Oleh Kasdin Sihotang
Dosen Filsafat Moral di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta; Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia
HARI ini diperingati sebagai Hari Kartini. Bagi Bangsa Indonesia, khususnya bagi kaum perempuan, setiap tanggal 21 April adalah momen penting. Dapat dikatakan bahwa RA Kartini memberikan tonggak sejarah bagi bangsa ini tentang posisi kaum perempuan, yang umumnya di masanya menduduki posisi kelas ke sekian di kultur masyarakat pada masanya. Penetapan 21 April sebagai hari Kartini terjadi pada pemerintahan Bung Karno melalui Keputusan Presiden RI Nomor 108 tertanggal 2 Mei 1964. Penetapan tanggal dan bulan tersebut dipilih bertepatan dengan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, tokoh perempuan Indonesia yang hebat itu.
Penetapan demikian bukan tanpa alasan. Seperti diketahui bersama, RA Kartini adalah sosok wanita muda, namun di usianya yang relatif muda, ia sudah memiliki gagasan-gagasan yang brilian dan perjuangannya begitu besar bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan. Bung Karno sungguh menyadari peran yang begitu besar itu dan mengaggap layak bahwa sosok tokoh perempuan berjasa itu mendapat penghargaan dari negara. Dalam Surat Keputusan No 108 itu, RA Kartini diakui tidak saja sebagai Pahlawan Kemerdekaan, tetapi juga seorang sosok yang kelahirannya pantas diperingati sebagai momen khusus bagi kaum perempuan Indonesi. Karena itu setiap 21 April Hari Kartini diperingati.
Makna Historisitas
Dari perspektif filsafat manusia, sebuah momen historisitas selalu memiliki tiga makna, yakni sebagai sebuah kesaksian, sebagai penyebaran nilai dan penerusan realitas (Kasdin Sihotang, Filsafat Manusia: Jendela Menyingkap Humanisme, 2023). Maksud dari sejarah sebagai sebuah kesaksian adalah bahwa peristiwa atau perjuangan merupakan fakta yang menjadi saksi kuat, yang dapat menjadi tanda konkret peristiwa atau perjuangan di momen tertentu. Sedangkan penyebaran nilai maksudnya, dalam peristiwa atau perjuangan itu termuat nilai-nilai penting yang membuat peristiwa atau perjuangan itu begitu berarti bagi generasi berikutnya. Jadi faktisitas bukan sekedar peristiwa tetapi mengandung nilai yang perlu disebarkan. Sedangkan penerusan realitas, maksudnya adalah peristiwa atau perjuangan itu mensyaratkan tuntutan untuk diteruskan oleh generasi berikutnya.
Dalam konteks peringatan Hari Kartini, ketiga makna historis tersebut juga tertera dengan jelas. RA Karitini adalah saksi sejarah tentang perjuangan kaum perempuan agar diakui setara dan sederajat dengan kaum laki-laki. Sebelum perjuangan RA Kartini, dalam kultur asli Indonesia kaum perempuan menduduki posisi lebih rendah. Kepada mereka diberi label tiga kata sebaga peran, dan peran itu selalu menunjukkan posisi inferior ( lebih rendah dibandingkan dengan posisi laki-laki), yakni dapur (kerjanya hanya masak), sumur (kerjanya hanya mencuci), dan kasur (sebagai pemuas naluri seksualitas).
Tetapi Kartini melihat julukan demikian menempatkan kaum perempuan berada pada posisi yang selalu menjadi objek baik dalam konteks gender maupun kekuasaan di masanya. Kartini sendiri menjadi saksi sejarah untuk melawan ideologi dominasi itu. Seiring dengan itu, Kartini meletakkan nilai dasar penting tentang kedudukan kaum perempuan, yakni kesetaraan dengan kaum laki-laki.
Apa yang diperjuangkan RA Kartini persis sejalan dengan gagasan moral Immanuel Kant, filsuf Jerman yang menempatkan marabat manusia berada pada posisi yang paling berharga dalam kedudukan dan posisi apapun. Setiap manusia adalah pribadi yang memiliki martabat yang sama. Karena memiliki martabat yang sama, maka siapapun memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi martabat manusia itu, yang disebut Kant dengan istilah imperatif kategoris. Kartini dan pejuang kaum perempuan lainnya mengukir nilai itu juga dalam perjuangan mereka. Nilai itu harus disebarkan terus menerus.
Sedangkan penerusan realitas, dalam konteks perjuangan Kartini terletak dalam upaya terus menerus untuk memberi posisi kaum perempuan setara dengan kaum laki-laki dalam segala bidang kehidupan. Secara lain dapat dikatakan, diperlukan perjuangan terus menerus dan komitmen untuk memberi peran yang sama bagi kaum perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Jadi perjuangan keadilan bagi kaum perempuan harus terus diupayakan, kendati dalam dekade kehidupan berbangsa dan bernegara hal itu sudah mulai terlihat dengan memberikan porsi proporsional bagi kaum perempuan di bidang jabatan publik. Namun tidak bisa dimungkiri hambatan untuk itu masih besar karena ragam faktor.
