Prosa Lirik: Nyanyian Kelu Alam di atas Tanah yang Terluka Karya Yance Dou

Foto udara hutan hujan tropis di Tanah Papua. Sumber foto ilustrasi: betahita.id, Rabu, 14 Juli 2021/ thegeckoproject

Panggilan Melindungi dan Menjaga Surga Terakhir

KINI, saatnya kita berdiri dan menjadi benteng bagi mereka yang tak bersuara. Menjaga Papua dan Kalimantan bukanlah tugas yang jauh di belantara sana. Itu adalah janji hati yang harus kita gaungkan di mana pun kita berada. Setiap pohon yang kita biarkan tumbuh di Kalimantan adalah pelukan hangat bagi bumi yang kian memanas. Setiap hektar belantara Papua yang kita lindungi adalah benteng keberlanjutan bagi napas anak-cucu kita besok.

Jadilah seperti pohon ulin: kokoh, tak tergoyahkan oleh keserakahan, dan senantiasa memberi perlindungan bagi makhluk di sekitarnya. Jadilah seperti Cenderawasih: senantiasa menebarkan keindahan tanpa merusak dahan tempatnya memijak.

Kembalikan kejernihan pada Kapuas dan Mahakam. Biarkan embun pagi di Lembah Baliem tetap menetes di atas daun yang utuh. Biarkan gambut Kalimantan tetap basah menyimpan simfoni air, dan biarkan belantara Papua tetap menjadi mahkota paling indah di kepala bumi ini.

Selama hutan Papua masih berdiri dan jantung hijau Kalimantan masih berdenyut, bumi ini akan selalu memiliki harapan. Mari kita jaga rimba ini dengan tangan kita, kita lindungi dengan suara kita, dan kita cintai dengan seluruh jiwa kita. Karena menjaga Papua dan Kalimantan adalah menjaga napas kehidupan kita sendiri.

 

Nyanyian Kelu Alam di atas Tanah yang Terluka

Nun di ufuk timur tanah Papua, benua jumbo tempat matahari pertama kali mentari menyentuh alam dan angin berhembus menepis kabut tipis belantara Melanesia, tanah berbicara dengan bahasa yang hampir kita lupakan. Ia tidak membisikkan kata melalui bibir manusia, melainkan lewat rimbun tajuk pohon yang saling bertaut, gema senandung Cenderawasih di pucuk rotan dan gesekan dedaunan mulia di dada rimba. Inilah nyanyian purba dari dua surga terpisah samudra —tanah Papua yang megah di ufuk timur dan Kalimantan yang lembut di jantung belantara.

Lihatlah Papua, benteng hijau di batas cakrawala. Di sana, Puncak Jaya berdiri anggun bertabur salju abadi, menatap bumi yang dihampari permadani zamrud tanpa batas. Setiap lembar daun matoa dan sagu menyimpan ingatan ratusan generasi.

Sungai-sungai berliku bagaikan urat nadi kehidupan, mengalirkan kehidupan dari pegunungan yang menjulang hingga ke pesisir yang tenang. Rimba Papua adalah rahim keheningan tempat kehidupan diciptakan kembali setiap pagi, tempat kepak sayap sang burung surga menari melintasi bayang-bayang kabut pagi.

Sementara di barat, tanah Borneo bernapas dalam keheningan sungai-sungai raksasa. Mahakam, Kapuas, dan Barito adalah pita-pita perak yang menjalin takdir ribuan desa. Di bawah kanopi hutan hujan yang pekat, orangutan berayun pelan di antara pepohonan pohon ulin tua—pilar-pilar kayunya berdiri bak tiang-tiang candi purba yang tak tertandingi waktu. Kalimantan adalah jantung basah bumi, tanah gambut yang menyerap duka air mata zaman dan menghembuskan napas segar bagi seluruh planet ini.

Kedua tanah ini tidak pernah meminta banyak dari kita. Mereka hanya meminta dipahami, dicintai, dan dibiarkan bernapas. Sebab ketika hutan bernapas, seluruh belahan bumi ikut menikmati sejuknya.

 

Luka yang Tak Boleh Menjadi Abadi

Namun, dengarlah jeritan yang terselip di balik desir angin. Ada retak kecil pada fondasi surga yang kita warisi. Ketika mesin-mesin besi meraung membongkar kedalaman bumi Kalimantan dan Papua, dan ketika jelutong serta ulin roboh satu per satu menimpa tanah gambut yang kering, sungai-sungai pun mulai mengeruh oleh duka. Air yang dulu menjadi cermin bening kini berubah menjadi lumpur kecokelatan.

Di hutan Kalimantan orangutan menatap dari pucuk pohon terakhir yang tersisa, bertanya dalam bisu tentang mana lagi rumah yang bisa mereka singgahi besok pagi. Di Papua, belantara yang dulu tak tersentuh kini mendapati garis-garis luka baru. Kayu-kayu tua roboh bersimbah debu, meninggalkan ceruk kosong di mana cenderawasih biasa bertengger. Ketika sebuah pohon tumbang di hutan Papua, bukan hanya dahan yang patah—tetapi juga sepenggal nyanyian leluhur yang lenyap ditelan kebisingan zamannya.

Apakah kita akan membiarkan keindahan ini hilang menjadi sekadar cerita rekaan dalam buku-buku sejarah? Haruskah anak-cucu kita kelak hanya bisa menggambar cenderawasih dari bayangan, dan mengenali keagungan pohon ulin dari potongan kayu mati di museum?

Luka ini belum menjadi kematian. Ini adalah panggilan darurat yang mengetuk pintu hati setiap manusia yang masih memiliki rasa syukur. Kita adalah penjaga taman ini, bukan pemilik yang berhak merusaknya.

Jayapura, 28 September 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.