragedi.
Yesus tidak pernah menjanjikan Gereja tanpa konflik. Yang Ia janjikan adalah Roh Kebenaran. Kadang kita butuh sedikit “badai” kecil untuk mengguncang rutinitas dan kembali mengingatkan kita bahwa kebenaran Tuhan ada dalam perahu kerapuhan kita sebagai pribadi dan Gereja. Keheningan total sering kali lebih merusak daripada guncangan yang membongkar harmoni semu.
Kasus Giordano Bruno, kemudian barangkali, Galileo Galilei memberi kita sejarah berharga sekaligus peringatan penting bahwa otoritas tanpa akuntabilitas rentan disalahgunakan. Karena itu, struktur yang memungkinkan evaluasi, audit, masukan, atau pendampingan independen bukanlah tanda kurang percaya, melainkan bentuk tanggung jawab bersama.
Baik hierarki maupun umat dipanggil pada kerendahan hati: mengakui bahwa Gereja terdiri dari manusia yang bisa salah. Pula godaan kuasa yang bisa membuat pongah, keji, dan tergelincir. Kerendahan hati membuka ruang pertobatan —dan pertobatan selalu menjadi sumber pembaruan Gereja.
*
Giordano Bruno dijatuhi vonis mati oleh Paus Klemens VIII pada 8 Februari 1600, dan dieksekusi mati pada 17 Februari di tahun yang sama di Campo de’ Fiori atas tuduhan sebagai bidah yang tidak menyesal. Vonis situ dibacakan setelah pengadilan panjang yang ia lalui selama tujuh tahun dalam hening dan kegetiran.
Seorang penulis menyebut bahwa lamanya masa pemenjaraan dan persidangan Bruno menunjukkan keresahan dari pihak Tahta Suci, pengakuan bahwa kasus terhadapnya jauh dari jelas.
Bahkan hingga kini, perdebatan atas hukuman mati pada Bruno menunjukkan bahwa kita antara lain tidak tahu persis atas dasar apa hukuman mati itu diberikan. Anthony Gottlieb di The New York Times pada Desember 2008 menulis “hingga kini, lebih dari empat abad sejak ia dibakar, kita tidak tahu untuk apa sebetulnya Bruno berkorban, dan apa yang ia pertahankan dengan menolak mengaku salah sampai akhir.”
Kadang Bruno dibicarakan sebagai penista agama. Ia menyangkal keperawanan Maria, menyatakan Yesus sebagai seorang penyihir, menyangkal Tritunggal dan menyangkal Transubstansiasi. Tetapi bagi sebagian orang lain, ia adalah martir ilmu pengetahuan.
Lagi pula, jika ia dihukum karena ajarannya perihal heliosentrisme (Matahari sebagai pusat semesta, bukan Bumi) yang dianggap sesat karena bertentangan dengan kebenaran iman, bukankah Nicolaus Copernicus telah lebih dulu mengatakan hal itu, dan justru diberi penghargaan oleh Paus Paulus III karena mendedikasikan karya utamanya De Revolutionibus Orbium Coelestium itu kepada Gereja? Apa masalah Bruno? Semua ini masih tertutup kabut gelap bernama keheningan dan rahasia.
Stephanie Merritt menulis, bahkan dari sel penjara terakhirnya, Bruno masih mati-matian berusaha agar tulisannya sampai ke tangan Paus alih-alih setuju untuk mencabut ajaran sesatnya di hadapan para Inkuisitor.
Saat ini, dekrit hukuman yang menyebutkan delapan tuduhan bidah yang berbeda yang ia tolak untuk disangkal masih ada, tetapi catatan rinci tentang persidangannya di Roma hilang ketika Napoleon Bonaparte menjarah arsip Vatikan dan memindahkan sebagiannya ke Paris.
*
Kembali pada tragedi. Dari semua kiprah gemilangnya dalam ranah ilmu, Giordano Bruno secara kontras justru diingat melalui drama hukuman mati dirinya oleh Gereja. Ia tidak terutama dikenal karena heliosentrismenya, atau gagasan multijagatnya, tetapi drama penghakiman atas kebebasan berpikirnya.
Bagi Gereja pun demikian, yang bertahan dalam ingatan publik bukanlah kebenaran teologis yang mereka bela, melainkan gambaran Gereja yang kejam, tidak kenal ampun, dan tertutup pada perbedaan. Warisan simbolik macam ini jauh lebih besar pengaruhnya dalam sejarah manusia.
*
Akhirnya, patung itu berdiri melawan inkusisi lama dan baru. Selama masih ada orang yang dibungkam atau disingkirkan karena berbeda, Bruno tetap menjadi simbol keberanian untuk melawan.
Ia juga adalah simbol perlawanan terhadap tangan-tangan yang dengan ringan menuduh dan menghukum mati perlawanan. Mati tak semata fisik, juga pembunuhan terhadap upaya menyingkap kebenaran.
Monumen itu adalah kontradiksi paling keras. Ia mengangkat sejarah, tetapi menolak pengulangan sekaligus. Patung itu masih berdiri di antara kita agar tak ada “Bruno” lain yang dipasung sejarah dan narasi, untuk menegaskan bahwa martabat manusia selalu lebih besar dari sistem, otoritas, keutuhan dan harmoni semu.
Sebab tuduhan memberi beban tanggung jawab lebih besar kepada mereka yang menunjuk jari, sebagaimana Giordano Bruno berujar untuk terakhir kalinya sebelum tubuh ringkihnya dibakar: “Kalian yang menjatuhkan hukuman ini barangkali merasa lebih takut daripada saya yang menerimanya.”
Jika hari-hari ini seolah ada nama Bruno lain yang terngiang, biarlah itu menjadi penanda bahwa ingatan kita masih waras. Tentang hal-hal yang gelap dan remang. Perihal apa2 yang belum tersingkap. Dan itu modal penting untuk beragama secara sehat, yang tak dimatikan oleh dalih demi harmoni, otoritas, dan kesucian.