Dua Pesan Penting
Pertanyaan yang relevan diangkat terkait dengan peringatan Hari Kartini: Pesan apa yang bisa diambil dalam memaknai kehidupan berbangsa dan bernegara? Menurut hemat penulis minimal ada dua hal berikut. Pertama, pentingnya pemberdayaan kaum perempuan dengan pengetahuan yang memadai. Tidak bisa dimungkiri bahwa RA Kartini yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri menyadari betapa pentignya pengetahuan bagi kemajuan seseorang. Dan itu diperoleh melalui pendidikan.
Konteksnya, pada akhir abad ke-19, perempuan, khususnya di wilayah Jawa, memiliki akses yang sangat terbatas terhadap pendidikan. Kartini menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk memperbaiki kehidupan perempuan dan masyarakat secara luas. Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan mampu membuka peluang bagi perempuan untuk berkembang dan berperan aktif dalam kehidupan sosial.
Karena keyakinan tersebut, Kartini mulai merintis pendidikan bagi perempuan dengan membuka sekolah kecil di rumahnya. Di sana, ia mengajarkan membaca, menulis, hingga keterampilan praktis seperti kerajinan tangan dan memasak. Langkah sederhana ini kemudian menjadi awal dari gerakan pendidikan perempuan di Indonesia.
Upaya yang dilakukan Kartini sebagai bagian dari sejarah masih sangat relevan dengan situasi dewasa ini, khususnya di pedesaan. Komitmen RA Kartini bahwa pengetahuan itu adalah jendela yang mengubah kehidupan kaum perempuan sangatlah besar. Asumsi yang melatarbelakangi perjuangan ini sejalan dengan apa yang ditegaskan oleh Francis Bacon dengan ungkapan “knowledge is power”, pengetahuan adalah kekuatan. Karena itu satu pesan penting bagi bangsa ini adalah terus memberikan kesempatan yang luas bagi kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
Kedua, menggemakan etika kepedulian. Dalam bukunya berjudul In a Different Voice: Psycological Theory and Women’Development (1982),Caroll Gilligan, seorang aktivis perempuan mencermati keunggulan kaum perempuan. Keunggulan itu adalah etika kepedulian yang tinggi. Gilligan sangat tidak setuju dengan cara pandang Lawrence Kohlberg yang menempatkan rasionalitas sebagai paling tinggi dalam perkembangan moral, sementara rasionalitas itu dominan menunjuk pada kemampuan kaum laki-laki.
Gilligan mengatakan bahwa penempatan rasionalitas sebagai puncak tertinggi pengembangan moral justru menyingkirkan kaum perempuan, karena nilai moral yang dihayati dan dihidupi oleh kaum perempuan justru kepedulian yang begitu besar. Hal itu sudah diperlihatkan oleh seorang ibu sejak ia mengandung seorang bayi dalam rahimnya. Bahkan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan bayi dalam kandungannya. Karena itu menurut Gilligan, etika kepedulian harus diberi tempat dalam kehidupan, karena itu etika yang mendasari kehidupan kaum perempuan.
RA Kartini juga sesungguhnya memperlihatkan hal itu dalam perjuangan emansipasinya. Ia memiliki kepedulian terhadap masa depan kaum perempuan Indonesia. Dan ini membuat dia tanpa henti dan lelah mengupayakannya, ketika belajar di luar negeri. Dari ini pesan yang bisa diambil juga perlunya untuk tetap menghidupkan etika kepedulian dalam kehidupan bersama.
Kepedulian adalah dasar untuk menggerakkan batin seseorang untuk melakukan hal konkret untuk memajukan orang lain, terlebih kaum perempuan. Kepedulian itu akan kuat dengan terbangunnya sikap empati yang menyertakan compassion atau belaskasih. Helen Riess bahkan mengatakan empati adalah sikap yang begitu langka dewasa ini, karena sihir teknologi membuat manusia semakin apatis terhadap yang lain. Gerakan yang diperlukan menurut Helen Riess adalah membangkitkan empati, yakni sikap peduli dan berbuat sesuatu yang positif pada orang lain.
Kartini sungguh-sungguh telah menjalankan apa yang ditegaskan Riess itu. Nilai ini juga sangat perlu diangkat sebagai buah berharga dari peringatan Hari Kartini, sebagaimana hakikat nilai utama penciri kaum perempuan, yakni etika kepedulian, seperti diakui oleh Carol Gilligan. Mari membangkitkan semangat belajar dan berpengetahuan serta mengggaungkan etika kepedulian sebagai buah refleksi momen berharga ini. Selamat Memperingati Hari Kartini.










