OPINI  

Syarat Meraih Hidup Kekal

Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Uskup Keuskupan Timika, Papua. Sumber foto: teras.id/jubi-id, 21 Februari 2026/Theo Kelen

Oleh Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA

Uskup Keuskupan Timika, Papua

ADA SEORANG pembimbing spiritual mengatakan, kita manusia hidup karena untuk hidup. Makna dari pernyataan ini adalah bahwa kematian tubuh kita yang fana ini bukanlah kematian melainkan jalan untuk meraih hidup yang sejati, hidup kekal.

Namun untuk meraih hidup yang kekal ini harus memenuhi syarat-syaratnya. Apa saja syaratnya? Apa yang dimaksud dengan kematian atau mati atau meninggal? Apakah kematian fisik kita manusia adalah akhir dari hidup manusia? Apa sesungguhnya kematian itu?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dapat ditemukan melalui kisah nubuat nabi Yehezkiel, surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dan kisah injil Yohanes tentang bagaimana Tuhan Yesus membangkitkan sahabatnya Lasarus dari kematian fisiknya.

Para filsuf Yunani dapat membagi keberadaan kita manusia terdiri dari tiga bagian penting yang tak dapat dipsiahkan satu sama lain. Ketiga bagian integral dalam diri kita manusia.

Pertama, tubuh (sarks) daging secara materi ini atau jasad. Kedua, tubuh mental psikologis, pikiran atau jiwa. Ketiga, tubuh spiritual atau rohani (ruah) yang mengarah kepada Roh ilahi.

Kita manusia adalah perpaduan antara manas dan isa atau roh kudus, yaitu perpaduan antara tubuh, pikiran atau jiawa dan ruah atau roh kudus. Oleh karena itu kita manusia harus sadar.

Bahwa hidup kita saat ini, di dunia ini adalah hidup untuk menuju kepada hidup yang sesungguhnya, yaitu hidup di dalam keabdian, hidup di dalam kekekalan Sang Pencipta.

Maka ketika kita berbicara tentang apa artinya hidup kita saat ini di dunia ini? Apakah kita hidup di dunia ini hanya untuk memenuhi kesenagan sesaat? Apakah hidup kita saat ini hanya asal hidup saja tanyapa menemukan apa makna hidup sesungguhnya bagi kita?

Melalui bacaan-bacaan hari ini memperlihatkan kepada kita bahwa hidup kita manusia sesungguhnya berada di dalam hidup Allah. Allahlah yang memberikan hidup-Nya kepada kita, bukan karena jasa kita. Maka hidup kita saat ini, di dunia ini, di sini adalah sebuah anugerah, sebuah karunia cuma-cuma dari Allah kepada setiap kita.

Ajaran iman Kristen tentang hidup di dunia ini, kematian dan kebangkitan dari kematian fisik jasmani adalah rahasia ilahi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita.

Melalui kisah injil Yohanes yang menceritakan tentang Lasarus yang dibangkitkan oleh Yesus, menjadi suatu kenyataan spiritual yang sangat berharga bagi kita orang Kristen.

Melalu kisah Lasarus yang dibangkitkan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kematian kita secara fisik bukanlah akhir dari hidup yang sesungguhnya. Karena melalui Tuhan Yesus kita orang percaya akan dibangkitkan pada zaman akhir atau zaman eskaton.

Melalui cerita injil Yohanes ini mau memperlihatkan kepada kita para pengikut Kristus bahwa Yesuslah jalan menuju kepada kehidupan abadi tersebut. Ketika kita mengikuti jalan Tuhan Yesus, maka kita pun akan mengalami hidup kekal di dalam Allah.

Pesannya untuk kita di tanah Papua ini sebagai berikut. Pertama, saat ini banyak orang Papua, terlebih khusus orang-orang muda Papua yang mati atau meninggal dunia.

Kedua, mengapa mereka mati muda? Apa penyebabnya? Ada dua faktor penyebab kematian anak-anak muda Papua khususnya dan orang tua pada umumnya, yaitu penyebab internal dan eksternal.

Penyebab internal yaitu karena mereka tidak memelihara, menjaga, dan mencintai hidupnya sendiri, dirinya sendiri. Malahan mengkonsumsi alkohol, obat-obat terlarang, pola hidup yang tidak sehat, dan tidak disiplin diri.

Inilah cara hidup yang sia-sia, yang tidak berkualitas. Maka kematian muda seperti ini adalah pola hidup yang merupakan lingkaran setan yang melanda orang asli Papua, khususnya di kalangan orang muda Papua. Di seluruh Papua ini ditemukan banyak jenazah di jalan-jalan.

Ketiga, penyebab eksternal adalah suatu skenario besar para penguasa bangsa ini untuk menghancurkan orang asli Papua atau skenario pemusnaahan orang asli Papau.

Selain itu ada pula kematian karena kekerasan aparat kemanan terhadap anak-anak muda pejuang HAM. Ratusan bahkan ribuan anak-anak muda Papua yang meninggal karena dibunuh dan dimutilasi oleh pihak aparat keamanan negara.

Berdasarkan data yang dimuat dalam buku yanng ditulis oleh Romo Ferry Sutrisna Wijaya (2026) bahwa total jumlah jiwa orang asli Papua secara maksimum 2, 3 juta jiwa dan secara minimum 1, 6 juta jiwa dari 6 juga penduduk yang tinggal di Papua.

Keempat, kematian yang harus kita takuti adalah kematian kekal atau kesirnahan kekal identitas kita manusia yang pernah hidup di dunia ini.

Kelima, wahai anak-anak remaja dan pemuda asli Papua gunakanlah anugerah hidupmu dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermutu agar kelak menjadi orang yang berdayaguna bagi Gereja dan masyarakat.

Keenam, bagai para krismawan atau krismawati agar syukuri anugerah hidup yang diberikan Tuhan ini dengan membangun disipilin diri, mengembangkan bakat dan talenta yang saudara dan saudari miliki, jauhkan perbuatan amoral: mabuk-mabukan, menggunakan kokain, ganja dan obat-obat terlarang lainnya.

Ketujuh, gunakakan waktu yang Tuhan berikan dengan banyak berdoa, banyak membaca dan menulis, banyak mengikuti organisasi khususnya organisai Gereja, banyak menyediakan waktu khusus untuk berdialog dengan orang-orang tua yang sudah makan garam dalam hidupnya.

Kedelapan, jauhilah goadaan dan rayuan dari teman-teman sebaya terjun ke dunia gelam, dunia obat-obatan terlarang, dunia seks bebas, dunia kriminal dan dunia pencurian.

Kesembilan, cari, dekati dan ajak teman-teman sebayamu yang masih hidup di dalam dunia kegelapan.

Khotbah Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA saat Misa Krisma Hari Minggu Pra Paskah IV di Gereja Katolik Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Dekanat Teluk Cenderawasih, Minggu (22/3)

Sumber khotbah: Teks-teks bacaan Kitab Suci, Yeh 37: 12 -14, Rm 8: 8-11, dan Injil Yoh 11: 1-45