OPINI  

Orang Benar dan Penguasa

Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Uskup Keuskupan Timika, Papua. Foto: Istimewa

Oleh Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA

Uskup Keuskupan Timika

NARASI atau kisah Kitab Suci dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru menampilkan tokoh-tokoh atau figur-figur orang benar. Figur-figur orang benar ini pada umumnya nyawa mereka menjadi ancaman.

Figur-figur orang benar ini hidup mereka selalu dikejar-kejar oleh berbagai pihak terutama pihak penguasa. Figur-figur orang benar ini selalu dipandang sebagai musuh bagi mereka yang mempunyai kepentingan, baik pihak pengusa seperti Raja,

Para penguasa Agama dan para pengusa Kaisar. Karena kepentingan kekuasaan, kepentingan materi dan prestise para penguasa, maka figur-figur orang benar ini nyawa mereka selalu menjadi ancaman.

Para figur orang benar ini hidupnya selalu dimata-matai, diawasi, dijaga, dan dikontrol. Hidup mereka tidak nyaman. Karena mereka berani dan lantang menyuarakan kebenaran, keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian yang merupakan misi perutusan Allah kepada mereka.

Salah satu figur orang benar itu adalah Yeremia. Nyawa Yeremia menjadi ancaman  oleh para pihak penguasa. Hidup Yeremia menjadi terancam karena berhadapan dengan banyak musuh yang mengelilinginya. Namun Yeremia tidak takut, tidak gentar menghadapi ancaman para musuhnya.

Para figur orang benar ini, termasuk Yeremia tidak gentar menghadapi ancaman dari para musuh – penguasa ini. Para pengusa ini dipandang oleh Kitab Suci sebagai orang tidak benar.

Artiya apa? Artinya para penguasa ini memiliki misinya berbeda dengan misi Allah.  Apa itu misi Allah? Apa itu misi para pengusasa dunia ini? Misi Allah atau misio Dei adalah memperjuangkan kebenaran, keadilan, perdamian, kemanusiaan dan keutuhan ciptaan, yang dirangkum dengan kata misi keselamatan umat manusia.

Sedangkan misi penguasa dunia ini adalah misi kepentingan dirinya sendiri, yaitu keuntungan materi atau uang, keuntugan kenikmatan seks, kepentingan penghormatan atau pujian diri, dan kepentingan kroni-kroninya serta kepentingan keluarganya. Inilah yang sering disebut kepentingan nepotisme, kolosi dan korupsi.

Inilah misi para penguasa dunia ini. Sedangkan misi Allah (misio Dei) adalah misi kebenaran Allah tentang hak-hak hidup, ruang hidup, hak-hak asasi, martabat manusia, damai, persaudaraan, keadilan dan keutuhan alam –keharmonisan alam.

Ketika kepentingan mereka diusik  oleh para figur orang benar, maka para penguasa atau orang tidak benar ini sering kali merancangkan kejahatan untuk menghabisi figur orang benar ini.

Hal inilah yang dikisahkan dalam kisah nabi Yeremia yang tertulis, “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya. Mari kita lenyapkannya dari negri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi” (Yer 11: 19b).

Yang dimaksud dengan pohon adalah orang benar yang mampu menghasilkan buah yang lebat – berlimpah dan baik. Berbicara tentang pohon berkaitan dengan pohon kehidupan di Taman Eden dan juga penegasan Tuhan Yesus, bahwa jika pohon yang tidak berbuah sebaiknya ditebang saja dan dibakar.

Dalam kisah Injil Yohanes diperlihatkan bagaimana para pemimin agama Yahudi yang berupaya menangkap dan membunuh Yesus. Yesuslah orang benar yang dimusuhi dan ditakui oleh para pemimpin agama Yahudi dan kaki tangan Kaisar Romawi.

Para pemimpin agama Yahudi adalah orang-orang tidak benar yang takut dan kuatir dengan kehadiran Yesus dan ajaran-Nya tentang Kebenaran Hidup yang sesungguhnya dari ajaran mereka yang palsu dan penuh kebohongan.

