Sejumlah Pembicara Bedah Buku Tokoh Bangsa Papua Thom Beanal untuk Situasi Papua Saat Ini

Para pembicara saat diskusi dan bedah buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta, Rabu (6/5). Tampak (dari kiri) moderator sekaligus editor buku Basilius Triharyanto; Dr Budi Hernawan; Suraya Abdulwahab Afiff, MA, Ph.D; Yorrys Raweyai; Emanuel Gobay, SH, MH; Markus Haluk; dan Inayah Wulandari Wahid. Foto: Ansel Deri/Odiyaiwuu.com

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Sejumlah pembicara dari beragam latar belakang keilmuan dan aktivitas sosial-kemasyarakatan, Rabu (6/5) tampil sebagai pembicara dalam diskusi dan bedah buku berjudul Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua di Lantai 8 Gedung Tempo, Palmerah Barat, Jakarta Selatan.

Para pembicara yang tampil membedah buku tersebut yaitu tokoh masyarakat Papua dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia yang juga senator asal Papua Tengah Yorrys Raweyai serta pengajar Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta Dr Budi Hernawan.

Selain itu, antropolog lingkungan Universitas Indonesia (UI) Suraya Abdulwahab Afiff, MA, Ph.D dan aktivis muda tanah Papua yang juga pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Emanuel Gobay, SH, MH.

Kemudian, intelektual muda Papua sekaligus penulis buku Markus Haluk; dan Inayah Wulandari Wahid, aktivis sosial kemasyarakatan yang juga putri bungsu Presiden keempat Republik Indonesia KH Dr Abdurrahman Wahid (Gur Dur). Diskusi dipandu moderator dan editor buku Basilius Triharyanto.

Buku tersebut berisi tiga jilid dengan sub judul yaitu seri pertama, Persembahan dan Apresiasi ditulis tokoh muda dan intelektual Papua Markus Haluk dengan editor buku Basilius Triharyanto.

Seri kedua berjudul Kesaksian Keluarga dan Pandangannya bagi Gereja dan Bangsa Papua berisi karya Thom Beanal, keluarga Thom seperti Bertha Kum, Florentinus Beanal, Odisimus Beanal, Janes Narkime, Nella Kilangin, dan lain-lain dengan Markus Haluk dan Basil Triharyanto selalu editor.

Kemudian, seri ketiga berjudul Kesaksian untuk Torey Negel Amungme-Papua berisi artikel sejumlah penulis seperti Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA dan Adérito de Jesus Soares, pejuang HAM yang kini bermukim di Dili, kota negara Republik Demokratik Timor Leste.

Diskusi dan bedah buku dihadiri ratusan tamu undangan, tokoh masyarakat, akademisi, pemuka agama, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, seniman, dan awak media.

Ketua Tim Kerja Penulisan Buku Thom Beanal Markus Haluk dalam sambutannya mengatakan, latar belakang acara tersebut yakni membedah dan mendiskusikan tiga serial buku ihwal sosok tokoh fenomenal Bangsa Papua Thom Beanal.

“Buku ini menyajikan ringkasan perjalanan hidup dan perjuangan Almarhum Thom Beanal, seorang putra bangsa Papua dari suku Amungme, Timika. Thom lahir pada 11 Juli 1947 kemudian menempuh pendidikan tingkat dasar hingga Akademi Teologi, lalu mengabdi sebagai guru katekis di Wamena dan Paniai serta menjadi pastor awam di berbagai paroki di Keuskupan Jayapura,” kata Markus.

Menurut Markus, saat menyaksikan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kerusakan ekologi yang disebabkan korporasi pertambangan dunia PT Freeport Indonesia (PTFI), Thom Beanal mengundurkan diri dari tugas pastoral untuk membela masyarakat adat.

“Tahun 1994, Thom mendirikan Lembaga Musyawarah Adat Amungme, Lemasa, kemudian menggugat Freeport di Pengadilan New Orleans, Amerika Serikat tahun 1996 lalu mendorong alokasi dana 1 persen bagi masyarakat terdampak perusahaan Freeport Indonesia,” kata Markus, intelektual muda Papua lulusan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura.

Selain itu, kata Markus, pada era reformasi, Thom bersama sejumlah tokoh Papua dan mahasiswa turut mendirikan Forum Rekonsiliasi Rakyat Irian Jaya (Foreri). Thom juga diangkat sebagai Wakil Ketua Presidium Dewan Papua tahun 2000 dan Ketua Dewan Adat Papua (DAP) tahun 2002–2007. Era pemerintahan Presiden Gus Dur, Thom diangkat sebagai Komisaris PT Freeport Indonesia periode 2000–2018.

Thom diakui Markus dikenal juga sebagai sosok pemimpin rendah hati, disiplin, dan penuh metafora dalam berpikir. Bedah buku dan diskusi tersebut, lanjut Markus, bertepatan dengan tiga momentum penting yang layak direnungkan bersama saat ini dan di masa akan datang.

