Oleh Markus Haluk
Penulis dan Pegiat Literasi
PARA mahasiswa dari tiga distrik masing-masing Distrik Walelagama, Siep Kosi, dan Itlay Hisage yang terhimpun dalam wadah Ikatan Mahasiswa Tiga Distrik di Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan menyelenggarakan diskusi dengan salah satu fokus pada pengembangan kemampuan diri melalui literasi.
Sebagai salah satu narasumber yang lama mengabadikan karya-karya terkait tanah Papua, rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada para penggagas atas pelaksanaan diskusi ini. Bagi penulis, kegiatan semacam ini adalah bagian dari bekal hidup yang sedang dicicil sepotong demi sepotong untuk masa depan generasi muda dan anak cucu kita di tanah Papua.
Dalam diskusi tersebut, penulis hadir karena hasil dari kegiatan serupa beberapa tahun silam. Kelak, dari apa yang dilakukan para mahasiswa tiga distrik ini diharapkan mereka akan setia memimpin gerakan literasi sekaligus menjadi tulang punggung keluarga, gereja, dan bangsa Papua.
Dua pekan silam, Ketua Ikatan Mahasiswa Tiga Distrik di Jayawijaya Hergy Itlay bertandang ke rumah penulis. Ia meminta kesediaan untuk menjadi salah satu pemateri. Saat itu, penulis menyampaikan apresiasi sekaligus menyatakan kesediaan hadir dalam kegiatan bertajuk Pentingnya Literasi.
Sementara itu, para senior akan menyajikan materi sesuai bidang keahliannya masing-masing. Soal literasi merupakan tema yang selalu disentuh karena sangat urgen dalam perkembangan tanah Papua. Sebelumnya, Ikatan Asrama dan Mahasiswa Jayawijaya juga meminta tema yang sama.
Momentum Tepat
Belakangan, urusan literasi menjadi topik sangat penting dan menjadi diskusi hangat. Mengapa demikian? Inilah momentum yang tepat bagi generasi muda untuk berbicara tentang literasi. Saat berlangsung diskusi penulis mengurai secara ringkas term literasi dari aspek etimologi, cabang ilmu linguistik yang mempelajari sejarah asal-usul kata. Berikut menelusuri sejarah literasi mulai dari para tokoh dunia hingga tanah Papua. Kemudian, contoh dan bentuk literasi dalam kehidupan sehari-hari di tanah Papua.
Secara etimologis, term literasi berasal dari kata bahasa Latin: littera, huruf. Dalam perkembangan perjalanan makna yaitu huruf-berhuruf atau melek huruf, terpelajar-kemampuan, membaca-menulis-kemampuan memahami dan menggunakan informasi.
Kata serumpun dalam bahasa Indonesia: literer (bersifat sastra), literal (harfiah), obliterasi (penghapusan dari bahasa Latin oblitterare: mencoret huruf), aliterasi (pengulangan bunyi huruf konsonan). Dengan memahami dari aspek etimologi, kita bisa memahami bahwa literasi pada intinya selalu berkaitan dengan huruf, tulisan, dan pengetahuan yang lahir darinya.
Di era yang serba digital dan cepat, literasi telah menjadi fondasi utama bagi kemajuan dan kemandirian suatu wilayah hingga demi bangsa Papua. Bagi generasi Papua, kemampuan literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi juga merupakan kunci untuk membuka wawasan, membangun karakter, dan memperkuat identitas di tengah gempuran budaya luar dari Eropa dan Asia (Indonesia) dan pendudukan masif militer dan migrasi sipil Indonesia di West Papua.
Ketika generasi muda lemah dalam budaya membaca dan menulis, mereka rentan terhadap pengaruh negatif yang dapat mengaburkan arah masa depan. Literasi juga berperan sebagai senjata untuk melawan ketidakadilan dan penindasan serta melawan ancaman genosida, etnosida dan ekosida yang dihadapi bangsa Papua selama 62 tahun dalam pendudukan Indonesia.
Dengan kemampuan literasi, generasi muda akan peka terhadap realitas di sekitarnya, mampu membaca situasi sosial-politik serta memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan hak-hak mereka. Membangun manusia yang baik melalui literasi akan memajukan, mencerdaskan, dan membangkitkan generasi di suatu wilayah dan bangsa. Jika diabaikan, kemunduran dan kehancuran akan terjadi di berbagai sektor kehidupan manusia.
Selain itu, literasi merupakan kunci kesejahteraan sosial dan pembangunan berkelanjutan sekaligus mewujudkan keadilan dan perdamaian (justice and peace). Dengan pendidikan dasar yang kuat melalui komunitas literasi, generasi muda Papua didorong untuk menjadi pemimpin yang berkualitas di masa depan dan mampu menjadi tuan di atas negeri sendiri.
