Korban Dugaan Keracunan Menu Program MBG di Kabupaten Jayapura Diperkirakan Ratusan Orang

Salah seorang korban dugaan keracunan menu makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat dirawat tenaga medis di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa (4/8). Jumlah korban yang diduga mengalami keracunan akibat dugaan mengkonsumsi menu MBG. Foto: Istimewa

SENTANI, ODIYAIWUU.com — Jumlah korban dugaan keracunan menu makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua hingga Selasa (4/8) malam diperkirakan mencapai ratusan orang.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura mengaktifkan delapan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan mengoptimalkan rumah sakit rujukan untuk menangani ratusan warga yang diduga mengalami keracunan usai mengonsumsi menu makanan Program MBG.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura dr Anton Tony Mote, MKM mengatakan, penanganan awal dilakukan di Puskesmas Depapre sebelum pasien dirujuk ke sejumlah fasilitas kesehatan lain di wilayah Sentani dan sekitarnya.

“Penanganan pertama kami lakukan di Puskesmas Depapre. Selanjutnya kami sudah mengaktifkan delapan puskesmas di seputaran Sentani dan sekitarnya,” ujar dr Anton Mote kepada wartawan di Jayapura, Papua, Selasa (4/8) malam.

Menurut dr Mote, semua layanan unit gawat darurat (UGD) sudah disiagakan untuk menangani ratusan korban dugaan keracunan. Dokter dan perawat saat ini terus melakukan penanganan.

Selain itu, kata dr Mote, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura juga berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan, yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari, Rumah Sakit (RS) Dian Harapan, dan Rumah Sakit Kementerian Kesehatan di Jayapura.

dr Mote menambahkan, Rumah Sakit Kementerian Kesehatan telah menyiapkan 16 tempat tidur untuk menerima pasien yang memerlukan penanganan dokter spesialis.

“Rumah Sakit Kementerian Kesehatan sudah menyiapkan 16 tempat tidur dan pasien yang membutuhkan penanganan dokter spesialis sudah kami evakuasi ke sana,” ujar dr Mote lebih lanjut.

dr Anton mengatakan, secara umum kondisi para pasien masih dapat dikendalikan dan seluruh korban yang membutuhkan pelayanan medis telah memperoleh penanganan.

“Secara umum pasien terkendali dan tertangani. Sampai saat ini pasien dengan kondisi berat yang mengancam jiwa juga masih mampu kami kendalikan,” kata dr Mote.

Menurutnya, pemerintah daerah juga memanfaatkan Puskesmas di wilayah pesisir, termasuk Puskesmas Ravendirara untuk menangani pasien yang berasal dari kawasan tersebut sebelum dirujuk ke rumah sakit apabila membutuhkan perawatan lanjutan.

“Kami memiliki Puskesmas sentral di Yowari dan juga Puskesmas Ravendirara di wilayah pesisir. Pasien yang datang ke sana tetap kami tangani, namun sistem rujukan tetap dilakukan apabila memerlukan perawatan lanjutan hingga dokter spesialis,” ujar dr Mote.

Anton memperkirakan jumlah warga yang diduga terdampak mencapai ratusan orang tersebut terdiri dari warga lanjut usia (lansia), anak-anak serta ibu hamil. Meski demikian, diakuinya, seluruh proses penanganan masih berjalan terkendali.

dr Mote mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam penanganan kejadian tersebut. Misalnya, berkolaborasi dan berkomunikasi dengan pihak TNI dan Polri. Di RSUD Yowari juga telah disiapkan tempat tidur dan tenda sehingga penanganan dapat dipusatkan di sana.

“Pasien yang kondisinya sudah stabil akan dipulangkan, sedangkan yang masih memerlukan perawatan akan terus ditangani,” kata dr Mote.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Jayapura AKBP Dionisius Vox Dei Paron Helan, SIK, MH, M.Tr.Mil, Selasa (4/8) malam meninjau langsung penanganan korban dugaan insiden MBG di Puskesmas Depapre dan RS Youwari.

Saat melakukan peninjauan di lapangan, Vox Dei memastikan seluruh unsur pemerintah, TNI, Polri, dan tenaga kesehatan bergerak bersama dengan fokus utama memberikan pertolongan kepada masyarakat yang terdampak.

Vox Dei mengatakan, hingga Selasa (4/8) pukul 23.30 WIT jumlah korban yang datang ke fasilitas kesehatan masih terus bertambah. Meski demikian, ia menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kejadian tersebut.

“Sampai saat ini kami belum bisa menyatakan bahwa ini merupakan kasus keracunan, karena masih membutuhkan kajian dan analisis untuk mengetahui sebab dan akibatnya. Fokus kami saat ini adalah penyelamatan korban,” kata Vox Dei.

Vox Dei menjelaskan, pemerintah daerah bersama TNI, Polri, dan Dinas Kesehatan mengerahkan seluruh sumber daya untuk menangani para korban. RS Youwari menjadi pusat rujukan utama dengan dukungan sejumlah puskesmas di sekitar Kota Sentani.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Bupati, Dandim, dan seluruh pihak terkait. Semua bekerja sama untuk memastikan masyarakat yang membutuhkan pertolongan segera mendapatkan penanganan,” ujar Vox Dei.

Menurutnya, korban yang datang umumnya mengeluhkan mual, pusing, dan keluhan kesehatan lainnya. Hingga malam hari, pasien masih terus berdatangan ke fasilitas kesehatan sehingga proses pendataan masih berlangsung.

Pihaknya juga mengapresiasi solidaritas masyarakat yang turut membantu proses evakuasi dan penanganan korban.”Situasi keamanan tetap aman dan terkendali. Masyarakat juga saling membantu dalam proses penyelamatan. Saat ini kami tidak memikirkan hal lain selain menyelamatkan nyawa manusia,” ujarnya.

Vox Dei menambahkan, dampak kejadian tersebut dirasakan oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Oleh karena itu, seluruh personel yang terlibat diminta memprioritaskan pelayanan dan penyelamatan korban. (*)