OPINI  

Dampak Kenaikan BBM dan Solusi Kita Bersama

Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev, Pemerhati Pembangunan Papua; Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan SDM Setda Tolikara, Papua Pegunungan. Foto: Istimewa

Oleh Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev

Pemerhati Pembangunan Papua; Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan dan SDM Setda Tolikara

BEBERAPA waktu belakangan masyarakat mulai merasakan langsung dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Begitu BBM naik, harga-harga lain juga menanjak. Beras jadi mahal, sayur naik, ongkos mobil juga naik.

Akhirnya, yang paling terasa adalah kita semua, masyarakat di tanah Papua, baik pesisir maupun pegunungan. Kondisi ini tidak hanya dirasakan di kota, tetapi juga sangat berat dirasakan di kampung-kampung yang aksesnya masih terbatas.

Kenapa bisa begitu? Karena BBM itu seperti “urat nadi” ekonomi. Semua barang harus diangkut pakai kendaraan, baik pesawat maupun mobil. Kalau BBM naik, biaya angkut juga naik. Dari kota ke distrik sudah mahal, dari distrik ke kampung lebih mahal lagi.

Ujungnya, harga di pasar ikut naik. Salah satu pihak yang paling merasakan dampak adalah mama-mama di pasar dan masyarakat kecil. Uang yang biasanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, sekarang terasa kurang.

Daya beli menurun, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Ini adalah kenyataan yang kita hadapi bersama saat ini. Lalu, kenapa BBM bisa naik? Sederhananya begini.

Harga BBM dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya, harga minyak dunia yang naik, nilai tukar rupiah yang melemah serta kebijakan pemerintah dalam mengatur subsidi agar anggaran negara tetap kuat.

Pemerintah harus menjaga keseimbangan antara membantu masyarakat dan menjaga keuangan negara tetap sehat. Jadi, kenaikan BBM ini bukan hanya karena kondisi di daerah, tetapi juga karena kondisi global dan kebijakan nasional yang harus diambil.

Langkah Konkrit

Nah, kita di daerah harus bagaimana? Kita tidak boleh hanya mengeluh atau menyalahkan keadaan. Kita harus mencari jalan keluar bersama, dengan langkah-langkah yang nyata dan bisa dilakukan.

Pertama, kita harus memperbaiki jalan dan transportasi. Infrastruktur yang baik akan menurunkan biaya distribusi barang.

Jika jalan bagus dan akses lancar, maka kendaraan bisa lebih cepat dan hemat biaya. Dengan begitu, ongkos angkut bisa ditekan, dan harga barang di pasar bisa lebih stabil.

Kedua, kita harus mulai menanam dan memproduksi sendiri kebutuhan pangan lokal. Jangan semua bergantung dari luar daerah. Kita punya tanah yang subur dan tenaga kerja yang cukup. Kita bisa tanam padi, sayur, ubi, jagung, dan komoditas lainnya.

Ketiga, pemerintah harus hadir secara nyata di tengah masyarakat. Pemerintah bisa melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga, memberikan subsidi ongkos angkut untuk daerah terpencil, serta melakukan pengawasan harga di pasar.

Keempat, kita perlu memanfaatkan teknologi sederhana. Informasi harga barang bisa dibuka secara transparan agar masyarakat mengetahui harga yang wajar. Kelima, kita harus memperkuat masyarakat kecil.

Penyaluran bantuan sosial harus tepat sasaran serta pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) harus terus didorong.

Namun, yang paling penting adalah kita harus mulai mandiri. Papua memiliki potensi besar. Jika dikelola dengan baik, kita bisa kuat dan siap menghadapi tantangan ekonomi.

Jadi, pesannya sederhana. Kenaikan BBM memang berat, tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus menjawab dengan kerja nyata, saling membantu, dan tetap berpihak pada masyarakat kecil.