Pertama, bedah buku dan diskusi bertepatan dengan 27 tahun saat Thom tampil menyampaikan hasrat lurus di hadapan Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dengan tegas menyatakan, ‘Kami ingin diakui sebagai bangsa yang merdeka, bekerja sama secara jujur, damai, dan demokratis.’

Pernyataan tersebut ditindaklanjuti dengan perjuangan jalan damai era Presiden Gus Dur melalui Musyawarah Besar (Mubes) dan Kongres Rakyat Papua. Kedua, bedah buku dan diskusi juga dalam kaitan memperingati tiga tahun Thom meninggal dunia.

Ketiga, acara bedah dan diskusi buku merupakan puncak dari proses dua tahun perjalanan tim penulis yang melahirkan buku Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku, dan Bapa Bangsa Papua dalam tiga seri.

Markus juga melukiskan, Thom bukan sekadar pemimpin. Ia juga figur yang menenangkan namun berpikir mendalam. Senyum Thom menghidupkan harapan, dan metafora-metaforanya tak menyajikan jawaban instan namun membuka ruang bagi akal untuk mencari kebenaran.

“Dalam timbangan sejarah, Thom hadir ketika rakyat Papua tidak berada dalam keadaan baik. Kini pun, Papua masih merintih dalam rupa ancaman genosida, etnosida, dan ekosida yang terus mengintai,” ujar Markus lebih lanjut.

Menurut Markus, rintihan masyarakat suku Amungme dan Kamoro berlangsung akibat kekayaan emas digadaikan hingga tahun 2061 secara tidak beradab. Penderitaan menjadi keseharian rakyat. Karena itu, buku ini lahir bukan untuk meratapi masa lalu, melainkan untuk membaca realitas dan merajut solusi ke depan.

Dalam kesempatan tersebut, Markus juga menyampaikan enam pokok harapan sekaligus rekomendasi untuk kerja bersama ke depan. Pertama, menjadikan buku ini sebagai sumber sejarah dan referensi bagi generasi muda Papua dan masyarakat luas, agar perjuangan tokoh bangsa tidak hilang ditelan zaman.

Kedua, menggunakan momentum ini tidak untuk mengeluh atau saling menyalahkan, melainkan untuk berbicara jujur tentang realitas hari ini serta merumuskan solusi yang komprehensif dan strategis.

Ketiga, meneruskan warisan suara kenabian, profetis sebagaimana diwariskan oleh para pemuka agama khususnya para Uskup di tanah Papua seperti Mgr Rudolf Joseph Manfred Staverman, OFM (1915–1990). Mgr Staverman adalah Vikaris Apostolik Hollandia (1956) dan Uskup pertama Keuskupan Djajapura (kini Jayapura) hingga 1972 dan pendiri STFT Fajar Timur.

Begitu pula Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinand Marie Munninghoff OFM yang mengabdi selama 51 tahun di tanah Papua sebelum kembali ke Belanda. Begitu pula Uskup Emeritus Keuskupan Jayapura Mgr Dr Leo Laba Ladjar, OFM; Uskup pertama Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil, Pr (Almarhum).

Selain itu, imam Keuskupan Jayapura sekaligus putra asli Papua Pastor Dr Neles Kebadaby Tebay, Pr; Uskup Jayapura Mgr Dr Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr; dan dan Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru OSA.

Berikut Presiden ke-3 RI Prof BJ Habibie, dan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang berjuang dengan jalan damai dan bermartabat menyelamatkan manusia, budaya, dan alam semesta Papua sebagai paru-paru dunia yang tersisa di kawasan Asia-Pasifik.

“Untuk itu, kita perlu bersolidaritas secara sungguh-sungguh dan bergandengan lintas agama, akademisi, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, politisi, dan masyarakat sipil di Indonesia serta berbagai wilayah,” ujar Markus.

Keempat, menolak segala bentuk penggadaian kekayaan alam Papua oleh Pemerintah Indonesia untuk kepentingan segelintir pihak kepada bangsa asing. Pihak penulis menyerukan kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Presiden Prabowo Subianto dan para menteri terkait untuk menghentikan praktik pencurian emas dan penghancuran alam semesta bangsa Papua.

Kelima, mengakui dan menghormati hak-hak bangsa Papua atas politik, tanah, sumber daya alam, dan martabat kemanusiaan, serta menghentikan ancaman genosida, etnosida, dan kekerasan struktural.

Keenam, membangun perundingan yang jujur, damai, dan demokratis antara Bangsa Papua dan Pemerintah Indonesia, sebagaimana cita-cita yang pernah disuarakan oleh Thom Beanal di Istana Negara pada 26 Februari 1999.

“Mari kita buka ruang diskusi guna melahirkan gagasan-gagasan strategis. Bukan untuk berduka, melainkan untuk melanjutkan perjuangan. Seperti hujan yang menyambut jenazah Thom saat tiba di Bandara Mozes Kilangin Timika, tanah Amungsa, bumi Kamoro, biarlah kata-kata kita menyirami tanah perjuangan yang masih haus,” ujar Markus. (*)