Tanpa pemahaman yang utuh terhadap sejarah, kondisi tanah Papua saat ini serta dan arah masa depan, perubahan akan sulit untuk diwujudkan. Jalan menuju pemahaman itu hanya bisa ditempuh dengan membaca, menganalisis, berdiskusi, dan mengaitkannya langsung dengan realitas masyarakat.
Sejarah Literasi di Papua
Perjalanan literasi di Papua telah dimulai sejak lebih dari satu abad yang lalu, yang menjadi fondasi bagi pendidikan hingga saat ini. Pertama, sejarah misi penginjilan dan pendidikan abad ke-XIX hingga awal abad ke-XX. Sejarah literasi di Papua tidak lepas dari masuknya penginjil (zending) pertengahan abad ke-XIX.
Pada tahun 1855, Injil masuk di Pulau Mansinam, diikuti para misionaris Katolik tahun 1894 di Sekru Fak-Fak, West Papua. Para penginjil ini tidak sekadar menyebarkan Injil, tetapi juga memperkenalkan sistem baca-tulis dan pendidikan formal melalui pendirian sekolah-sekolah.
Kedua, zaman pemerintahan Belanda awal 1900-an. Pada awal abad ke-XX, pemerintah Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah formal yang mengajarkan kurikulum sederhana. Sayangnya, akses pendidikan ini sangat terbatas hanya untuk segelintir kaum terdidik. Saat itu, buku-buku berbahasa Belanda menjadi sumber utama belajar bagi penduduk setempat.
Ketiga, ‘batu peradaban’ di Teluk Wondama tahun 1925. Momen penting dalam sejarah literasi Papua adalah ketika Izaak Samuel Kijne, penginjil dan guru asal Belanda, mendirikan sekolah di Bukit Aitumieri, Teluk Wondama. Pada 25 Oktober 1925, ia menorehkan kalimat bersejarah di atas sebuah batu: “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua”.
Batu ini menjadi simbol lahirnya generasi terpelajar pertama di Papua. Sejak saat itu, banyak anak dari berbagai suku dikirim ke Wondama untuk belajar membaca dan menulis, lalu kembali ke daerah asalnya untuk menjadi pengajar. Di tempat inilah, Kijne meletakkan fondasi bagi kebangkitan intelektual dan spiritual masyarakat dan bangsa Papua.
Tokoh Literasi Dunia
Dalam diskusi di atas, penulis mengajak peserta melihat para inovator yang merevolusi akses pengetahuan di tingkat global serta para pahlawan modern yang menggerakkan literasi di tanah Papua.
Beberapa tokoh dunia seperti Johannes Gutenberg asal Jerman dan Louis Braille asal Prancis telah menunjukkan bahwa literasi memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan dan masyarakat. Louis Braille, yang tercantum dalam daftar berikut, adalah salah satu contoh konkret bagaimana literasi dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang tunanetra.
Gutenberg, penemu mesin cetak pada abad ke-XV, memungkinkan ia memproduksi buku secara massal. Penemuan ini secara fundamental mengubah cara pengetahuan disebarluaskan, dari yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh elit agama menjadi terjangkau oleh masyarakat luas.
Braille, inovator yang menciptakan sistem tulisan Braille bagi penyandang tunanetra pada awal abad ke-XIX. Sistem ini membuka akses literasi bagi jutaan orang di seluruh dunia yang sebelumnya tidak dapat membaca atau menulis. Ia menciptakan sistem baca-tulis yang mengubah dunia pada usia 15 tahun.
Kemudian, Malala Yousafzai asal Pakistan, aktivis termuda dan simbol global untuk hak pendidikan dan literasi, terutama bagi anak perempuan di negara-negara yang menindas kaum perempuan.
Begitu pula Raden Adjeng (RA) Kartini asal Indonesia. Melalui surat-suratnya, Kartini memperjuangkan pentingnya pendidikan bagi perempuan pribumi sebagai alat pembebasan dari penindasan budaya dan kolonial di masa lalu.
Semantera itu, tokoh pencetus literasi juga lahir di tanah Papua. Para tokoh Papua berikut menunjukkan bahwa gerakan literasi di Papua dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari genenasi senior dan generasi muda, perempuan, jurnalis hingga pegiat lingkungan. Mereka bekerja langsung di lapangan untuk membangun peradaban melalui buku dan pendidikan.
Pegiat Literasi di Papua
Para tokoh senior bangsa Papua dapat dicatat di sini. Mereka antara lain Pendeta Dr Benny Giay; Dr Robert J Manzoben; Drs Agus A Alua, M. Lic Theology; Pendeta Dr Noak Nawipa; Pastor Dr Neles Kebadabi Tebay, Pr; Wolas Krenak, Octovianus Mote, Victor Mambor, Paskalis Keanggop, dan lain-lain.
