JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Universitas Internasional Papua (UIP) dan lima Kampung mitra di Vanimo West Coast, Provinsi Sandaun, Papua Nugini, Kamis (16/7) menandatangani perjanjian kerja sama antara UIP dan lima kampung mitra di Vanimo West Coast, Provinsi Sandaun, Papua Nugini.
Penandatanganan kerja sama yang berlangsung di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua terkait bidang pendidikan khususnya bahasa Indonesia, Matematika, dan komputer bagi kurang lebih 100 calon mahasiswa UIP dari Kampung Wutung, Musu, Yako, Waromo, dan Vanimo (Lido), Sandaun.
Rektor Universitas Internasional Papua Dr Izak Morin, MA menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran para pihak dalam kegiatan penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut.
“Penadatangan kerja sama ini sangat baik. Kegiatan ini juga bukan yang pertama kali tetapi sudah pernah dilakukan Universitas Internasional Papua. Kami merencanakan ada kegiatan kuliah kerja nyata, KKN lagi untuk mahasiswa internasional Papua pada September untuk lima kampung di Papua Nugini,” ujar Izak di Jayapura, Papua, Jumat (17/7).
Menurutnya, ada 35 orang dari mahasiswa Papua Nugini yang akan melaksnakan pendidikan di Universitas Internasional Papua. Dalam kegiatan belajar tersebut mereka (mahasiswa asal Papua Nugini) dapat belajar dan komunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan dapat mengambil Program Studi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Komputer.
“Hubungan Indonesia dan Papua Nugini terjalin erat dengan adanya komunikasi yang baik antara Pemerintah Papua Nugini melalui konsulatnya dan Pemerintah Indonesia melalui konsulatnya di Papua Nugini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar Indonesia untuk Papua Nugini yang sudah membantu kami,” kata Izak.
Pihak Universitas Internasional Papua juga menyambut baik mahasiswa asal Papua Nugini yang akan mengikuti studi di kampus bertaraf internasional itu di tanah Papua.
“Para dosen akan mentansfer pengetahuan dan bahasa kepada para mahasiswa dari negara tetangga itu. Setiap pembiayaan yang dibebankan kepada para mahasiswa tidak akan membedakan dengan mahasiswa yang berada di Indonesia,” ujar Izak lebih lanjut.
Kepala Kampung Wutung Rafael Tungla dalam kesempatan itu mengharapkan agar perjanjian kerja sama tersebut bukan berhenti di atas kertas tetapi menyata untuk memajukan mahasiswa Papua Nugini dan Indonesia.
“Keterpisahan dua negara ini tidak menjadi hambatan bagi mahasiswa Papua Nugini yang akan mengikuti pendidikan di Universitas Internasional Papua. Melalui kerja sama ini terbuka ruang bagi mereka untuk bertumbuh dan berkembang sehingga kelak ikut membantu pemerintah membangun di wilayahnya masing-masing,” kata Rafael.
Menurut Rafael, selama menempuh pendidikan empat tahun di Universitas Internasional Papua diharapkan mahasiswa membawa perubahan, semangat dan harapan untuk daerah asalnya.
“Di masa depan generasi muda memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih baik lewat hubungan kerjsama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Papua Nugini,” ujar Rafael.
Deputi Administrator Provinsi West Sepik Rolan Taime dalam sambutannya mengatakan, kerja sama dan hubungan baik antara Indonesia dan Papua Nugini untuk memberikan manfaat baik di bidang pendidikan kepada masing-masing negara.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada pendiri Universitas Internasional Papua Bapak Samuel Tabuni dan Rektor Universitas Internasional Papua Bapak Izak Morin beserta seluruh civitas akademika atas terwujudnya penadatanganan kerja sama antara Universitas Internasional Papua dan lima kampung mitra di Vanimo West Coast,” kata Rolan Taime.
