JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Pihak Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih mengecam keras dugaan pembunuhan terhadap dua warga sipil di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang disebut terjadi Rabu (22/7).
Peristiwa tragis yang videonya beredar luas di jagat maya tersebut kini jadi perhatian publik. Insiden tersebut diduga melibatkan kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM).
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun aparat, kedua korban diduga merupakan pasangan suami-istri (pasutri) Kumis Kogoya dan Seli Wenda. Keduanya merupakan warga sipil orang asli Papua. Aparat gabungan masih melakukan proses evakuasi sekaligus pendalaman untuk memastikan seluruh kronologi kejadian.
Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto, SIP, Kamis (23/7) membenarkan adanya peristiwa tersebut dan menyampaikan kecaman keras atas dugaan aksi kekerasan yang menimpa warga sipil.
“Kodam Cenderawasih mengutuk keras kekejaman OPM terhadap warga sipil tak bersenjata. Warga sipil seharusnya dilindungi dan tidak menjadi sasaran tindakan kekerasan dalam kondisi apa pun,” ujar Tri Purwanto di Jayapura, Papua, Kamis (23/7).
Selain menyampaikan kecaman, Tri juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Kodam Cenderawasih juga turut merasakan duka atas kehilangan tersebut dan berharap proses evakuasi korban dapat berjalan dengan aman serta lancar.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Kami juga memohon doa dan dukungan masyarakat agar proses evakuasi yang dilakukan aparat gabungan dapat berjalan lancar sehingga korban segera dapat diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak,” katanya.
Tri juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta segera melaporkan kepada aparat apabila mengetahui adanya aktivitas yang berpotensi mengganggu keamanan di lingkungan sekitar.
“Partisipasi masyarakat sangat penting dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Papua,” ujar Tri lebih lanjut. (*)










