OPINI  

Magnifica Humanitas

Pastor Dr Felix Baghi, SVD, Dosen Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores. Foto: Istimewa

Oleh Dr Felix Baghi, SVD

Dosen Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores

HARI-hari ini Gereja Katholik seperti sedang menahan napas sejarah. Di Aula Sinode Vatikan, kursi-kursi telah ditata rapi. Mikrofon diuji. Kamera-kamera dunia bersiap menyala.

Di atas meja kayu tua, sebuah naskah bersampul krem terbaring sunyi, namun berat seperti nubuat. Di sampulnya tercetak lambang Paus Leo XIV. Judulnya, Magnifica Humanitas. Tanggal penandatanganan: 15 Mei 2026. Tanggal promulgasi: 25 Mei 2026.

Seratus tiga puluh lima tahun sebelumnya, pada tanggal yang sama, Paus Leo XIII menandatangani Rerum Novarum, ensiklik yang mengguncang dunia industri dan membela martabat buruh di tengah kerakusan kapitalisme awal.

Kini sejarah datang lagi. Tetapi musuhnya berubah wajah. Dulu manusia diperbudak oleh mesin uap. Hari ini manusia perlahan dilenyapkan oleh mesin berpikir. Dan pertanyaan yang sama kembali terdengar: siapakah manusia?

Manusia Melampaui Diri

Ini luka besar dalam batin manusia. Sejak awal, manusia adalah makhluk yang tidak pernah selesai dengan dirinya. Ia menyalakan api di dalam gua, lalu membangun kota. Ia menempa besi lalu membuat kapal dan membelah samudra. Ia menemukan teleskop, lalu mengincar bintang. Ia menciptakan komputer, lalu mencoba menciptakan pikiran.

Manusia berusaha melampaui dirinya. Tradisi filsafat menyebut gerak itu: self-transcendence. Manusia bukan makhluk yang tinggal diam dalam batasnya. Ia menunjuk ke luar dirinya, kepada sesuatu yang lebih besar, lebih tinggi, lebih abadi.

Tetapi justru di sinilah tragedinya. Akal budi mampu merasakan arah itu, namun tidak mampu menyebut namanya. Filsafat bisa berkata: “ada yang absolut.” Namun filsafat sering berhenti pada horizon tanpa wajah.

Manusia modern hidup di bawah horizon yang dingin itu. Ia terhubung dengan seluruh dunia, tetapi kehilangan dirinya sendiri. Ia bisa berbicara dengan ribuan orang, tetapi tidak tahu lagi kepada siapa harus menangis. Ia menghasilkan data tanpa henti, tetapi perlahan kehilangan jiwa.

Teknologi berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan. Kecerdasan bertambah, tetapi makna menipis, dan karena itu dunia modern diam-diam menjadi padang gurun yang bercahaya.

Redemptor Hominis

Pada tahun 1979, Paus Yohanes Paulus II membuka pontifikatnya melalui suatu seruan yang mengejutkan dunia: bukan tentang struktur Gereja, bukan tentang strategi politik, melainkan tentang manusia.

Ensiklik Redemtoris Hominis lahir dari keyakinan ini: manusia hanya dimengerti di dalam Yesus Kristus.  Konsili Vatikan II berkata: “hanya dalam misteri Sabda yang menjadi daging, misteri manusia menemukan terang sejatinya.”

Yohanes Paulus II menggemakannya dengan daya profetis: “Cristo rivela pienamente l’uomo all’uomo stesso” – “Kristus menyingkapkan manusia kepada dirinya sendiri.”

Tiba-tiba horizon itu memiliki kekuatan baru. Bukan ide. Bukan sistem. Bukan algoritma. Melainkan seorang manusia yang lapar, yang menangis, yang disentuh paku, yang mati telanjang di kayu salib.

Di dalam Yesus Kristus, manusia melihat sesuatu yang tak pernah berani ia impikan: bahwa tujuan akhir manusia bukan kehampaan, melainkan persekutuan; bukan kesendirian kosmis, melainkan kasih.

Karena itu Gereja sadar: tugasnya di dunia bukan menjaga tembok institusi. Tugasnya adalah menjaga manusia. Maka lahirlah semboyan tak tertulis abad ke-20: “defensor hominis” – “pembela manusia.”

Gereja berdiri di depan totalitarianisme abad modern: melawan Nazisme yang membunuh demi ras, melawan Stalinisme yang membunuh demi kelas, melawan kapitalisme brutal yang membunuh demi laba.

Melawan oligarki yang membunuh demi kekuasaan dan modal. Sebab setiap kali manusia direduksi menjadi alat, angka, atau komoditas, gambar Allah diinjak-injak.

2026: Ideologi Menjadi Algoritma

Tetapi sejarah tidak pernah berhenti berganti topeng. Hari-hari ini kita menyaksikan bahwa ideologi tidak lagi berteriak di alun-alun. Ia berbisik melalui layar. Ia tidak lagi datang membawa tank.

Ia datang membawa notifikasi. Ia tidak lagi membakar buku. Ia menciptakan “deepfake” sampai manusia tak lagi tahu mana kenyataan. Kini manusia tidak ditindas dengan rantai besi, melainkan dengan prediksi data, dan justru dalam situasi seperti ini, Paus Leo XIV tampil dengan sebuah ensiklik baru: Magnifica Humanitas.

