NABIRE, ODIYAIWUU.com — Intelekual muda tanah Papua Yakobus Dumupa, SIP, MIP, Kamis (27/8) menyampaikan umum (studium generale) di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pelita Harapan, Nabire, Papua Tengah.
Yakobus Dumupa, Bupati Kabupaten Dogiyai periode 2017–2022 menyajikan materi kuliah bertajuk Dari Kuliah ke Wirausaha: Disiapkan Semasa Kuliah, Dikerjakan Sesudah Wisuda di hadapan para mahasiswa yang dihadiri pula civitas akademika STIE Pelita Harapan, Nabire.
Yakobus di awal pemaparannya menyodorkan sebuah pertanyaan reflektif di hadapan mahasiswa: kuliah untuk apa? Menurut Yakobus, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), pertanyaan ini jarang disodorkan orang kepada mahasiswa bahkan hampir tidak pernah ditanyakan mahasiswa kepada dirinya.
“Jawaban yang biasa kita dengar atas pertanyaan ‘kuliah untuk apa?’ yaitu supaya dapat ijazah, supaya dapat kerja. Jawaban itu tidak salah. Tetapi hari ini, jawaban itu sudah tidak cukup,” ujar Yakobus Dumupa.
Menurutnya, yang biasa terjadi yaitu usai wisuda lalu mencari lowongan atau peluang kerja atau menunggu jadwal seleksi CPNS atau Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Namun, realitas yang dihadapi kuota atau kursi terbatas sedangkan calon pelamar menyentuh angka ribuan orang.
“Jadi kalau semua orang menunggu di pintu yang sama, siapa yang akan membuka pintu baru? Dahulu ijazah membedakan orang. Artinya, yang punya ijazah akan mudah memperoleh pekerjaan, yang tidak punya ijazah tentu tidak punya peluang memperoleh pekerjaan,” kata Yakobus.
Menurut Yakobus, era saat ini ijazah bukan satu-satunya jaminan atau garansi memperoleh peluang kerja. Produk SDM perguruan tinggi di Indonesia yang melamar atau mencari peluang kerja namun, di saat bersamaan yang menganggur di Indonesia juga banyak, lebih dari satu juta orang. Padahal, mereka juga mengantongi ijazah.
“Di kabupaten-kabupaten kita juga sama. Banyak yang melamar tetapi jumlahnya jauh lebih besar dari kuota atau kursi yang tersedia,” kata Yakobus, Magister Ilmu Pemerintahan lulusan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta.
Menurutnya, dari sini bisa dipahami bahwa ijazah itu penanda seseorang pernah kuliah, bukan penanda ia bisa mengerjakan sesuatu. Nah, yang membedakan seseorang, termasuk mahasiswa adalah apa yang pernah dikerjakan, dan siapa yang dikenal. Karena itu, pertanyaannya berubah.
“Bukan lagi ‘di mana ada pekerjaan untuk saya?’ tetapi ‘apa yang bisa saya kerjakan?’, dan ‘pekerjaan apa yang bisa saya buka untuk orang lain?’. Inilah yang akan menjadi tantangan bagi gerenasi muda setelah selesai kuliah,” ujar Yakobus, mahasiswa intelektual muda yang kini sedang merampungkan studi doktoral.
Di hadapan para mahasiswa, Yakobus juga menyodorkan pertanyaan apa gunananya ilmu ekonomi yang dipelajari selama menempuh kuliah. Menurutnya, ilmu ekonomi bukan sekadar urusan mempelajari uang.
“Ekonomi itu ilmu juga menyentuh aspek bagaimana kebutuhan orang dilayani, dan siapa yang dapat untung dari proses transaksi bisnis penjual dan pembeli. Yang dilayani bukan cuma barang, tetapi juga jasa. Jasa menjadi tukang ojek, angkutan, cuci pakaian, cetak dan jilid, tukang, warung makan. Semuanya punya jalan, dan di jalan itu ada untung yang diambil,” kata Yakobus.
Yakobus juga mencontohkan lima item barang dan jasa yang dipakai saat ini seperti sabun, mi instan, pulsa, air minum, dan ojek. Pertanyaan penting ialah barang-barang itu datang dari mana, lewat siapa sampai ke tujuan atau siapa yang dapat untung paling besar.
Pertanyaan lain misalnya, kenapa harga semen dan beras lebih mahal di kampung di pedalaman Papua Tengah dibanding di Nabire. Atau mengapa ongkos ojek naik saat musim hujan. Menurut Yakobus, ilmu dan praksis ekonomi menjawab pertanyaan seperti itu.
“Inilah alasan mengapa adik-adik belajar ekonomi agar tahu jalannya uang, lalu bisa ikut ambil bagian di jalan itu. Bukan sekadar jadi penonton aktif,” kata Yakobus, intelektual muda yang menulis belasan buku aneka tema terkait tanah Papua.
Yayasan Pelayanan Pelita Meedimi (Yappemed) selaku pengelola STIE Pelita Harapan Nabire mengundang Yakobus Dumupa menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa dan mahasiswi sekolah tinggi tersebut.
“Selain menyampaikan kuliah umum kami juga memberikan penghargaan kepada Bapak Yakobus Dumupa yang menjadi sponsor dan memberi dukungan dana dalam pendirian STIE Pelita Harapan,” ujar Ketua Yappemed Yoram Degei, SAP melalui tertulis di Nabire, Papua Tengah, Kamis (27/8).
Menurut Yoram Degei, ia menyerahkan langsung surat penghargaan kepada Yakibus mengingat tokoh mud aini juga sangat membantu mengembangkan kegiatan yayasan sejak menjadi anggota MRP dan Bupati Kabupaten Dogiyai.
Saat menyerahkan penghargaan, Yoram mengatakan selama ini pihak yayasan mengharapkan Yakobus menyampaikan kuliah umum sekaligus menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih mengingat ia memberikan dukungan hingga STIE Pelita Harapan resmi berdiri di Nabire, Papua Tengah.
“Selain Pak Yakobus menyampaikan kuliah umum, kami juga menyerahkan langsung penghargaan ini dengan harapan agar beliau tetap setia memberi dukungan bagi yayasan dalam mengembangkan STIE Pelita Harapan kampus agar menjadi laboratorium menyiapkan lulusan berkualitas dan siap memasuki bursa kerja,” ujar Degei. (*)










