JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale tidak hanya heboh dan menjaji topik menarik dalam berita yang ditayangkan televisi di Indonesia.
Film dokumenter yang mengambil lokasi shooting di Papua juga mendapat porsi pemberitaan televisi di Timur Tengah. Televisi Al Jazeera, Sabtu (23/5) pukul 08.00 waktu Timur Tengah juga menayamhkan film Pesta Babi.
“Saya sempat menonton berita Film Pesta Babi yang disiarkan Al Jazeera Sabtu pagi sekitar pukul 08:00 waktu Timur Tengah. Al Jazeera merupakan stasiun televisi berbahasa Arab dan Inggris yang berbasis di Doha, Qatar. Ini salah satu stasiun televisi favorit pemirsa di benua Afrika,” ujar Wahang Lamawolo, pelaut asal Indonesia yang sedang bekerja di Perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, Sabtu (23/5).
Menurut Wahang, pelaut asal Nusa Tenggara Timur, berita televisi Al Jazeera terkait Film Pesta Babi itu tentu menjadi pertimbangan redaksi memberitakan mengingat film dokummenter tersebut menjadi perhatian tidak hanya masyarakat Indonesia khususnya di tanah Papua tetapi juga masyarakat internasional.
“Saya pikir Film Pesta Babi mungkin penting dipertimbangkan redaksi Al Jazeera untuk diberitakan di televisi ini. Masyarakat dunia juga tengah diliputi demam film ini. Lokasi shooting-nya di Papua sangat menyentuh karena terkait dengan nasib tanah masyarakat adat dan hutan yang mengenaskan akibat kehadiran korporasi besar di wilayah itu,” katanya.
Pasca dirilis Film Pesta Babi tidak hanya ditayangkan melalui rangkaian acara nonton bareng (nobar) dan diskusi di berbagai tempat di Indonesia, tetapi juga di luar negeri seperti Australia, Eropa, Amerika hingga Selandia Baru.
Direktur Eksekutif Diplomacy Training Program Patrick Earle menggelar nobar Film Pesta Babi di New South Wales, Australia, Jumat (13/3). Patrick mengatakan, Diplomacy Training Program, program pelatihan bagi kawasan Asia Pasifik yang terafiliasi dengan fakultas Hukum University of New South Wales, memandang bahwa pemutaran film ini relevan dengan misinya terkait hak masyarakat adat.
“Ada hal-hal yang baru dipelajarinya dalam film ini seperti hubungan antara konsumsi gula di Australia dengan pembukaan lahan di Papua untuk perkebunan tebu,” kata Patrick.
Dian Anggreini, mahasiswa asal Indonesia di University of New South Wales saat hadir dalam pemutaran Film Pesta Babi di Sydney, mengaku terharu melihat ketulusan masyarakat adat Papua dalam mencintai alam.
Film Pesta Babi melukiskan perjuangan masyarakat adat di Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka. Pesta Babi menyorot kekhawatiran dan keresahan tentang proyek pembukaan lahan di Papua Barat untuk berbagai kepentingan agribisnis, termasuk penanaman tebu yang sebagian hasil panennya akan digunakan untuk bahan bakar bio ethanol.
Film dokumenter tersebut menampilkan suara-suara dari masyarakat adat Papua yang merasa bahwa mereka tidak ingin proyek tersebut berlangsung di tanah adat mereka, dan bahwa mereka lebih ingin hidup dengan alam yang lestari, dengan sungai yang jernih dan bahan pangan tradisional mereka.
Cypri mengaku, saat ini banyak pihak berusaha mencegah agar film tersebut tidak ditonton masyarakat. Banyak pula yang tidak suka agar apa yang sedang terjadi di Papua diketahui oleh dunia luar, masyarakat luas.
“Barangkali sumber keberatan atas film ini karena di dalamnya kami memakai istilah kolonialisme pada judul dan seluruh kerangka analisis yang dirajut dalam keseluruhan cerita di dalam film,” ujar Cypri di Jakarta, Kamis (14/5).
Menurut Cypri, terkait hal tersebut ia menyampaikan dua hal. Pertama, Pesta Babi merupakan sebuah film yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi. Selain tentu saja investigasi jurnalistik dan analisis kebijakan.
“Istilah kolonialisme dipakai karena ada kebutuhan suatu kerangka analisis untuk memahami situasi Papua secara mendalam dan menyeluruh,” kata Cypri, peneliti Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Kyoto University, Jepang.
Selama ini banyak istilah dipakai seperti konflik, pelanggaran HAM dan kurangnya pembangunan, deforestasi atau militerisme. Namun, kata Cypri, semua itu tidak memadai untuk merangkum secara utuh dan sistematis tentang apa yang terjadi di Papua.
“Kolonialisme sebagai sebuah kerangka berpikir atau kerangka analisis berhasil merangkum semua masalah itu dan menjelaskan bahwa semuanya terkait satu sama lain dalam sesuatu yang bersifat sistemik, yang sudah berlangsung lama dan tidak bisa ada solusinya kalau hanya diselesaikan dengan menyelesaikan salah satu dari aneka persoalan itu,” ujar Cypri.
Namun, ujar Cypri, yang lebih penting adalah kolonialisme atau penjajahan adalah kerangka berpikir, kerangka analisis yang sudah lama dipakai oleh orang Papua sendiri dalam merumuskan pengalaman interaksi mereka dengan Indonesia dan bangsa-bangsa lain.
Kedua, Film Pesta Babi mungkin mengganggu kita semua, tidak saja pemerintah dan aparat militer tetapi mungkin juga mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, kritis, dan bersolidaritas terhadap orang Papua.
Mengapa demikian, ujar Cypri, karena film ini membuat kita semua harus menjawab pertanyaan: apakah Indonesia melakukan penjajahan di Papua? Pertanyaan itu sederhana namun sulit dijawab.
“Kami merasa sudah saatnya pertanyaan ini didiskusikan secara jujur dan terbuka dan di ujungnya Konstitusi, UUD 1945 sudah menunggu. Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan,” ujar Cypri. (*)










