Oleh Laurens Ikinia
Putra Lembah Baliem, Papua Pegunungan; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta
BAYANGKAN sebuah negeri yang pernah didedikasikan untuk terang. Di mana para pendahulu datang bukan untuk menjajah, melainkan untuk mencari rumah —tempat di mana kebebasan beribadah bukan sekadar wacana, melainkan napas setiap hari.
Itulah cerita lama tentang sebuah bangsa besar di seberang sana. Tapi cerita ini bukan tentang mereka. Cerita ini tentang kita. Tentang Papua, tanah yang kita pijak. Tentang tanah bertabur kekayaan melimpah yang mendekam dalam luka panjang, menanti saatnya didoakan, diberkati, dan dipulihkan.
Beberapa waktu lalu, penulis mendengar sebuah kabar yang menggetarkan. Pada 17 Mei 2026, Donald Trump, Presiden Amerika Serika, pemimpin negara adidaya, bersama seluruh jajaran pemerintahannya berniat melakukan sesuatu yang sudah lebih dari 50 tahun tidak pernah dilakukan.
Mereka mendedikasikan kembali bangsanya kepada Tuhan. Bukan sekadar acara seremonial di gedung megah. Ini tentang sebuah kerinduan spiritual yang dalam: mengakui bahwa ada Tuhan, sang Sabda, di atas kekuasaan manusia.
Lalu kami bertanya pada diri sendiri: mengapa seorang pemimpin yang nyaris kehilangan nyawa berkali-kali karena upaya pembunuhan tetap nekat melakukan ini? Apakah ada hubungannya?
Tiba-tiba pikiran kami melompat jauh —ke negeri timur nusantara, ke lembah-lembah Baliem, ke bibir pantai Mansinam, ke puncak Cartenz dan Lembah Baliem. Bukankah tanah Papua juga membutuhkan sebuah dedikasi? Bukan dedikasi untuk kekuasaan, bukan untuk tambang, bukan untuk proyek, melainkan dedikasi untuk Sang Pemilik Hidup?
Akar dari Segala Pemulihan
Coba kita telusuri sejenak. Dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, ada kisah tentang seorang pemimpin besar bangsa Israel bernama Musa. Ia berkata lantang, “Jika Engkau sendiri tidak berjalan bersama kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Sebab apakah tandanya bahwa kami berkenan kepada-Mu, kalau bukan karena kehadiran-Mu yang membedakan kami dari segala bangsa di muka bumi?”
Kalimat ini menggetarkan. Kehadiran Ilahi itulah yang membedakan. Bukan senjata. Bukan kekayaan. Bukan teknologi. Bukan jumlah penduduk. Hanya hadirat-Nya.
Kemudian ada Raja Salomo. Setelah bertahun-tahun membangun rumah ibadah yang megah, ia berdiri di depan seluruh rakyat dan berdoa. Ia mengingatkan bahwa tidak satu pun janji Tuhan gagal. Tahu apa yang terjadi setelah doa itu?
Bukan tepuk tangan meriah. Bukan pesta kembang api. Tapi kemuliaan Tuhan turun begitu dahsyatnya sehingga para imam yang sedang bertugas tidak sanggup berdiri. Mereka tersungkur. Itulah yang terjadi ketika sebuah bangsa atau wilayah dengan sungguh-sungguh dikembalikan kepada Penciptanya.
Papua pernah merasakan hadirat itu. Oke, mungkin tidak dalam kemasan agama tertentu, tapi orang-orang tua kita dulu hidup dalam harmoni dengan alam dan Tuhan, sang Pencipta.
Mereka tahu kapan harus memberi hormat pada gunung, pada sungai, pada leluhur yang menjaga keseimbangan. Ada rasa takut yang kudus, ada penghormatan pada yang tak kasat mata.
Tapi kini? Hutan digunduli, konflik berdarah berkepanjangan, generasi muda kehilangan arah. Bukan hanya fisik yang terluka, tetapi juga jiwa-jiwa Papua terluka.
Pelajaran Kelam dari Sebuah Negeri
Ada satu cerita ngeri dari seberang lautan yang bisa menjadi cermin. Dahulu, di pulau yang sekarang bernama Haiti, ada sekelompok budak yang melawan penjajah Perancis. Dalam keputusasaan, mereka berdoa kepada berbagai roh.
Bahkan ada yang berdoa kepada penguasa kegelapan. Lalu mereka menang. Tapi kemenangan itu dibayar mahal. Sebagai wujud syukur, para pemimpin mereka secara nasional mendedikasikan negeri itu kepada kuasa gelap.
