OPINI  

Konsientisasi Biosophia

Kasdin Sihotang, Dosen Etika di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (HIDESI). Foto: Istimewa

Oleh Kasdin Sihotang

Dosen Etika di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia (HIDESI)

KEHADIRAN teknologi digital begitu dahsyat, namun bukan tanpa dampak negatif. Salah satu dampak itu adalah melelahkan. Paul Leonardi dalam bukunya Digital Exhaustion: Simple Rules Reclaiming Your Life (2025) mencoba menggambarkan bagaimana kelelahan dan kepenatan manusia itu muncul sebagai akibat dari pemanfaatan teknologi digital.

Menurut Paul Leonardi, kegiatan manusia di era digital ini didominasi oleh empat tindakan, yakni sigh (melihat-lihat atau mengintip), scroll ( menggeser-geser), click (mengklik), dan repeat (mengulang-ulang atau meneruskan), penulis singkat dengan S2CR.

Menurut Paul Leonardi, S2CR  tersebut tanpa henti dilakukan secara bergantian dalam kehidupan sehari-hari. Dan begitu banyak waktu yang diluangkan untuk keempat kegiatan itu dalam sehari. Bahkan kadang orang lupa untuk hal-hal yang penting, karena disibukkan oleh S2CR tersebut.

Tiga Efek S2CR

Tersitanya waktu atas S2CR tersebut dalam penelusuran Paul bukan tanpa efek negatif. Selain sulit bagi seseorang untuk membedakan mana waktu yang penting dan mana waktu yang tidak penting, alias tidak bisa mengelola waktu (time management), ada tiga hal mendasar yang mengalami gangguan  dengan kesibukan pada keempat kegiatan tersebut.

 Pertama, perhatian yang semakin menurun. Paul Leonardi mengamati bahwa manusia digital alias homo digitalis meminjam istilah Rafael Capuro, sangat perhatian dengan siapa saja yang ada di media sosial tanpa kenal dekat, yang penting berinteraksi dengan mereka.

Namun seiring dengan itu, sikap sebaliknya diperlihatkan terhadap orang-orang dekat dan di sekitarnya. Manusia digital mendekatkan diri dengan mereka yang jauh dan menjauhkan diri dari orang-orang yang dekat.

Tidak saja dualitas sikap kontradiktif itu hidup, tetapi juga perhatian manusia digital semakin terpecah-pecah. “The most people find themselves in today is now well documented. We loose focus and become easily distracted” demikian papar Leonardi.

Yang mau dikatakan Leonardi adalah betapa manusia dewasa ini lebih mengejar popularitas, tanpa peduli dampaknya terpecah dan kehilangan fokus. Bahkan tidak jarang, orang lupa waktu untuk peduli pada dirinya dan orang-orang dekatnya demi konten.

 Kedua, penurunan nalar. Menurut Paul Leonardi, tidak hanya kualitas perhatian telah bergeser dan terpecah, penalaran juga kena imbasnya. Manusia yang terlalu sibuk dengan pemanfaatan digital dengan empat kegiatan itu mengalami penurunan penalaran.

Bahkan menganggap penalaran tidak lagi sebagai sesuatu yang penting. Demi konten, nalar sehat disingkirkan. Penyingkiran nalar itu terjadi dalam dua hal, yakni aksi dan diksi atau pilihan kata yang tidak wajar dan tidak pantas di ruang publik.

Menyedihkan menurut Paul Leonardi bahwa hal itu tidak mendapat kontrol dari sebagian besar penyedia “platform“. Persuasi “platform” justru mengkondisikan pengguna untuk lebih mengutamakan kuantitas konten daripada kualitasnya.

Yang penting, lain dari yang lain untuk menarik perhatian banyak veiwer demi popularitas, tidak peduli itu pantas atau tidak pantas, layak atau tidak layak. Pokoknya “lain dari yang lain”.  Semakin banyak melihat dan berkomomentar, semakin dianggap hebat, dan semakin dihargai oleh pemilik platform dengan menaikkan levelnya di media sosial.

 Ketiga, emosi yang tidak stabil. Dalam hasil penelitiannya, sebagaimana ditunjukkan dalam bukunya yang disebutkan di atas, Paul Leonardi menemukan bahwa emosi manusia digital cenderung tidak stabil.

Lebih-lebih lagi begitu banyaknya informasi yang ragam kualitasnya diragukan membanjiri mata dan otak manusia digital, sehingga ia sulit mengelola perasaannya. Hal itu diperparah lagi oleh daya tarik yang begitu kuat, bak sihir yang mematikan dari teknologi digital.

Mengutip hasil penelitian Merritt Roe Smith, Leonardi menulis, “all new innovations enter the world shrouded in a veil of technological determinism. Technological determinism is the belief that technological progress marches along according to its own logic and that we humans are just along for the ride. Our Janus faced technologies pique our emotions so flagrantly because they make clear to us that we are not in control”.