Kehadiran Yesus dan ajaran-Nya membuat para pemimpin agama Yahudi ini tergangu karena Yesus membongkar kepalsuan dan kebohongan mereka. Karena itu mereka berusaha merancang cara-cara yang tepat untuk menangkap dan membunuh Yesus.

Bagaimana relevansinya dengan situasi kita di Indonesia ini, khususnya kita di Papua ini? Akhir-akhir ini melalui media sosial (medsos) begitu banyak masyarakat yang mengkritik kebijakan Presiden Prabowo, khusunya kebijakannya terhadap Makanan bergizi (MBG).

Menurut mereka bahwa MBG ini hanya suatu strategi untuk membagi-bagi uang kepada kroni-kroninya Prabowo. Dana pendidikan dan kesehatan dipotong dengan alasan penghematan, padahal untuk proyek MBG. Ada anak kecil di Folres yang membunuh diri karena orang tua atau mamanya tidak punya uang untuk membeli buku pelajaran di sekolah.

Inilah ironi kepalsuan yang didegungkan oleh presiden dan para mentrinya tetapi kenyataannya adalah untuk kepentingan kekuasaan dan kekayaan mereka. Kepentingan rakyat dikorbankan demi kesenagan para penguasa.

Kita di Papua banyak terjadi pembunuhan yang direkayasa oleh para penguasa, oleh pihak aparat keamanan yang justru melakukan kejahatan dan kriminal di seluruh pelosok tanah Papua. Karena berkolaborasi dengan para oligarkhi demi tujuan eksploitasi sumber daya alam di seluruh tanah Papua.

Demi ketamakan dan kerakusan para penguasa yaitu para oligarkhi mereka, maka suara kenabian orang benar selalu dibungkam dan disertai ancaman. Di Papua ini, para penguasa ini menjadikan TNPB dan KANPB sebagai tumbal.

Banyak rekayasa pembunuhan dan kekerasan yang dilakukan oleh para penguasa ini, ibarat melempar batu menyembunyikan tangan. Bukan rahasia lagi bahwa melalui berbagai penelitian dapat ditemukan bahwa kekerasan dan kriminaliasai yang terjadi di Papua selama ini dibacking oleh pihak apparat keaman, TNI dan Polri.

Karena itu sebagai orang Kristen sejati, pengikut Kristus yang sejati, kita harus berani melawan roh-roh kejahatan ini. Kita jangan diam dan tutup mulu terhadap permainan jahat dan busuk ini.

Kita sebagai pengikut Kristus yang sejati harus berani berjuang menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuaran. Kita tidak boleh ikut arus ketidakjujuran dan pemalsuan kebanaran.

Inilah misi kalian yang hari ini menerimakan Sakramen Krisma. Menerima Sakramen Krisma sebagai tanda bahwa saudara sekalin siap turun ke dalam dunia yang penuh kepalsuan dan rekayasa kebenaran.

Kalian semua telah siap berani terlibat memperjungkan kebanaran, keadilan, kemanusiaan dan perdamaian. Hal ini menuntut pengorbanan nyawa.  Penerimaan sakramen Krisma bukan sekedar seremonial Gereja tetapi adalah perutusan untuk mewujudkan misi Allah di dalam dunia. Misi keadilan, kedamian, kemanusiaan dan kejujuran.

Perjuangan orang benar pasti tidak disukai oleh para penguasa. Perjuangan kita yang menetang ketidakadilan, kebohongan dan kepalsuan para pengausa pasti akan ditolak, dimusuhi, bahkan nyawa kita menjadi ancaman, seperti yang dialami oleh saudara Andre Yunus yang mendapatkan penyiraman air keras ke tubuhnya.

Saudara Andre Yunus adalah Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Terindikasi bahwa empat orang anggota TNI yang terlibat melakukan tindakan kekerasan dan penganiayaan ini.

Khotbah Uskup Bernardus Bowitfos Baru OSA pada Misa Penerimaan Sakramen Krisma

di Paroki Santo Antonius Padua, Yagai, Dekanat Paniai, Keuskupan Timika, Papua, Sabtu (21/3)

(Sumber khotbah: teks Kitab Suci: Yer 11: 18 – 20 dan Yoh 7: 40 – 53)