OPINI  

Lost Generation di Papua dalam Konteks Nduga

Narik Yimin Tabuni, Alumnus Program Magister Studi Pembangunan UKSW Salatiga, Jawa Tengah. Foto: Istimewa

Oleh Narik Yimin Tabuni

Alumnus Program Magister Studi Pembangunan UKSW Salatiga, Jawa Tengah

DI BERBAGAI wilayah konflik di dunia, istilah lost generation sering digunakan untuk menggambarkan generasi yang kehilangan kesempatan berkembang akibat perang, krisis sosial atau kegagalan sistem pembangunan.

Fenomena serupa dapat ditemukan di beberapa wilayah di tanah Papua, khususnya di Kabupaten Nduga. Generasi muda yang seharusnya tumbuh melalui pendidikan, kesehatan yang memadai, dan lingkungan sosial yang stabil justru menghadapi realitas yang sangat berbeda.

Nduga merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan yang secara geografis sulit dijangkau dalam kacamata Jakarta. Namun, biasanya Nduga sering dijangkau melalui jalur udara dan jalur laut. Namun, oleh karena cenderung dilihat menggunakan kaca mata Jakarta, menyebabkan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik berjalan lambat.

Persoalan yang dihadapi wilayah ini tidak sekadar terkait keterpencilan geografis. Konflik keamanan, lemahnya layanan negara, dan berbagai masalah sosial memperburuk situasi Nduga.

Krisis Pendidikan

Salah satu faktor utama yang menyebabkan munculnya potensi lost generation adalah krisis pendidikan. Di banyak daerah, sekolah merupakan ruang utama bagi anak-anak untuk belajar, berinteraksi, dan mengembangkan potensi mereka.

Namun di wilayah konflik, sekolah sering kali tidak dapat berfungsi secara normal. Ketika guru tidak dapat mengajar secara rutin atau sekolah harus ditutup karena situasi keamanan, anak-anak kehilangan kesempatan belajar yang sangat berharga.

Kehilangan akses pendidikan dalam jangka waktu lama memiliki dampak yang sangat besar. Hal ini dilihat dari sejak terjadinya konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dan TNI demi menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Sedangkan dalam kacamata TPNPB-OPM sebagai perjuangan Papua merdeka sebagai liberation movement untuk self-determination dan menjaga sumber daya alam Papua yang kaya akan susu dan madu.

Dampak konflik terhadap anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan dasar akan kesulitan membaca, menulis, dan berhitung. Tanpa kemampuan dasar tersebut, mereka akan menghadapi kesulitan besar dalam memasuki dunia kerja atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Konflik bersenjata menjadi faktor lain yang memperparah situasi. Dalam kondisi konflik, masyarakat terpaksa mengungsi untuk menghindari kekerasan. Pengungsian ini tidak hanya memutus aktivitas ekonomi masyarakat.

Namun, lebih dari itu juga menghentikan proses pendidikan anak-anak. Selain itu, anak-anak yang hidup dalam lingkungan konflik sering mengalami trauma psikologis yang dapat mempengaruhi perkembangan mereka dalam jangka panjang.

Selain konflik bersenjata, konflik sosial antar kelompok masyarakat juga dapat menciptakan ketegangan yang berkepanjangan. Konflik semacam ini dapat merusak hubungan sosial yang sebenarnya sangat penting bagi kehidupan masyarakat lokal.

Ketika hubungan sosial terganggu, kerja sama dalam membangun pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat menjadi semakin sulit.

Masalah kesehatan juga menjadi tantangan besar bagi masa depan generasi muda di Papua. Di banyak daerah terpencil, fasilitas kesehatan masih sangat terbatas. Jarak yang jauh, kondisi geografis yang sulit, serta minimnya tenaga medis membuat masyarakat sering terlambat mendapatkan penanganan medis.

Kelompok Rentan

Akibatnya, berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah atau diobati justru menyebabkan kematian. Anak-anak dan remaja menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kondisi ini. Tingginya angka kematian akibat penyakit mencerminkan lemahnya sistem kesehatan di daerah terpencil.

Selain penyakit umum, penyebaran HIV/AIDS juga menjadi tantangan serius di tanah Papua. Kurangnya edukasi kesehatan reproduksi dan terbatasnya layanan kesehatan membuat upaya pencegahan dan pengobatan penyakit ini menjadi sulit. Tanpa penanganan yang serius, HIV/AIDS dapat mengurangi produktivitas generasi muda dan memperburuk kondisi sosial masyarakat.

Bencana alam juga menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Kondisi geografis pegunungan membuat wilayah seperti Nduga rentan terhadap bencana longsor. Ketika bencana terjadi, masyarakat sering kali mengalami kehilangan tempat tinggal, lahan pertanian, dan sumber penghidupan.

Pada November 2025 bencana merengguts nyawa 23 pelajar di Nduga. Ini bagian dari satu masalah kabupaten ini mengalami kehilangan gereja muda Nduga.

Di tengah berbagai masalah tersebut, alkohol sering menjadi pelarian bagi sebagian masyarakat, terutama generasi muda yang merasa kehilangan harapan masa depan. Konsumsi alkohol yang tinggi dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, seperti kekerasan, gangguan kesehatan, dan menurunnya produktivitas.

Jika semua faktor ini digabungkan, terlihat jelas bagaimana sebuah generasi dapat kehilangan kesempatan untuk berkembang. Generasi muda yang seharusnya menjadi motor pembangunan justru terjebak dalam lingkaran konflik, kemiskinan, dan keterbatasan akses pendidikan.

Fenomena lost generation bukan hanya masalah lokal, tetapi juga masalah nasional. Masa depan suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya. Jika satu generasi kehilangan kesempatan untuk berkembang, maka dampaknya akan dirasakan dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tanah Papua. Pendidikan harus menjadi prioritas utama, terutama melalui program pendidikan darurat di wilayah konflik.

Selain itu, penguatan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur dasar serta upaya penyelesaian konflik secara damai juga sangat penting.Tanpa langkah-langkah yang serius dan berkelanjutan, risiko kehilangan satu generasi penuh di wilayah Papua akan semakin besar.