Yang mau dikatakan oleh Leonardi melalui ucapan ahli sejarah tersebut adalah betapa kehadiran teknologi digital mempengaruhi kondisi emosi dari penggunanya, yang buahnya terkandung dalam tiga hal, yakni ketakutan, kecemasan, dan kemarahan yang semakin meningkat.

Kondisi ini menurut Paul justru menyurutkan emosi sehat publik, sebaliknya menumbuhkan emosi buruk, tidak hanya di ruang publik, tetapi juga di ruang privat bagi orang-orang paling dekat sekalipun dalam keluarga.

Sekali lagi, kelekatan manusia dengan teknologi berdampak negatif begitu besar, yang muaranya adalah kelelahan digital (digital exhaution). Bagi Leonari, kuantitas S2CR tersebut dikondisikan oleh berbagai hal: jumlah berbagai fitur media sosial yang begitu banyak dimiliki seseorang, determinasi berbagai platform media sosial untuk melakukan sesuatu hal secara terus menerus demi tujuan tertentu, tawaran iklan-iklan yang menggiurkan dengan janji muluk-muluknya, dan pengejaran level status. Semuanya ini menimbulkan kelelahan digital dengan tingkatan yang berbeda secara tidak sadar.

Kesadaran Biosophia

Bagaimana menyikapi berbagai kondisi negatif demikian? Yang pasti di era gini, berhenti menggunakan teknologi digital bukanlah pilihan yang tepat, bukan juga antiteknologi alias “teknophobia”. Apa yang diperlukan, menurut penulis adalah konsientisasi atau penyadaran kembali akan berbagai ekses itu yang berbuah pada hidup bijak atau biosophia.

Seperti dikatakan oleh Socrates, pengetahuan merupakan dasar bagi manusia untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu. Mengapa? Karena pengetahuan itulah dasar untuk menilai atas baik atau buruknya sesuatu.

Dalam dua artikel yang diturunkan di rubrik opini Odiyaiwuu dengan judul “Humanitas dan Artificial Intelligence” (2/03/2026) dan “Sikap Kritis Atas Ekses Digital” (09/03/2026) penulis sudah menjelaskan betapa banyak ekses dan ancaman dari kehadiran teknologi digital, lebih-lebih kehadiran kecerdasan buatan dengan segala bentuknya dan dengan ragam skala tingkatan bahayanya.

Terhadap berbagai ancaman dan ekses negatif itu, penulis setuju apa yang diusulkan oleh Paul Leonardi, yakni pentingnya memikirkan kembali hubungan kita dengan teknologi digital. “We must reimagine our relationship with the digital technology” begitu tulis Leonardi.

Apa yang dikatakan Paul Leonardi persis menegaskan ulang pendapat-pendapat filsuf seperti Aristoteles, Immanuel Kant dan Rene Descartes bahwa manusia itu diberi dua kekuatan sebagai hakikat kemanusiaannya, yakni pikiran dan kebebasannya.

Aristoteles, mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang rasional (berpikir). Dalam penggunaan tekonologi digital dengan ragam rayuan yang menggiurkannya, manusia harus menggunakan pikiran dan nalar jernihnya, bukan justru dikuasai oleh alam bawah sadarnya berupa naluri-naluri instingtualnya seperti narsis.

Immanuel Kant memperteguh pandangan Aristoteles dengan mengingatkan kesadaran kemampuan etis dalam diri manusia, yakni menjaga harga dirinya. Bagi Kant, Mensch ist das ding an sich”,  artinya, manusia bernilai pada dirinya sendiri”. Ia tidak bisa diobjekkan, dan tidak pula pantas mengobjekkan dirinya.

Karena itu menghargai diri dan martabatnya di depan teknologi digital adalah kewajiban moralnya (“imperatif kategoris manusia”). Rene Descartes mengingatkan hal yang sama dengan ungkapan terkenalnya Cogito ergo sum ( Saya berpikir, maka saya ada)”. Berpikir menjadi ungkapan kemanusiaan.

Manusia juga harus menyadari diri sebagai makhluk yang bebas seperti ditegaskan oleh Erich Fromm dalam buku Escape from Freedom” (1987). Manusia seyogianya tidak mau dikondisikan oleh berbagai macam rayuan atau tawaran-tawaran penyedia platform media sosial yang menggiurkan, karena ia memiliki otonomi moral.

Tawaran-tawaran itu merupakan kamuflase dan berbau manipulatif, seolah-olah menguntungkan pengguna media, namun sesungguhnya demi pemenuhan jiwa kapitalistik penyedia ragam pemilik platform.

Kesadaran akan berbagai dampak negatif dan berbagai ancaman humanisme teknologi digital, dan konsientisasi akan hakikat kemampuan manusia sebagai makhluk berpikir, makhluk yang otonom, dan makhluk yang bebas, seyogianya bermuara pada satu sikap utama, yakni mencintai kehidupan itu sendiri.

Jadi, kesadaran akan biosophia atau hidup bijaksana, cerdas dan cermat nampaknya merupakan hal yang penting dewasa ini demi terciptanya pribadi yang sehat, yang tentunya juga persyaratan terciptanya masyarakat dan bangsa yang sehat. Semoga.