Kodam Cenderawasih Kecam Pembakaran SD Yapis Waghete I yang Diduga Dilakukan Simpatisan OPM

Kondisi Gedung Sekolah Dasar (SD) Yapis Waghete I, Kampung Waghete I, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah yang dibakar Kamis (4/6) dini hari. Pelaku diduga kuat merupakan simpatisan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Foto: Istimewa

WAGHETE, ODIYAIWUU.com — Pihak Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih mengecam keras aksi pembakaran bangunan Sekolah Dasar (SD) Yapis Waghete I, Kampung Waghete I, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.

Aksi yang terjadi pada Kamis (4/6) dini hari diduga kuat dilakukan oleh simpatisan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Aksi tersebut dipastikan akan mengganggu jalannya proses belajar mengajar ratusan anak yang selama ini menggantungkan harapan dan masa depan mereka di sekolah tersebut. Kerugian materi ditaksir mencapai Rp 2 miliar.

Kepala Penerangan Kodam Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto, SIP membenarkan insiden tersebut dan mengecam keras aksi yang menyasar fasilitas pendidikan itu.

Menurut Tri, sekolah merupakan sarana penting untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa, termasuk anak-anak Papua yang tengah berjuang meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

“Aksi keji ini tidak dapat dibenarkan. Kami akan mengusut tuntas pelaku yang sengaja membakar sekolah tersebut,” ujar Tri melalui keterangan tertulis kepada awak media di Jayapura, Papua, Senin (8/6).

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kata Tri, aparat menemukan indikasi bahwa pelaku masuk melalui bagian belakang sekolah setelah memotong pagar seng yang mengelilingi area bangunan. Diduga sekitar lima orang terlibat dalam aksi tersebut.

Pihak keamanan saat ini masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap pelaku dan motif di balik pembakaran tersebut. Aparat juga mendalami dugaan keterlibatan kelompok yang selama ini menolak terciptanya situasi aman dan kondusif di Papua.

Akibat kejadian itu, dua unit bangunan sekolah dilaporkan hangus terbakar. Selain itu, sembilan ruang kelas beserta berbagai perlengkapan pendidikan juga ludes dilalap api.

Di balik angka kerugian miliaran rupiah, terdapat dampak yang jauh lebih besar. Buku pelajaran, meja belajar, papan tulis hingga ruang tempat anak-anak menuntut ilmu kini berubah menjadi puing-puing dan abu. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan proses pendidikan para siswa di wilayah tersebut.

Peristiwa ini memantik keprihatinan berbagai pihak. Pendidikan selama ini menjadi salah satu kunci utama dalam membangun masa depan Papua yang lebih maju, damai, dan sejahtera. Karena itu, tindakan yang merusak fasilitas pendidikan dinilai sebagai bentuk ancaman terhadap masa depan generasi muda.

Aparat keamanan bersama pemerintah daerah kini terus berkoordinasi untuk memastikan proses belajar mengajar dapat kembali berjalan serta memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Tri menegaskan, pihaknya akan terus mendukung upaya perlindungan terhadap fasilitas pendidikan dan memastikan para pelaku bertanggung jawab atas perbuatannya sesuai hukum yang berlaku.

Di tengah duka akibat kebakaran tersebut, harapan masyarakat Deiyai tetap sama: melihat anak-anak Papua kembali belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan penuh semangat untuk menggapai cita-cita mereka.

Sebab ketika sebuah sekolah terbakar, yang terancam bukan hanya bangunannya, melainkan juga mimpi-mimpi generasi masa depan yang tumbuh di dalamnya. (*)