Rolan juga meminta para mahasiswa asal Papua Nugini agar belajar dengan sungguh-sungguh selama kuliah di Universitas Internasional Papua sehingga dapat mengembangkan diri, kemampuan dan karkter untuk membangun daerahnya masing-masing
“Terima kasih kepada Pemerintah Indoneaia yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa Papua Nugini untuk mengikuti pendidikan di Universitas Internasional Papua,” kata Rolan lebih lanjut.
Staf Konsulat Republik Indonesia di Vanimo Paulus Langitan menambahkan, penandatanganan kerja sama kedua pihak di bidang pendidikan merupakan langkah positif dalam rangka pengembangan sumber daya manusia di tapal batas kedua negara.
“Penandatanganan perjanjian kerja sama ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antarwarga lintas negara sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan Masyarakat,” kata Langitan.
Langitan juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Internasional Papua atas komitmennya dalam memberikan akses pendidikan kepada generasi muda dari lima kampung mitra di Vanimo West Coast.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para kepala kampung dan seluruh masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepada Universitas Internasional Papua.
“Saya berharap Program Bridging Internasional ini tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik peserta dalam Bahasa Indonesia, Matematika, dan Komputer. Namun, juga membentuk karakter, kedisiplinan serta semangat belajar yang tinggi. Dengan demikian, nantinya para peserta dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan bagi kampung masing-masing,” ujar Langitan.
Langitan juga mengajak semua pihak menjadikan kerja sama tersebut sebagai awal dari kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pengembangan masyarakat, dan pertukaran budaya demi kemajuan bersama.
Atase Pendidikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Papua Nugini Arief mengatakan, atas nama Atase Pendidikan KBRI di Port Moresby pihaknya menyampaikan selamat atas terlaksananya penandatanganan perjanjian kerja sama antara Universitas Internasional Papua dengan lima kampung mitra di Vanimo West Coast.
Menurut Arief, kegiatan penandatanganan tersebut merupakan wujud nyata komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
“Kami memandang Universitas Internasional Papua memiliki peran strategis sebagai institusi pendidikan yang berada di kawasan perbatasan dan mampu menjadi jembatan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia maupun Papua Nugini,” kata Arief.
Program Bridging Internasional yang resmi dibuka diakuinya merupakan langkah awal yang sangat baik dalam mempersiapkan calon mahasiswa agar memiliki kemampuan dasar yang memadai di bidang Bahasa Indonesia, Matematika, dan Komputer.
“Saya berharap para peserta dapat belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga semangat, serta memanfaatkan kesempatan ini untuk meraih cita-cita. Kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi, saya menyampaikan apresiasi dan harapan agar kemitraan ini terus berkembang sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat di kawasan perbatasan,” katanya.
Sedangkan Samuel Tabuni mengatakan, sebagai pendiri, founder Universitas Internasional Papua ia merasa bersyukur dan bangga dapat menyaksikan dimulainya kerja sama strategis itu. Universitas Internasional Papua, lanjut Samuel, hadir dengan visi menjadi pusat pendidikan yang mampu menghubungkan masyarakat di kawasan Pasifik melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan persahabatan.
“Kami meyakini bahwa kawasan perbatasan memiliki potensi besar untuk berkembang apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul. Oleh sebab itu, kami menghadirkan Program Bridging Internasional sebagai bentuk komitmen untuk mempersiapkan calon mahasiswa dari lima kampung di Vanimo West Coast, Sandaun,” kata Samuel.
Samuel, tokoh muda tanah Papua Papua kelahiran Nduga juga berharap agar para peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh. Ia juga berdoa dan berharap agar para mahasiswa menjadi generasi yang memiliki integritas, semangat belajar serta mampu menjadi agen perubahan bagi keluarga, kampung, dan negara.
“Mari kita jadikan kerja sama ini sebagai awal dari kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Papua Nugini,” ujar Samuel Tabuni, master jebolan The Hebrew University of Jerusalem, Israel. (*)










