DAERAH  

Pimpinan Gereja Katolik Kutuk Aparat TNI-Polri yang Menembak Mati Anak-Anak Sekolah di Papua

Pimpinan Gereja Katolik Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika Pastor Yanuarius Yance Yogi, Pr. Foto: Istimewa

SUGAPA, ODIYAIWUU.com — Pimpinan Gereja Katolik Moni-Puncak Jaya Pastor Yanuarius Yance Yogi, Pr menegaskan, pihaknya mengutuk keras tindakan aparat keamanan yang bertugas di Papua Tengah, baik TNI maupun Polri, yang belakangan menembak membabi buta hingga menewaskan para siswa dan siswi anak asli Papua dengan berbagai alasan.

“Selaku pimpinan Gereja Katolik Dekan Dekanat Moni-Puncak Jaya, yang meliputi Kabupaten Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya, saya mengutuk keras tindakan aparat TNI maupun Polri di Papua Tengah, yang belakangan menembak membabi buta terhadap anak-anak sekolah putra-putri asli Papua,” ujar Pastor Yance Yogi Pr, Dekan Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika di Sugapa, kota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, Senin (11/5).

Pastor Yance Yogi, imam Katolik putra asli Papua, mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo mempertimbangkan serius pola pendekatan penanganan situasi keamanan dan ketertiban di Papua Tengah sehingga tidak mengorbankan warga sipil, termasuk anak-anak asli Papua yang sedang menimba ilmu di bangku sekolah.

“Anak-anak sekolah ini calon generasi emas yang akan menjadi pemimpin di atas tanah Papua masa akan datang. Sebagai imam Katolik hati saya sungguh miris melihat anak-anak sekolah mati sia-sia akibat peluru aparat yang dibeli dari uang rakyat. Presiden, Panglima TNI, dan Kapolri tentu bisa membayangkan bagaimana perasaan dan hati orangtua dari anak yang meninggal,” kata Pastor Yance Yogi.

Menurut Pastor Yance, Nalince Wamang, siswi SMK Petra Timika yang baru lulus meninggal akibat peluru aparat menembus tubuhnya saat korban sedang membantu orangtuanya mendulang emas di area pendulangan emas untuk melanjutkan kuliah di Mile 69-71, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Kamis (7/5).

Dari pengakuan pihak keluarga kepada seorang anggota MRP Papua Tengah, kata Pastor Yance, korban meninggal diketahui ditembak aparat TNI di antara Mile 69-71, Kamis, 7 Mei 2026 pukul 21.00 WIT. Saat insiden mengenaskan itu, keluarga korban mengaku tidak ada OPM atau KKB tetapi penembakan murni dilakukan aparat TNI secara tiba-tiba yang diarahkan kamp-kamp pendulangan emas.

Pastor Yance menambahkan, setelah insiden yang menimpa Nalince Wamang, aksi penembakan aparat juga terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Nopison Tebai, SMA Negeri 2 Dogiyai juga meninggal setelah tubuhnya diterjang aparat keamanan karena korban dituding anggota KKB atau OPM pada Minggu (10/5) sekitar pukul 07.20 WIT.

“Aparat keamanan ditugaskan negara di Papua Tengah bukan hadir untuk membunuh masyarakat tak berdosa. Bahkan membunuh anak-anak asli Papua di bangku sekolah yang sedang menyiapkan diri menata masa depannya lewat jalur pendidikan formal,” ujar Pastor Yance Yogi.

Pastor Yance, imam Keuskupan Jayapura lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Jayapura, juga meminta Presiden Prabowo untuk mengingatkan Panglima TNI dan Kapolri memperhatikan serius pola pendekatan keamanan saat ini sehingga tidak membuat anak-anak sekolah meninggal sia-sia.

“Kondisi masyarakat akan semakin memprihatinkan dan ekonomi keluarga sangat terganggu bila pola pendekatan keamanan dilakukan dengan cara-cara seperti membunuh warga sipil atau siswa-siswi tak berdosa. Kalau kondisi ini terus terjadi, kami gereja akan tetap bersuara lantang sebagau bentuk tanggung jawab profetis atas umat dan manusia yang martabatnya diinjak-injak bahkan sampai menghilangnya nyawanya,” ujar Pastor Yance Yogi. (*)