Mereka adalah para akademisi dan junalis Papua yang telah dan terus menghidupkan semangat literasi di dalam kampus dan dalam berbagai kegiatan formal dan informal bagi bangsa Papua.
Para tokoh ini telah menanamkan semangat dan motivasi kepada mahasiswa dan rakyat Papua agar terus membaca dan menulis. Pendidikan membaca dan menulis menjadi alat melawan penindasan Indonesia dan oleh pihak luar kepada bangsa Papua.
Mereka sudah menghasilkan karya berupa buku dan pokok pikiran mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah di West Papua, Indonesia dan Tingkat global. Selain itu memperkenalkan literasi melalui media online yang didirikan.
Selain itu, para junior pengiat literasi juga bermunculan di West Papua. Neas Wanimbo, misalnya. Ia penggagas Hano Wene, yang menghimpun donasi buku dan membangun perpustakaan di desa terpencil di pedalaman Papua. Ia berpegang teguh pada prinsip bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Ia lebih memilih pulang ke tanah kelahiran daripada bekerja di luar negeri.
Selain itu, ada juga Kurniawan Patma. Kurniawan adalah pendiri Komunitas Literacy For Everyone (LiFE) Papua yang berupaya meningkatkan literasi membaca dan menulis anak-anak Papua sejak 2018. Ia mengajarkan literasi keuangan untuk mama-mama Papua yang berkecimpung di dunia usaha.
Berikut, Aprila Wayar (Almarhumah). Aprila seorang novelis dan jurnalis perempuan Papua pertama yang produktif. Ia mendirikan Fawawi Club, yang berupaya mendorong lahirnya banyak penulis muda Papua. Ia juga perempuan Papua yang berani dan tegas menyuarakan kebenaran dan selalu mendorong literasi dan komunitas sastra Papua.
Kemudian, Bhrisco Jordy, pencetus Gerakan Papua Future Project yang berfokus pada penyetaraan fasilitas literasi di Pulau Mansinam dengan membangun fondasi dasar literasi untuk setiap anak. Ia berpandangan bahwa tidak bisa hanya berharap pada pemerintah, namun terinspirasi untuk memulai gerakan sendiri ketika melihat ketimpangan Pendidikan.
Lalu, Baltasar Klau Nahak, penggerak Eco-Literacy dan pendiri Perpustakaan Keliling Agape di Kabupaten Sorong Selatan yang mendidik anak-anak di desa tentang lingkungan dan literasi. Ia mengajak masyarakat melestarikan lingkungan melalui literasi dengan program edukasi lingkungan, menonton film edukatif hingga membuat karya seni dari sampah.
Selain itu, Angginak Sepi Wanimbo, pegiat literasi dari Lapago yang secara aktif menyalurkan buku bacaan dan menjadi narasumber untuk mendorong mahasiswa dan komunitas belajar. Ia selalu menekankan bahwa ilmu dari buku akan membentuk karakter, moral, dan integritas. Sepi juga getol mengajak generasi muda menggali ilmu dari para tetua di honai (rumah adat).
Ada juga Blandina Yuliana Rumaseb, perempuan Papua pertama yang menulis Tok Pisin-Indonesia, kamus bilingual dengan ribuan kata yang disajikan dalam kamus tersebut. Prestasi ini menunjukkan bahwa perempuan Papua mampu menjadi pencipta pengetahuan dan penjaga bahasa.
Selain itu ada Hanny Felle, perempuan adat di Sentani. Ia mendirikan Rumah Baca Yoboy sebagai wujud kepedulian terhadap generasi muda yang mulai kehilangan akses bacaan dan akrab dengan gawai. Inisiatif ini menjadi teladan bahwa literasi dapat dimulai dari skala kecil di lingkungan sekitar.
Kemudian, Yayasan Frans Lieshout Wenewolok (YAWU) Papua yang didirikan Neles Siep. Bersama staf yayasan ia menyelenggarakan kursus mengetik 10 jari serta latihan membaca dan menulis. YAWU mendorong agar genarasi Muda Suku Hubula, Keerom, Mee, Migani dan bangsa Papua harus lebih siap ke depan.
Menyentuh Aksi Nyata
Gerakan literasi di West Papua tidak hanya wacana, tetapi telah terwujud dalam berbagai aksi nyata di tengah masyarakat. Beberapa contoh dapat dikemukakan di sini. Pertama, Rumah Baca dan Lapak Baca Yoboi Sentani.
Rumah baca ini menjadi ruang belajar lintas generasi yang memadukan pengetahuan lokal dengan semangat membaca bagi anak-anak, remaja, hingga orang tua. Di sini, selain membaca dan menulis, para tetua adat juga bercerita tentang sejarah kampung untuk menguatkan identitas budaya.
