BEKASI, ODIYAIWUU.com — Sukacita besar dirasakan oleh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta, keluarga besar Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB) serta umat Paroki Santo Servatius Kampung Sawah, Bekasi, Jawa Barat.
Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, Pr akan menahbiskan diakon Alfonsus De Navarete, SDB dan diakon Fransisco Kherubim Nuwa, SDB asal Flobamora di Gereja Santo Servatius Kampung Sawah, Jakarta Timur, Sabtu (22/8).
Tahbisan ini menjadi puncak perjalanan panggilan yang telah dijalani kedua diakon selama bertahun-tahun dalam Kongregasi SDB. Melalui Sakramen Tahbisan, keduanya akan diutus melayani Gereja sebagai imam dengan spiritualitas Santo Yohanes Don Bosco yang menekankan pelayanan kepada kaum muda, pendidikan serta pewartaan Injil.
Diakon Alfonsus De Navarete bersama diakon Fransisco merupakan bagian dari generasi muda asal Flobamora yang memilih mengabdikan hidupnya melalui Kongregasi SDB.
Perayaan tahbisan ini memiliki makna yang sangat istimewa bagi umat Gereja Kampung Sawah, Paroki Santo Servatius. Karena salah satu calon imam, diakon Varet -sapaan akrab Alfonsus- adalah putra Flobamora yang lahir dan dibesarkan di tengah komunitas Betawi Kampung Sawah.
Komunitas ini dikenal sebagai simbol toleransi, persaudaraan, dan kerukunan antarumat beragama, tempat tumbuh benih panggilan hidup membiara hingga akhirnya mengantarkan diakon Varet menuju tahbisan imamat.
Kehadiran putra Kampung Sawah yang akan ditahbiskan menjadi imam merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga, umat paroki, dan masyarakat setempat. Peristiwa ini juga menjadi bukti bahwa keluarga dan komunitas Flobamora memiliki peran penting dalam menumbuhkan panggilan hidup untuk mengabdi kepada Tuhan dan sesama.
Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Flobamora Kampung Sawah Pascal S Bin Saju merasa gembira dengan ditahbiskannya dua putra diaspora Flobamora di Kampung Sawah.
“Saya sebagai salah satu warga diaspora NTT, Flobamora yang ada di Kampung Sawah dan juga sekaligus sebagai Ketua Ikatan Keluarga Besar Flobamora di Kampung Sawah merasa sangat bangga dan senang karena kedua putra Flobamora asal Flores yang lahir di tengah komunitas Betawi ternyata memiliki panggilan untuk menjadi pelayan Tuhan,” kata Pascal.
Menurut Pascal, wartawan senior Kompas, tahbisan ini menjadi bukti nyata sumbangsih terbesar dari Komunitas Flobamora untuk Gereja Kampung Sawah, Paroki Santo Servatius.
“Diakon Varet ini putra pertama dari NTT tepatnya dari Pulau Flores yang ada di Kampung Sawah, yang lahir di tengah komunitas Betawi. Ini sebuah kegembiraan, karena panggilan itu tenyata tidak hanya tumbuh di komunitas asalnya, tetapi juga tenryata bersemi di tengah komunitas Betawi. Ini sebuah kegembiraan yang luar biasa yang sangat dibanggakan kita semua,” kata Pascal.
Pascal juga berharap dengan munculnya imam baru dari Komunitas Flobamora yang lahir di tengah komunitas Betawi dapat menjadi model dan contoh sehingga dapat melahirkan benih panggilan baru bagi generasi muda Flobamora atau komunitas lain di tengah Jakarta untuk mendorong anak-anaknya untuk mengikuti jejak diakon Varet untuk menjadi pelayan Tuhan.
Bagi umat Gereja Paroki Servatius Kampung Sawah, peristiwa ini juga menjadi sejarah yang membanggakan karena gereja yang pada tahun ini merayakan 130 tahun perjalanan imannya kembali menjadi tempat lahirnya seorang imam yang berasal dari komunitasnya sendiri.
Hal ini semakin menegaskan Kampung Sawah sebagai komunitas yang tidak hanya dikenal karena warisan budaya Betawi dan semangat toleransinya, tetapi juga menjadi tempat berseminya panggilan menjadi imam.
Ayah dan ibu kandung diakon diakon Varet, Albertus Peding dan Chirstina Merry bersyukur bahwa anak mereka yang dulu terkenal nakal itu bisa mengikuti pendidikan di seminari sampai akhirnya ditahbiskan menjadi imam. Christina tidak punya pretensi tertentu dengan Varet saat memilih masuk seminari.
“Saya hanya mau mengikuti alurnya Varet saja. Untuk mendorong dia menjadi Imam juga tidak, tapi ikuti saja seperti apa ke depannya, hasilnya seperti apa gitu. Tapi, ternyata sampai detik ini dan akan ditahbiskan menjadi imam, perasaan saya senang, haru dan tidak bisa membayangkan perasaan yang saya alami saat ini,” kata Christina menahan air mata.
Christina berharap anaknya menjadi pelayan Tuhan yang baik. “Mudah-mudahan ke depannya dia bisa menjadi imam yang baik, yang taat akan Tuhan dan sayang umat-umatnya,” ujarnya dalam doa.
Sementara Albertus tidak kaget dengan pilihan anaknya karena memang sejak kecil sudah berharap anaknya ini masuk seminari. Hal itu didukung lagi oleh kekeknya, yang mantan seminaris yang selalu menceritakan kehidupan di seminari.
Dorongan untuk masuk seminari bukan pertama-tama untuk menjadi imam tetapi lebih kepada pembentukan karakter. “Soal nanti jadi imam atau tidak itu adalah kuasa Tuhan sendiri. Itu pikiran saya waktu itu,” ujar Albertus.
“Namun lebih kepada pembentukan karakter. Itu tujuan utama dia masuk seminari. Tapi kemudian memilih menjadi Imam melalui tarket SDB, puji Tuhan,” kata Albert lebih lanjut.
Albert berharap ke depan diakon Varet bisa menjadi imam yang baik dan benar. Tapi penekanannya lebih kepada kebenaran, karena menurut Albert, baik belum tentu benar tetapi benar pasti baik.
Melalui tahbisan ini, Gereja berharap diakon Varet dan diakon Kherubim senantiasa menjadi imam yang rendah hati, setia pada panggilan serta mampu menghadirkan semangat kasih, sukacita, dan pelayanan Don Bosco di tengah Gereja dan masyarakat. (*)










