DAERAH  

Dari Seminar Internasional di UKI Jakarta: Menjembatani Iman dan Hubungan Global

Peserta seminar internasional dengan tema Faith, Innovation, and Global Engagement: Building Bridges in International Relations di Graha William Soeryadjaya (GWS), gedung utama Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Kamis (7/5). Foto: Laurens Ikinia

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian terfragmentasi oleh konflik kepentingan, pertarungan ekonomi, dan ambisi politik, Graha William Soeryadjaya (GWS), gedung utama Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, Kamis (7/5) menjadi saksi bisik-bisik harapan.

GWS berubah menjadi persimpangan jalan antara langit dan bumi, antara iman dan realitas hubungan antarbangsa. Seminar internasional dengan tema Faith, Innovation, and Global Engagement: Building Bridges in International Relations bukan sekadar agenda akademik biasa.

Ia adalah sebuah pengakuan jujur bahwa perdamaian dunia tidak akan pernah cukup hanya ditopang oleh nota kesepahaman atau kekuatan militer. Ada kerinduan yang lebih dalam, sebuah fondasi yang sering luput dari hitungan rasionalisme: iman.

Kehadiran Patrick America sebagai narasumber utama membawa vibrasi yang berbeda. Baginya, berbicara tentang hubungan internasional tanpa melibatkan pengalaman transendental adalah seperti menyelami laut tanpa pernah menemukan cahaya.

Patrick bercerita tentang hidupnya yang sekuler hingga usia 33 tahun, lalu sebuah peristiwa near-death saat menyelam di Bunaken, Manado, pada 2001 membalikkan segalanya.

Di kedalaman 27 meter, menghadap muka dengan kematian, ia berseru kepada Tuhan, dan cahaya putih terang menyapanya. Itulah titik balik —sebuah transformasi yang mengubah cara pandangnya tentang dunia, kekuasaan, dan relasi.

Pengalaman pribadi menjadi pintu masuk untuk memahami peta besar hubungan antarnegara. Patrick mengajak para mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional melihat narasi global dari sudut pandang kebenaran Firman Tuhan, khususnya melalui peristiwa Menara Babel.

Dari pembacaan yang mendalam terhadap Ulangan 32:8–9, pemahaman ini seakan membongkar ulang nalar hubungan internasional. Selama ini mahasiswa diajari bahwa negara-bangsa adalah entitas rasional yang berinteraksi berdasarkan kekuatan dan kepentingan.

Tetapi di balik layar, menurut perspektif Patrick, ada realitas Rohani —ada ‘pangeran-pangeran’ yang memengaruhi kebijakan dan budaya suatu bangsa. Di sanalah letak panggilan gereja, atau dalam istilah Perjanjian Baru, ekklesia.

Gereja tidak hanya dipanggil untuk menyelamatkan jiwa, tetapi untuk mendisiplinkan bangsa-bangsa, membawa kerajaan Allah ke tengah-tengah tatanan politik dan sosial. Ini adalah misi yang jauh lebih besar dari sekadar program sosial atau kerja sama internasional biasa.

Lalu bagaimana iman diwujudnyatakan dalam praktik hubungan internasional? Pertanyaan itu menggantung di ruang seminar, lalu dijawab dengan kisah-kisah kontemporer. Patrick menyoroti bagaimana Tuhan bekerja dalam poros geopolitik modern.

Ia menyebut nubuatan Kim Clement tahun 2007 tentang Donald Trump yang kemudian terpenuhi melalui pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Abraham Accords, dan pemindahan Kedutaan Besar AS.

Bukan untuk membenarkan figur tertentu, tetapi untuk menunjukkan bahwa sejarah bangsa-bangsa tidak pernah lepas dari kedaulatan Ilahi. Demikian juga dengan Israel— kembalinya orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia, termasuk komunitas Bani Manasye dari Asia, adalah penggenapan Yesaya 11:11.

Semua itu mengingatkan bahwa di balik berita-berita krisis dan konflik, ada narasi besar penebusan yang sedang berlangsung.

Indonesia tidak luput dari perhatian. Patrick mengangkat visi profetik Pastor Dr Petrus Octavianus dalam buku Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan Indonesia Adidaya (2030-2055). Panggilan untuk Indonesia menjadi bangsa yang kuat, makmur, dan benar —Indonesia Emas— bukan sekadar slogan pembangunan.

Ia adalah keselarasan dengan rencana Ilahi. Bahkan Patrick menyebut bahwa ia pernah memainkan peran sebagai jembatan people-to-people diplomacy antara diaspora Indonesia dan Amerika, dan ia meyakini itu semua adalah kehendak Allah agar Indonesia dapat menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain.

Presiden Prabowo Subianto dan agenda nasionalnya untuk mengurangi kemiskinan dan menguatkan negara, menurut Patrick, berada dalam alur yang sama dengan panggilan profetik almarhum Octavianus.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Arthuur Jeverson Maya mengatakan, seminar internasional ini memberikan dampak positif bagi kajian hubungan internasional di Indonesia dan dunia, di mana perspektif iman merupakan perspektif penting dalam pembangunan negara-bangsa.