Kedua, lapak baca yang digagas Lingkar Studi Papua (LSP). Lapak ini menjadi ruang alternatif bagi kaum muda untuk membaca, berdiskusi, dan menganalisis situasi sosial-politik West Papua, sehingga literasi menjadi fondasi untuk membangun keberanian berpikir dan bertindak.
Lomba Menulis Budaya yang digelar Komunitas Kintal Rum Fararur bertujuan mendorong para penulis muda untuk menceritakan budaya Papua dari pengalaman dan pengamatan mereka pribadi.
Kemudian, Story Telling dan Lomba Cerita Rakyat Papua yang diselenggarakan di Wamena bertujuan untuk melestarikan cerita rakyat dan memperkuat literasi berbasis inklusi sosial di kalangan pelajar.
Lokakarya literasi digital yang diadakan Yayasan Lingkungan Hidup (YALI) Papua dan YAWU Papua membantu anak muda mengatasi keterbatasan kemampuan komputer agar mereka tidak berhenti berkarya. Pemahaman ini membuka ruang bagi generasi muda untuk menyuarakan isu-isu mereka secara mandiri melalui berbagai platform digital
Kemudian, kuliah umum Literasi Digital Berbasis Kearifan Lokal di Universitas Baliem (Uniba) Wamena membekali mahasiswa dengan pemahaman bahwa literasi digital sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan di tanah Papua.
Berikut, pendidikan nilai di honai dan komunitas. Para pegiat literasi seperti Sepi Wanimbo mengajak generasi penerus untuk menempatkan diri bersama orang tua di honai untuk menggali ilmu pengetahuan, nilai-nilai luhur, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Ia menekankan bahwa jika generasi muda tidak menempatkan diri di honai, mereka akan kehilangan jati diri sebagai anak asli Papua.
Selain itu, aktivitas di Komunitas Laluguragan di Wamena tidak hanya fokus pada baca tulis, tetapi mencakup pengajaran moral, etika, bahasa Inggris, kursus komputer hingga musik, yang semuanya berbasis pada nilai-nilai budaya setempat.
Pendirian dan Pameran Budaya melalui sekolah adat yang diinisiasi Solemen Itlay dan kawan-kawan di DIstrik Itlay Hisage dan Ambros Haluk bersama kawan-kawannya di Distrik Walelagama.
Rekomendasi dari Wamena
Berdasarkan pengalaman para pegiat literasi, berikut beberapa rekomendasi konkret bagi generasi muda di Wamena dan sekitarnya. Pertama, identifikasi kebutuhan dan tantangan unik.
Kedua, prioritaskan penguatan pondasi literasi dasar, terutama di tiga distrik yaitu Distrik Walelagama, Siep Kosi, dan Itlay Hisage yang aksesnya terbatas. Misalnya dengan memanfaatkan jalur distribusi buku melalui jasa pengiriman gratis seperti yang dilakukan oleh anak-anak muda.
Ketiga, perkuat kolaborasi lintas sektor: pemerintah, gereja, komunitas, dan dunia usaha. Seperti diakui pegiat literasi Laluguragan, temukan dukungan konkret dari pemerintah, terutama dalam hal bahan ajar serta dukungan dana dan daya.
Pengembangan kapasitas dan keterampilan utama melalui sejumlah aspek. Pertama, kuasai literasi digital (kemampuan komputer, internet) sekaligus latih berpikir kritis dengan memverifikasi informasi dari buku dan diskusi, bukan hanya copy-paste dari internet.
Kedua, kembangkan ragam literasi lain yang relevan seperti kewirausahaan, keuangan, dan kepemimpinan. Ketiga, asah kemampuan menulis kreatif untuk membangun narasi positif tentang Papua sendiri sebagai tuan di negeri sendiri.
Pemanfaatan jaringan dan sumber daya lokal dengan jalan menggali ilmu dari para tetua, para doktor maupun guru besar budaya yang ada di honai untuk memperkuat identitas sebagai orang asli Papua.
Selain itu, memanfaatkan ruang publik seperti tempat ibadah (gereja) sebagai pusat kegiatan literasi dan belajar mengajar, sebagaimana dilakukan oleh banyak komunitas baca. Masa depan Papua berada di tangan generasi mudanya.
Dengan membangun budaya literasi yang kuat, tidak hanya ke depan generasi muda akan menjadi pribadi yang cerdas dan berkarakter, tetapi juga mampu memimpin daerahnya menuju kemajuan yang berkelanjutan. Mari, dari Wamena untuk Papua, kita gerakkan dan gelorakan terus semangat, asa, harapan melalui buku dan ilmu pengetahuan. Semoga. Wa wa wa. Ninomat.










