OPINI  

Festival Etnik Religi Tolikara: Merawat Budaya, Menghidupi Iman, dan Menata Masa Depan

Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev, Birokrat dan Pemerhati Pembangunan Papua. Foto: Istimewa

Oleh Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev

Birokrat dan Pemerhati Pembangunan Papua

ADA sebuah kalimat sederhana yang sangat menarik dalam gagasan Festival Etnik Religi Tolikara, yaitu “budaya adalah akar jati diri, iman adalah terang kehidupan, dan persaudaraan adalah kekuatan sebuah bangsa.” Frasa ini bukan sekadar rangkaian diksi namun menjadi arah berpikir tentang bagaimana masa depan Tolikara seharusnya dibangun.

Budaya adalah akar jati diri. Pohon dapat tumbuh tinggi karena memiliki akar yang kuat. Demikian pula sebuah daerah akan tetap berdiri kokoh apabila masyarakatnya tetap mengenal identitasnya. Budaya bukan hanya tarian, pakaian adat atau honai (rumah khas Papua).

Budaya adalah cara hidup, cara menghormati sesama, cara menjaga alam, dan cara mewariskan nilai kepada generasi berikutnya. Ketika budaya dirawat masyarakat tidak akan kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang kian mengglobal.

Iman adalah terang kehidupan. Masyarakat Tolikara hidup dan bertumbuh di Tanah Injil. Nilai-nilai Kristiani telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kasih, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan semangat melayani merupakan nilai yang terus menguatkan masyarakat.

Iman bukan hanya untuk didengar di gereja tetapi dihidupi dalam keluarga, pekerjaan, pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan. Ketika iman menjadi dasar kehidupan, maka pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan tetapi juga menghadirkan kedamaian.

Persaudaraan Adalah Modal

Persaudaraan adalah kekuatan sebuah bangsa. Ia juga modal sosial. Tidak ada pembangunan yang berhasil tanpa kebersamaan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Gereja tidak dapat berjalan sendiri.

Tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda, dan seluruh masyarakat harus saling mendukung. Persaudaraan mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang adalah kebahagiaan bersama, dan tantangan yang dihadapi seseorang adalah tanggung jawab bersama.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Festival Etnik Religi Tolikara hadir bukan sekadar sebagai perayaan budaya. Festival Etnik Religi Tolikara merupakan gerakan untuk merawat warisan leluhur, menghidupi nilai-nilai Kristiani, memperkuat persatuan, serta membentuk generasi yang bangga akan identitasnya.

Festival ini mengajak masyarakat untuk kembali mencintai budaya sendiri sekaligus memperkuat kehidupan iman sebagai dasar membangun masa depan. Dari Tanah Injil Papua Pegunungan, Festival Etnik Religi Tolikara membawa pesan yang sederhana tetapi sangat bermakna, yaitu damai, kasih, dan harapan.

Damai menjadi dasar kehidupan bersama. Kasih menjadi semangat melayani tanpa membedakan latar belakang. Harapan menjadi kekuatan untuk terus membangun daerah menuju kehidupan yang lebih baik.

Gagasan besar Festival Etnik Religi Tolikara juga mengingatkan bahwa kemajuan akan memiliki arti apabila dibangun di atas budaya yang lestari, iman yang kokoh, dan semangat kebersamaan. Infrastruktur memang penting, tetapi karakter manusia jauh lebih penting. Jalan dapat menghubungkan kampung dengan kampung, tetapi budaya dan imanlah yang menghubungkan hati manusia.

Nilai Utama Festival

Festival Etnik Religi Tolikara juga memiliki enam nilai utama yang patut terus dikembangkan. Pertama, nilai dan makna, yaitu menjadikan budaya, iman, dan persaudaraan sebagai jati diri masyarakat Papua Pegunungan.

Kedua, budaya sebagai identitas, dengan terus menggali dan melestarikan adat, bahasa, seni, musik, tarian, dan tradisi sebagai kekuatan pemersatu masyarakat. Ketiga, iman sebagai dasar, yaitu menghidupi nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari sebagai terang kehidupan, penguat karakter, dan sumber harapan.

Keempat, persaudaraan sebagai kekuatan, dengan menjadikan festival sebagai ruang bertemu, berdialog, dan membangun kebersamaan tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang.

Kelima, pemberdayaan dan ekonomi, yaitu mengembangkan pariwisata budaya, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan masyarakat sehingga budaya juga mampu meningkatkan kesejahteraan. Keenam, visi Tolikara yaitu menjadikan Tolikara sebagai pusat pengembangan kerohanian dan kebudayaan di Papua Pegunungan.

Nilai-nilai tersebut sesungguhnya mengarah pada satu cita-cita besar, yaitu terwujudnya Tolikara yang religius, berbudaya, mandiri, adil, dan sejahtera. Visi ini tidak akan tercapai hanya dengan pembangunan fisik. Dibutuhkan pembangunan karakter, pembangunan budaya, dan pembangunan kehidupan rohani yang berjalan secara seimbang.

Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Mereka harus menjadi generasi yang bangga terhadap budayanya, memiliki iman yang kuat, menghargai persaudaraan, sekaligus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan dan budaya tidak perlu dipertentangkan. Justru keduanya dapat berjalan berdampingan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Pada akhirnya, Festival Etnik Religi Tolikara bukan hanya milik masyarakat Tolikara.

Lebih dari itu, festival ini menjadi inspirasi bahwa pembangunan yang berhasil selalu dimulai dari manusia yang mengenal jati dirinya, hidup dalam iman, dan menjaga persaudaraan.

Ketika budaya tetap lestari, iman tetap hidup, dan kebersamaan terus dirawat, maka Tolikara akan tumbuh menjadi daerah yang maju, religius, berbudaya, bermartabat, serta menjadi berkat bagi Papua dan Indonesia.

Semoga semangat iman, budaya, dan persaudaraan terus hidup dalam setiap langkah pembangunan, sehingga Tolikara benar-benar menjadi rumah bersama yang menghadirkan damai, harapan, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi yang akan datang.