Menurutnya, negara bangsa merupakan manifestasi dari iman, sebab perdamaian, kepercayaan, dan relasi antarbangsa tidak hanya dibangun melalui kepentingan politik dan ekonomi semata, tetapi juga melalui nilai moral dan spiritual.

Oleh karena itu, hanya iman yang mampu melenyapkan keraguan negara-bangsa dalam membangun perilaku damai di tengah dinamika global, sekaligus menjadi fondasi dalam menemukan kebenaran dan keadilan dalam relasi internasional.

Sebagai moderator dan akademisi yang turut mempersiapkan diskusi ini, penulis berharap mahasiswa-mahasiswi kami mendapatkan insights baru. Mereka bukan hanya disuguhi teori-teori hubungan internasional, tetapi juga diajak melihat realitas sebagai medan pertempuran iman dan inovasi.

Mereka mendengar tentang Mystery Babylon dan bagaimana musuh dapat menyamar sebagai malaikat terang, memengaruhi arus utama kebudayaan melalui seni, hiburan, dan organisasi elit global.

Namun, seruan bukan untuk menarik diri, melainkan untuk membedakan roh, menguji setiap ungkapan dan tindakan, dan tetap mengindahkan hikmat dan didikan yang benar.

Salah satu bentuk inovasi yang paling membumi adalah peluncuran AlkitabAI, sebuah alat berbasis Telegram dengan teknologi text-to-speech bahasa Indonesia, memori pintar, dan pembimbing Alkitab yang sadar konteks. Ini adalah wujud nyata dari slogan seminar: iman, inovasi, dan keterlibatan global.

Generasi muda tidak perlu takut pada kecerdasan buatan; mereka perlu menaklukkannya untuk kemuliaan Allah. Dengan AlkitabAI, firman Tuhan dapat diakses dengan cara baru, berdialog, mengingat percakapan, dan membimbing penggunanya dalam bahasa Indonesia. Sebuah terobosan kecil namun bermakna, bahwa teknologi bisa menjadi alat misi di era digital.

Sepanjang sesi tanya jawab, mahasiswa menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Mereka bertanya tentang dilema etis diplomasi Kristen di tengah negara-negara dengan agama mayoritas lain, tentang bagaimana membedakan mana kebijakan yang berasal dari Allah dan mana yang hanya produk kepentingan elit, dan tentang peran generasi muda Indonesia di kancah global.

Tidak ada lagi rasa takut atau pesimisme. Ada semacam pembebasan —bahwa iman bukanlah beban yang menghambat rasionalitas, melainkan lensa yang justru memperjelas panggilan.

Universitas Kristen Indonesia, melalui motonya, selalu mengingatkan kami bahwa kita dipanggil untuk melayani, bukan dilayani. Kami memaknai kata ‘Kristen’ dalam nama universitas sebagai tanggung jawab (salib), bukan sekadar identitas.

Nilai-nilai itu harus tampak dalam proses belajar, dalam pelayanan berbagi, dalam cara mahasiswa menganalisis konflik, merancang kerja sama, dan memperjuangkan keadilan.

Sebab pada akhirnya, hubungan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan pernah kokoh jika hanya di atas fondasi kontrak dan keuntungan semata. Ia membutuhkan kepercayaan, yang lahir dari iman bahwa ada standar kebenaran dan kebaikan yang melampaui kepentingan sesaat.

Pesan Patrick kepada generasi muda menutup seminar dengan nada yang menggugah. Di era artificial intelligence dan ketidakpastian global, tetaplah rendah hati, jangan takut, serahkan diri kepada Tuhan, dan teruslah fokus membawa kerajaan Allah ke semua lini masyarakat.

Berdoa menjadi tindakan paling strategis dalam diplomasi modern: doa untuk presiden, doa untuk pemerintah, doa untuk aparat negara, doa untuk gereja, doa untuk rakyat. Sebab kesejahteraan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan tawar-menawar di meja perundingan, melainkan oleh suara umat yang berseru kepada Tuhan Yang Mahatinggi.

Keluar dari ruang seminar, langit Jakarta sore itu tampak biasa. Tapi di dalam hati, ada gema yang tak mudah padam. Mungkin inilah arti sebenarnya dari membangun jembatan —bukan sekadar menghubungkan dua tepian, tetapi memastikan bahwa jembatan itu berdiri di atas dasar yang tak tergoyahkan.

Iman, inovasi, dan keterlibatan global bukanlah tiga hal yang terpisah. Mereka adalah satu napas. Satu panggilan. Dan kita semua, baik sebagai mahasiswa, akademisi, maupun praktisi hubungan internasional, dipanggil untuk menjadi jembatan itu.

Mari teruskan percakapan. Mari terus melangkah, karena langit lebih dekat daripada yang kita kira. (Laurens Ikinia, Peneliti Institute of Pacific Studies; Dosen Hubungan Internasional UKI, Jakarta)