Oleh Dr Felix Baghi, SVD
Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores
DALAM dunia kampus, kaum cendekia bukanlah sekadar penjaga gudang pengetahuan, melainkan penafsir zaman yang berdiri di ambang antara “apa yang ada” dan “apa yang mungkin.” Dalam diri kaum cendekia terhimpun dua daya yang tampak saling menegangkan namun justru saling meneguhkan: sense of reality dan sense of possibility.
Yang pertama menuntun kita untuk tidak larut dalam ilusi; yang kedua mencegah kita untuk tidak membeku dalam kenyataan yang tampak final. Namun keseimbangan ini tidak pernah lahir secara otomatis dari status intelektual, melainkan dari disiplin akademis yang terus-menerus diuji oleh keraguan, refleksi, dan keberanian untuk merevisi diri.
Di sinilah tugas filsafat menemukan urgensinya dalam konteks pengukuhan seorang profesor: bukan sekadar sebagai pengakuan akademik, tetapi sebagai penegasan tanggung jawab publik atas cara berpikir.
Sebab berpikir kritis bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kebajikan intelektual, sebuah etos yang menuntut kejujuran epistemik, kehati-hatian dalam penilaian, dan keberanian untuk menanggung konsekuensi dari kebenaran yang diucapkan.
Jürgen Habermas mengingatkan kita bahwa rasionalitas publik tidak pernah berdiri di atas otoritas, melainkan di atas argumentasi yang dapat diuji secara terbuka.
Dalam horizon ini, seorang cendekia tidak berbicara dari menara gading, melainkan dari ruang dialog yang selalu rentan terhadap sanggahan.
Ia hadir bukan untuk mendominasi wacana publik, tetapi untuk menjaga agar wacana itu tetap rasional, terbuka, dan tidak jatuh ke dalam manipulasi kekuasaan maupun kebisingan opini.
Maka, dalam semangat berpikir kritis dan bijaksana, peran kaum cendekia adalah menjaga ketegangan yang produktif antara fakta dan norma.
Ia tidak boleh terjebak dalam reduksi realisme yang membeku, tetapi juga tidak boleh larut dalam idealisme yang tercerabut dari bumi sosial.
Setiap bentuk ekstrem adalah kegagalan berpikir: yang satu melahirkan kebutaan terhadap kemungkinan, yang lain melahirkan ilusi tanpa pijakan.
Tugas Berat Kaum Cendekia
Dewasa ini, di tengah ruang publik modern yang semakin terfragmentasi oleh media, algoritma, dan polarisasi opini, tugas kaum cendekia menjadi semakin berat sekaligus semakin mendesak. Informasi melimpah, tetapi pemahaman kian rapuh; akses terbuka, tetapi kedalaman refleksi sering tergerus.
Dalam situasi ini, seorang cendekia tidak lagi hadir sekadar penyampai pengetahuan, melainkan penjaga kualitas rasionalitas publik, fungsi yang menuntut ketelitian epistemik sekaligus keberanian normatif.
Namun, tanggung jawab ini tidak bebas dari paradoks. Setiap keterlibatan seorang cendekia dalam ruang publik selalu mengandung risiko pencampuran antara penjelasan dan advokasi, antara analisis dan keberpihakan.
Di titik ini, corak berpikir kritis dan bijaksana seorang cendekia menuntut satu kebajikan utama: kesadaran reflektif atas batas peran sendiri.
Hal ini yang oleh Habermas dibaca sebagai bentuk epistemic humility, kesadaran bahwa tidak ada klaim kebenaran yang final di luar proses pengujian publik yang terus berlangsung.
Melalui filsuf Michel Foucault, kita diingatkan bahwa pengetahuan tidak pernah steril dari kekuasaan. Setiap klaim kebenaran selalu bergerak dalam medan relasi kuasa.
Namun justru di sinilah filsafat menemukan tanggung jawabnya: bukan untuk menyerah pada relativisme, tetapi untuk terus membuka ruang kritik terhadap setiap klaim yang berpotensi membungkam dialog.
Jika Foucault mengajarkan kita untuk mencurigai kebenaran yang mapan, maka Habermas mengingatkan kita bahwa kecurigaan itu sendiri harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional di ruang publik.
Maka, figur intelektual yang diidealkan bukanlah nabi kebenaran, bukan pula teknokrat netral, melainkan mediator kritis: seseorang yang mampu menjembatani fakta dan nilai, deskripsi dan norma, pengetahuan dan tanggung jawab.
Cendekia berbicara bukan untuk menggantikan suara publik, tetapi untuk memungkinkan publik berbicara dengan lebih jernih, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.
Dalam konteks pengukuhan seorang profesor filsafat, seperti yang terjadi di IFTK Ledalero pada tanggal 18 April 2026, hal ini memperoleh makna yang lebih dalam.
Posisi akedemik seperti profesor atau guru besar bukanlah puncak pencapaian individual, melainkan perluasan medan tanggung jawab: dari ruang kelas ke ruang publik, dari komunitas ilmiah ke masyarakat luas.
Seorang profesor filsafat dipanggil bukan hanya untuk mengajarkan cara berpikir, tetapi untuk menjadi saksi hidup bahwa berpikir kritis adalah bentuk pelayanan publik yang paling mendasar.
Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak ia mengetahui, tetapi oleh bagaimana ia berpikir tentang apa yang diketahuinya.
Di sinilah corak berpikir kritis dan bijaksana menjadi bukan sekadar metode, melainkan etika; bukan sekadar keterampilan, tetapi keberanian moral untuk terus mempertanyakan, menguji, dan membuka kemungkinan baru bagi kehidupan bersama.
Dan dalam horizon seperti inilah, pengukuhan seorang profesor filsafat bukanlah penutup perjalanan akademik, melainkan awal dari suatu tanggung jawab yang lebih sunyi namun lebih berat: menjaga agar akal publik tetap hidup, agar kritik tidak padam, dan agar kemungkinan-kemungkinan baru bagi kemanusiaan tidak pernah berhenti dipikirkan.