Hasilnya? Cobalah terbang di atas perbatasan antara Republik Dominika dan Haiti. Di sisi Dominika, hijaunya luar biasa, subur, hidup. Begitu melewati garis batas ke Haiti, tanahnya kering, gersang, dan tanaman mati. Itulah dampak kutukan rohani yang nyata.
Bukan mitos. Bukan dongeng. Itu terjadi karena apa yang diikat di dunia roh, terwujud di dunia nyata. Kabar baiknya? Tuhan juga mendengar doa-doa umat-Nya yang terus berjuang membebaskan Haiti. Dan kabar baiknya lagi, Papua tidak perlu menunggu sampai kering dan hancur dulu. Papua bisa memilih jalan dedikasi sebelum terlambat.
Jalan Menuju Pemulihan
Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk tanah Papua? Pertama, kita butuh pemimpin-pemimpin yang memiliki hati yang sungguh-sungguh baik secara adat, pemerintah, maupun rohani, untuk berkumpul dan dengan rendah hati mendedikasikan tanah Papua kembali kepada Tuhan. Bukan untuk kepentingan politik. Bukan untuk popularitas. Tapi hati mereka menangis melihat penderitaan tanah ini.
Kedua, kita butuh doa yang konsisten. Jangan hanya saat bencana datang. Doa harus menjadi kebutuhan rutin. Doakan para tokoh adat, doakan para pejabat di provinsi dan kabupaten, doakan para guru, petugas kesehatan, bahkan para pengusaha yang datang untuk membangun —agar hati mereka berubah, bukan hanya mengeksploitasi, tetapi memulihkan.
Ketiga, kita butuh efek domino. Satu wilayah adat yang berani kembali kepada Tuhan akan menginspirasi wilayah adat yang lain. Satu suku yang mengalami damai sejahtera akan menjadi teladan bagi suku lain.
Jangan remehkan satu titik terang di tengah gelapnya kabut dosa dan keserakahan. Papua bisa menjadi mercusuar bagi suku bangsa lain, bahkan bagi seluruh nusantara.
Kami teringat kisah satu masa di akhir tahun 70-an. Pemimpin Amerika kala itu, Jimmy Carter, merasa bangsanya sedang di ujung kehancuran. Negeri itu dilanda krisis minyak, ekonomi morat-marit hingga moral bangsa jatuh. Ia menyerukan hari-hari puasa, pertobatan, dan doa secara nasional.
Hasilnya? Bangsa itu perlahan bangkit dan menjadi adidaya. Ini bukan soal kebesaran nama Carter, bukan soal partai, tapi soal sebuah bangsa yang berani berlutut dan mengaku: “Kami butuh Engkau, Tuhan.” Papua bisa begitu. Papua lebih dari bisa.
Akhirnya, soal Hati
Saudara-saudari di tanah Papua, di mana pun kita berada —entah di lembah yang sejuk, di pesisir yang berombak, di kota yang ramai atau di kampung terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan pesawat perintis— kami ingin menyampaikan ini dengan penuh kasih: pemulihan sejati dimulai dari dedikasi. Mendedikasikan diri kita, keluarga kita, rumah kita, kampung kita, bangsa kita, kepada Tuhan.
Bukan untuk menjadi agamis, tetapi untuk mengundang Hadirat yang membedakan. Hadirat yang bisa membuat tanah yang keras menjadi subur. Hadirat yang bisa mengubah hati yang penuh dendam menjadi pemaaf. Hadirat yang sanggup menghentikan tumpahan darah dan menggantinya dengan nyanyian dan tarian syukur.
Mari kita bayangkan peristiwa 17 Mei 2026 itu bukan di Amerika, tetapi di Lembah Baliem, di Manokwari, di Merauke, di Nabire, di Jayapura, di Sorong: sekelompok orang Papua, tua-muda, dari suku mana pun, berdiri dalam satu hati.
Mereka berdoa, mereka memuji, mereka berkata: “Tuhan, tanah ini milik-Mu. Ampuni kami yang selama ini menjualnya untuk kepentingan kami sendiri. Kembalikan kemuliaan-Mu di sini.”
Kami percaya, jawaban-Nya bukan hanya akan terdengar di angin, namun akan terlihat di bumi. Gunung akan bersorak-sorai, sungai akan bertepuk tangan, dan damai sejahtera yang melampaui akal akan merajai tanah Papua.
Mari kita mulai hari ini. Mulai dari diri kita sendiri. Sebelum kita berharap pemimpin besar datang, jadilah pemimpin kecil di keluarga dan rumah kita. Dedikasikan Papua dalam doa kita. Karena ketika hati kembali, tanah pun pulih. Tuhan memberkati tanah Papua. Amin.