Mengapa “Magnifica?” Karena ini adalah gema baru dari Magnificat Maria. Nyanyian seorang perempuan kecil yang percaya bahwa Allah berpihak kepada manusia yang diinjak dunia: “Ia mencampakkan yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan yang rendah.”

Situasi sekarang, “yang berkuasa” bukan hanya negara atau korporasi. Yang berkuasa adalah sistem yang mengubah manusia menjadi data, dan yang “rendah” itu nyata.

Buruh yang diganti artificial intelligence (AI), anak kecil yang wajahnya dicuri untuk pornografi digital, manusia yang dipantau algoritma setiap detik, tentara yang dibunuh drone tanpa hati nurani, generasi muda yang kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dari simulasi.

Tiga Seruan Pembelaan

Vatikan memberi info bahwa Magnifica Humanitas memiliki tiga seruan besar. Pertama, tentang kerja. Jika kerja adalah partisipasi manusia dalam karya penciptaan, maka pekerjaan tidak boleh direduksi menjadi statistik efisiensi.

Ketika AI menggantikan manusia tanpa memberi makna baru, dunia sedang menciptakan peradaban yang efisien tetapi kosong. Maka hak atas kerja manusiawi, hak untuk beristirahat, hak untuk tidak diperbudak algoritma, bukan sekadar isu ekonomi. Ini adalah isu teologis. Sebab manusia bukan mesin biologis.

Kedua, tentang peran. Senjata otonom menciptakan dunia tanpa wajah. Tidak ada lagi tentara yang berkata: “Aku yang memutuskan.” Keputusan membunuh dipindahkan ke sistem. Dan ketika tanggung jawab hilang, dosa menjadi kabur.

Ketika dosa kabur, pertobatan menghilang. Ketika pertobatan hilang, penebusan kehilangan makna. Mesin pembunuh tanpa hati nurani adalah anti-inkarnasi. Sebab inkarnasi berarti Allah mengambil wajah manusia, bukan menggantikannya dengan kode.

Ketiga, tentang kebenaran. Gereja lahir pada hari Pentakosta: ketika manusia yang berbeda bahasa akhirnya saling memahami. Tetapi dunia digital sedang menciptakan Babel baru. “Deepfake” dapat membuat Paus tampak menyerukan perang.

Large language model (LLM) dapat mengarang ayat Kitab Suci. Kebohongan dapat diproduksi lebih cepat daripada doa, dan ketika manusia kehilangan kebenaran bersama, maka persekutuan (communio) runtuh. Tanpa communio, Ekaristi menjadi ritual kosong.

Kita perlu menyadari bersama bahwa Gereja yang lahir dari inkarnasi tidak pernah takut memasuki sejarah. Gereja tidak datang untuk mengutuk laboratorium. Gereja datang untuk mengingatkan: bahkan pencipta AI pun suatu hari akan berhadapan dengan Wajah Kudus yang pernah ditampar di Yerusalem.

Sebab, ”Putra Allah telah mempersatukan diri-Nya dengan setiap manusia.” Termasuk: buruh yang kehilangan pekerjaan, remaja yang bunuh diri karena penghinaan digital, manusia anonim yang direduksi menjadi metadata.

Masyarakat adat yang dirampas ruang hidup mereka. “Defensor hominis” abad ke-21 tidak cukup dengan berkhotbah dari altar. Ia harus duduk semeja dengan para insinyur dan berkata: ciptakan apa pun yang kau mampu, tetapi jangan pernah lupa bahwa manusia memiliki hati yang tidak dapat diprogram.”

Dari Dogma Menuju Madah

Sejarah besar menjadi utuh jika “redemtor hominis” menjadi fondasi, yaitu Kristus sebagai jawaban atas manusia. “Defensor hominis” adalah sikap, yaitu gereja yang selalu berdiri membela martabat manusia di tengah ideologi.

Dan “Magnifica Humanitas” adalah adab baru bahwa manusia bukan produk sampingan dari evolusi digital, melainkan makhluk yang dipanggil kepada kemuliaan.

Pada akhirnya, jawaban iman atas pertanyaan: siapa itu manusia? Ini bukan lagi definisi filsafat. Jawaban itu adalah seorang Pribadi. Seorang tukang kayu dari Nazaret. Seorang yang terhukum dari Golgota. Seorang yang bangkit dengan luka yang tetap terbuka.

Dan selama masih ada satu manusia diperlakukan sebagai angka, selama masih ada satu wajah dihapus oleh algoritma, selama masih ada satu hati direduksi menjadi data, selama masih sekelompok warga yang dirampas ruang hidup mereka, Gereja tidak akan diam. Sebab membela manusia berarti menyentuh Kristus sendiri.

Dan mungkin, pada 25 Mei 2026 nanti, dunia akan mendengar sekali lagi nyanyian tua itu. Ini bukan nostalgia, tetapi perlawanan: “Grandi cose ha fatto in me l’Onnipotente.” Yang Mahakuasa telah melakukan perkara-perkara besar. Bukan pada mesin. Bukan pada algoritma. Tetapi pada manusia, sebab manusia itu luhur.